Atlet dan Ahli Kempo Sulut Bertarung di KONI
Atlet Shorinji Kempo Perkemi Sulawesi Utara (Sulut) Susiana Mopangga dan Wakil Ketua Umum Perkemi Sulut Deidy Katili memukau seluruh pengunjung
Penulis: Alexander_Pattyranie | Editor: Andrew_Pattymahu
Laporan Wartawan Tribun Manado Alfa Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO - Atlet Shorinji Kempo Perkemi Sulawesi Utara (Sulut) Susiana Mopangga dan Wakil Ketua Umum Perkemi Sulut Deidy Katili memukau seluruh pengunjung dalam kegiatan Gasuku Daerah Kempo Sulut di gedung olahraga KONI Sulut, Jalan Ahmad Yani Sari Manado, Minggu (10/4).
Kedua orang ini adu keahlian Kempo di arena setelah sejumlah peserta Gasuku bertarung untuk kenaikan sabuk.
Pasalnya, Susiana merupakan atlet yang lolos ke PON XIX Jawa Barat. Sedangkan Deidy merupakan satu dari dua orang di Sulut yang memiliki tingkat tertinggi.
Suasana pun menjadi tegang, Susiana melancarkan serangan, Deidy terus menangkisnya tiba-tiba Deidy berhasil menangkap lengan kanan Susiana lalu memutarkan badannya dan membantingnya ke lantai.
Namun, Susiana dengan mudah membalikkan tubuh ketika di udara sehingga saat tubuhnya jatuh ke lantai dalam posisi berdiri tanpa merasa kesulitan.
Para hadirin pun terpukau dan memberikan tepuk tangan meriah namun pada kesempatan itu Susiana tak membalasnya untuk menjaga kondisi tubuh menghadapi PON XIX.
Kegiatan ini rutin dilakukan setiap empat bulan dan diikuti sebanyak 15 dojo atau perguruan yang dipusatkan di Kota Manado untuk kenaikan sabuk dan penyeragaman teknik Kempo.
"Juga membahas berbagai teknik supaya setiap dojo tekniknya sama baik teknik keras atau teknik lunak," terang Deidy Katili.
Kegiatan itu diikuti sebanyak 310 orang yang datang dari berbagai daerah di Sulut dan sebanyak 158 peserta di antaranya, mengikuti ujian kenaikan sabuk.
"Perkemi ada ketambahan dua dojo baru yakni Tomohon dan Bolaang Mongondow. Kali ini hanya Sitaro yang tak sempat ikut, alasannya karena jauh, tapi mereka bisa ujian susulan," beber Dosen Fakultas MIPA Unsrat Manado ini.
Deidy menambahkan, syarat kenaikan sabuk yakni setiap pesertanya harus menguasai pelajaran di tingkatnya.
"Saya harap mereka lebih banyak berlatih karena dua puluh tahun mendatang, mereka yang akan menggantikan kita," harap dia. (alp)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/kempo_20160411_001031.jpg)