Permesta Itu Pejuang Bukan Pemberontak
Mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima) diajak berdialog soal nilai perjuangan semesta (Permesta).
Penulis: Alpen_Martinus | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNAMANADO.CO.ID, TONDANO - Mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima) diajak berdialog soal nilai perjuangan semesta (Permesta) terkait kesejarahan tahun 2016, di ruang kuliah bersama Unima, Kamis (10/3).
Dialog yang mengambil tema "Melestarikan Nilai-nilai Perjuangan Semesta Mengawal Ideologi Pancasila" diselenggarakan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) bekerjasama dengan Unima, dan Garda Inti Permesta.
Dialog yang dibuka oleh Prof Pilotheus Tuerah tersebut nampak dihadiri oleh mahasiswa Unima, pemerhati sejarah dan budaya Minahasa, dosen, serta peserta lainnya. Sementara pemateri adalah Prog Adolf Sinolungan mantan Rektor IKIP, Kolonel Inf Theo Kawatu mewakili Korem 131 Santiago, Mesak Komongkila Sekretaris Kesbang Provinsi Sulut, dan Star Wowor Staf Ahli Pemprov Sulut.
Dalam sambutannya, Prof Tuerah mengatakan, bahwa dialog ini sangat baik untuk melestarikan nilai perjuangkan Permesta. "Banyak yang berpikir bahwa Permesta itu adalah pemberontakan tanpa mereka tahu nilai luhur perjuangan Permesta," jelasnya.
Ia mengatakan, dialog ini merupakan cara untuk memahami konsep dasar pemikiran perjuangan Permesta yang kini digunakan oleh bangsa Indonesia. "Sekarang apa yang menjadi pemikiran Permesta sementara diterapkan yaitu otonomi daerah, pemerataan pembangunan," ujarnya.
Menurutnya, apa yang diperjuangkan oleh Permesta merupakan konsep pemikiran untuk negara, supaya jangan mudah terpengaruh terhadap konsep dari luar. "Apa yang sudah digariskan Permesta sudah dirasakan sekarang," kata dia.
Satu di antara empat pembicara yaitu Prof Adolf Sinolungan mengatakan, bahwa dialog ini digelar untuk mewariskan nilai perjuangan semesta kepada generasi muda dalam menjawab tantangan dan permasalahan bangsa. "Mereka juga dibuat untuk memahami sejarah lokal dalam konteks pembangunan bangsa serta upaya mewujudkan masyarakat adil dan makmur," jelasnya.
Ia juga berharap agar dialog tersebut akan memacu tumbuhnya ide baru sebagai nilai dasar Pancasila yang relevan dengan tantangan perubahan. "Seperti ide baru Permesta untuk menegakkan keadilan dalam pemerataan pembangunan demi keutuhan bangsa dan keselamatan negara," ujarnya.
Ketua BPNB Manado, Rusli Manorek mengatakan, bahwa dialog ini untuk mengangkat nilai juang konsep ideologi perjuang semesta. "Supaya kita memperoleh nilai juang yang saat ini berlaku yaitu otonomi daerah," kata dia.
Ia menambahkan, nantinya hasil dari dialog terebut akan diangkat dan ditransfer buat generasi muda. "Sehingga pemahaman terhadap Permesta jangan keliru jangan disebut sebagai pemberontak tapi ada tanda kutip, sebab mereka itu memperjuangkan pemerataan pembangunan, dan waktu itu dianggap pemberontak, kita perlu berikan penjernihan masalah tersebut," jelas dia. Ia menambahkan, ada beberapa kesimpulan yang akan ditindaklanjuti untuk generasi muda. "Kemerdekaan kita bisa isi dengan nilai juang, " jelas dia.
Edward Rumteh, mahasiswa sejarah mengatakan, dialog ini memperjelas apa sebebenarnya Permesta itu dan apa yang mereka perjuangkan. "Makanya di sini sudah diperjelas, bahwa sebenarnya Permesta itu memperjuangkan kesetaraan pembangunan dan bukan pemberontak, dan tadi mereka minta agar nama mereka disebut sebagai pejuang bukan pemberontak," katanya. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/dialog-permesta_20160310_185023.jpg)