Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Di Manado, Perda Sampah Bagai "Macan Ompong"

"Pemerintah not action, talk only (NATO), tidak ada pendidikan kebersihan atau kepedulian sampah kepada masyarakat."

Penulis: | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO/FERDINAD RANTI
Jalan ring road I Manado banyak sampah yang dibuang oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kepala Dinas Kebersihan Kota Manado Julises Oehlers mendapat serangan pertanyaan dari Ketua Safary Tourist Sulawesi Utara Jeremmy Barnes, pada kegiatan Konsultasi Draft Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021 di Ruang Serbaguna Pemerintah Kota Manado, Rabu (23/3).

Menurut Jeremmy sampah di Manado sudah sangat mengkhawatirkan dan selama ini ia menilai kurangnya aksi Pemerintah dalam hal ini Dinas Kebersihan dalam upaya penindakan kebersihan dalam Kota.

"Pemerintah not action, talk only (NATO), tidak ada pendidikan kebersihan atau kepedulian sampah kepada masyarakat. Ini merupakan serangan jangka panjang yang tak pernah ada solusinya,"ungkap Jeremmy, Kamis (23/3).

Menurut dia, pemerintah harus benar-benar seirus dan masyarakat Kota wajib merasa malu dengan situasi Kota yang kotor. Hal ini juga mempengaruhi turis yang datang, mereka mengeluhkan keberadaan sampah di laut, sungai, dan samping jalan.

"Saya bertanya sejauh mana kepedulian masyarakat dan Pemerintah terhadap masalah ini. Saya melihat dan turis menyatakan Kota Manado semakin kotor, 'jorok penuh sampah," ujar Jeremmy yang dengan bahasa Indonesia bercampung bahasa Inggris.

Dia mengatakan, pemerintah harus serius sebab warga asing juga ikut peduli dengan kebersihan daerah ini. Paling mencolok adalah keberadaan sampah di samping dan dasar sungai, dan kebiasaan membuang sampah di sungai sudah dianggap biasa dan wajar oleh masyarakat

"Kebiasaan favorit ini harus dihilangkan, saya minta denda sampah Rp 1 juta itu diefektifkan, jangan menghalagi atau melambatkan perdanya. Bagi saya selama ini Pihak Kebersihan loser (kalah), tak mampu membersihkan kota ini,"jelas Jeremmy.

Kepala Dinas Kebersihan Kota Manado Julises Oehlers yang ikut dalam kegiatan ini menjelaskan, banyak sarana angkut sampah yang rusak, namun selama ini mereka mengupayakan untuk memaksimalkannya.

"Sampah di Manado ada 350 ton per hari, armada yang tersisa ada 50 tapi banyak yang rusak. Namun kami sudah berusaha mengaktifkan semuannya, setiap pagi kita patroli mulai dari ujung Selatan menuju ujung utara Kota Manado untuk memantau keberadaan sampah," ujar Julises.

Di balik itu, Julises mengakui bahwa Perda sampah memang ompong, selama ini tidak bisa menindak pelanggar. Apalagi mereka menggunakan prioritas jangka panjang bukan jangka pendek.

"Harus bisa membedakan regulasi dan penindakan. Pengelolaan bak sampah di TPA tidak lagi efektif, kita bayar penyapu jalan saja perbulan Rp 21 miliar. Padahal kita masih butuh anggaran sebesar Rp 6 miliar," ujar Julises.

Sementara itu Asisten Satu Pemerintahan Kota Manado, Josua Pankerego dalam candaanya mengatakan keseriusan Kadis Kebersihan dalam hal ini patut di apresiasi, bahkan Pak Kadis sampai membotaki kepalanya.

"Karena peduli dengan kondisi seperti ini maka kadis membotaki kepalanya. Memang pertanyaan bagi Kadis Kebersihan, apakah punya nyali untuk membersihkan sampah di Kota Manado, kalau ada seperti apa," ungkap Pangkerego. (Tribun Manado/Felix Tendeken)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved