Tribun Manado TV
Batu Irana, Telapak Kaki Peninggalan Leluhur
Sekilas tak ada yang istimewa pada batu setinggi satu meter yang berada di pesisir Pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara.
Penulis: Alexander_Pattyranie | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sekilas tak ada yang istimewa pada batu setinggi satu meter yang berada di pesisir Pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara. Namun bila dilihat dari arah timur, dua telapak kaki terlihat membekas pada batu yang keras itu.
Warga yang tinggal di sekitar pesisir pantai itu menyebutnya Batu Irana. Batu yang sudah dijadikan situs sejarah oleh Pemerintah Kota Manado dipercayai warga setempat sebagai tempat kaki bagi leluhur mereka.
"Batu Irana merupakan bahasa Bantik yang artinya tanda telapak kaki dari leluhur Bantik dulu atas sebuah kejadian," ujar Dr Denny Sege (77), Ketua Aliansi Masyarakat Adat Bantik ditemui Tribun Manado di kediamannya, Lingkungan VII Kelurahan Malalayang I Kecamatan Malalayang Manado, Kamis (7/4/2016).
Menurut Sege berdasarkan kisah sub-etnis Bantik Suku Minahasa yang telah disahkan pada paripurna para tokohnya, di lokasi batu itu pada ribuan tahun silam merupakan tempat para leluhur Bantik berjaga.
Pada masa itu, seluruh bebatuan itu tersebar dengan berbagai ukuran, ada yang lebar, dan ada yang tinggi, dan terletak di tepi pantai.
"Dotu Bantik antara lain Dotu Tumampasa dan Dotu Kaburo, mengantisipasi musuh, baik Sedong (bajak laut) dan Seke (musuh dari darat)," beber dia.
Di lokasi itu, lanjut dia, kedua dotu ini duduk di sebuah batu dan bersandar sehingga terdapat bentuk pinggul, dan satu batu lainnya yang digunakan sebagai tempat menapakkan kaki yang kini disebut Batu Irana.
Di sela berjaga, setiap hari mereka duduk sembari berbincang untuk mengamankan wilayah Masyarakat Bantik yang dulunya disebut Minanga dari musuh yang ingin menjarahnya.
"Mau bilang mitos, tapi ada buktinya," terang dia, hingga ia pun bersama tokoh adat lainnya menggelar paripurna membahas cerita tersebut untuk disahkan. (tribun manado/alexander pattyranie)