Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Mabuk Lem dan Obat Batuk

Saya Sudah Isap 300 Kaleng Lem

Ia sudah bertahun-tahun lama mengkonsumsi obat batuk dan mengisap lem. Ia menjadi pecandu lem dan obat batuk.

Penulis: Aldi Ponge | Editor:
Net
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - "Masih lebih bagus obat batuk. Obat itu mudah didapat dan efek halusinasinya lebih lama. Kalau isap lem efeknya hanya beberapa menit saja, tapi sakit kepalanya lama."

Pengakuan ini disampaikan AM, seorang remaja pelajar SLTA yang tinggal di Bolaang Mongondow Timur (Boltim) kepada Tribun Manado, Selasa (9/2).

Ia sudah bertahun-tahun lama mengkonsumsi obat batuk dan mengisap lem. Ia menjadi pecandu lem dan obat batuk.

Tiga tahun lalu, saat ia masih duduk di bangku kelas dua SMP adalah awal saat ia mengenal obat batuk sebagai obat untuk disalahgunakan demi efek mabuk.

Kala itu jam istirahat sekolah, rekannya menghampiri lalu menawarkan obat batuk cair. Bersama sejumlah rekannya, termasuk rekan wanita, ia pun mencoba meminum beberapa saset.

AM merasakan efek luar biasa usai mengonsumsi obat dekstrometrofan, penekan batuk (anti tusif). Selanjutnya, ia dan rekannya mengikuti pelajaran dalam kelas dalam keadaan mabuk.

Tubuhnya agak lemas, mengantuk, dan ada rasa gembira dalam dirinya. Obat batuk yang ia konsumsi banyak itu membuat AM dan sejumlah rekannya 'melayang'.

Seiring waktu, dosis lem dan obat batuk terus meningkat. Lalu ia menghabiskan dua kaleng lem per hari. Untuk penyalahgunaan obat batuk Komix saset, sudah tak terhitung jumlahnya yang diminum.

"Paling sedikit sekitar 300 kaleng pernah saya hirup, hampir tiap hari saya menggunakan lem, begitu pun obat batuk. Dua-duanya saya pakai setiap hari," ujarnya.

Ia mengaku sejak beberapa waktu sudah berusaha berhenti, sudah beberapa hari tak mengisap lem atau pun minum obat batuk.

Lain lagi dengan kisah seorang remaja yang mengaku bernama Angel. Ia seorang waria yang setiap malam beroperasi di Taman Segitiga Pertigaan Depan Hotel Ramayana Kotamobagu.

Berulang kali ditangkap oleh petugas Satpol PP karena kedapatan menghirup lem. Ia satu dari ratusan anak pecandu lem yang masuk kategori parah. Sehari tak isap lem, tubuhnya akan sakit.

"Sebenarnya saya bosan dan malu selalu ditangkap Sat Pol PP, namun mau bagaimana lagi. Kalau hirup lem di rumah pasti dimarahi orangtua," ujar Angel beberapa saat setelah ditangkap petugas Satpol PP, Selasa (9/2) lalu.

Angel mengaku tidak tahu kapan bisa berhenti mengisap perekat yang mengandung Lysergic Acid Diethylamide (LSD) atau zat halusinogen berbahaya itu. Ia mengaku tahu jika efek fatal mengisap lem tersebut adalah kematian.

"Seminggu paling sedikit saya isap tiga kaleng lem. Memang ada yang mengonsumsinya sampai mati. Itu karena mereka menghayal dan tak bisa mengendalikan diri. Kalau saya sudah isap lem, tak mau jalan-jalan," ujarnya.

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved