20 Karung Daun Cengkih Jadi Enam Kilogram Minyak
Potensi cengkih Boltim tak bisa diragukan lagi. Hasil panen cengkih telah terbukti mensejaterahkan warga Boltim.
Penulis: Aldi Ponge | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Aldi Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Potensi cengkih Boltim tak bisa diragukan lagi. Hasil panen cengkih telah terbukti mensejaterahkan warga Boltim. Namun warga Boltim justru belum bisa memaksimalkan pengolahan daun cengkih.
SIAPA sangka, daun cengkih kering yang dianggap sampah justru bisa memberikan dampak ekonomi. Namun ternyata warga dari luar daerah yang memanfaatkan 'sampah' tersebut untuk diolah menjadi minyak.
Beberapa lokasi pabrik penyulingan minyak cengkih ini bisa ditemui di Desa Atoga, Desa Buyandi, Desa Tombolikat, Desa Bukaka.
"Kami sudah bagi wilayah yang menjadi lokasi mengambil daun (cengkih) kering," kata pekerja bernama Larno (28), Kamis (10/3).
Dia mengungkapkan daun cengkih tersebut dikumpulkannya bersama tiga rekannya dari perkebunan cengkih di desa-desa Kecamatan Tutuyan. Setiap hari mereka menyapu daun-daun kering yang berserahkan dibawah pohon cengkoh warga.
"Ada yang kasih gratis, ada yang minta uang rokok ada yang minta obat dan ada yang minta minyak," kata Larno.
Bukan tanpa halangan, pria asal Solo ini mengaku pernah dipukul pemilik kebun karena mengambil daun cengkih kering. "Saya dipukul karena salah. Saat itu musim kemarau, saya tak baca larangan," kata dia.
Daun-daun kering tersebut lalu dimasukkan dalam tungku penyulingan dan dimasak hingga delapan jam untuk menghasilkan uap yang akan dijadikan minyak cengkih.
"Setiap hari dua puluh karung ukuran besar daun cengkih dimasukkan di dalam tong baja ini. Hasilnya ada tiga hingga enam kilogram (minyak mentah)," bebernya.
Hasil penyulingan tersebut dikumpulkan bersama hasil penyulingan di tempat lain lalu dikirimkan ke Jakarta untuk diolah. "Minyak ini juga diekspor hingga keluar negeri, tapi kita bersaing. Banyak di daerah lain juga ada usaha seperti ini," bebernya.
Hasil usaha ini tergantung musim dan kualitas daun. Jika musim hujan maka hasilnya tak maksimal dan proses penyulingan pun lama. "Daun terbaik itu yang baru jatuh, masih merah dan tebal. Kalau musim hujan kadarnya menurun," tuturnya.
Pria asal Solo yang sudah kerja di Boltim selama dua tahun ini mengungkapkan upah mereka sehari hanya Rp 70 ribu ditambah gaji lembur. "Dibanding di Jawa, ini cukup lumayan hasilnya. Tiap bulan saya kirim uang ke istri di Jawa. Kontrak kami 10 bulan sekali diperbaharui. Tapi di sini tak ada televisi jadi habis kerja langsung tidur karena sunyi," bebernya.
Warga Boltim, Medy Makaluensenge mengatakan keterbatasan warga Boltim yaitu pengetahuan dan ketrampilan terkait pengelolaan daun cengkoh tersebut.
"Saya sempat tanya mereka, ternyata peralatan juga mereka datangkan dari Jawa. Jadi wajar kalau usaha minyak dari daun cengkeh ini dikuasai mereka," ucapnya.
Katanya jika diberikan pengetahuan dan keterampilan oleh instansi terkait. Maka usaha ini akan beralih ke warga pribumi. "Tentu pemasarannya juga harus dibuka. Jika usaha ini dikuasai warga Boltim justru meningkatkan kesejateraan masyarakat. Kita tahu banyaknya pohon cengkeh di Boltim," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/penyulingan-minyak-daun-cengkih_20160310_210558.jpg)