Tanggapi Keluhan Warga dan Sopir Angkot Manado Soal Penerapan One Way, "Itu Bukan Urusan Kami"
"Dari Karombasan saya harus dua kali naik angkot, pasalnya mereka wajib berputar di zero point. Dan kalau sudah disitu sopirnya juga sering mengeluh."
Penulis: | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Ditanya tentang keluhan sopir angkot dan warga Kota Manado terkait penerapan jalur searah (one way), inilah tanggapan Kepala Dinas Perhubungan Kota Manado Vecky Koagow.
"Itu urusan pihak kepolisian, bukan urusan kami," ungkap Koagow, Jumat (19/02).
Janji Koagow untuk menerbitkan perwako untuk jalur one way tak kunjung terealisasi, padahal saat ini penerapan jalur satu arah sudah dilaksakan lebih kurang 12 hari.
Sementara itu puluhan keluhan ditujukan ke jajaran kedinasan ini tanpa ada penjelasan yang memuaskan. Malahan beberapa kali Koagow menghindari wartawan dengan alasan sedang sibuk.
"Kami sangat kesulitan untuk berlalulintas, seperti yang kami rasakan dimana tiap hari harus terjebak dalam kemacetan di perempatan zero point," jelas Agus Sopir Paal Dua.
Hal serupa juga disampaikan oleh Adinda pekerja swasta di daerah jalan Sam Ratulangi. Menurut dia selama ini sangat kesulitan untuk melakukan aktifitas dengan perubahan jalur ini.
"Dari Karombasan saya harus dua kali naik angkot, pasalnya mereka wajib berputar di zero point. Dan kalau sudah disitu sopirnya juga sering mengeluh sebab mendapatkan penumpang dengan jumlah kecil,"jelas Dinda.
Hal yang sama juga muncul dari bibir Nia pengusaha didaerah Wisata Kuliner Jalan Wakeke. Menurut dia perubahan jalur tersebut sangat berdampak bagi usaha mereka, dimana pelanggan tiap hari semakin berkurang.
"Perubahan jalur ini sangat berdampak bagi usaha kami, yang mau singgah makan hanya sebagian kecil saja. Padahal dulu sebelum ada perubahan jalur seperti ini, banyak pelanggan yang mampir,"ungkap Nia dengan Wajah kesal.
Apalagi bagi dia dulunya sebelum ada perubahan jalur posisi mereka adalah posisi strategis, dimana dijadikan sebagai icon wisata kuliner yang dikenal luas oleh masyarakat.
"Kalau mau datang ke Kota Manado tidak lengkap jika tidak merasakan tinutuan atau bubur Manado asli, tapi kalau sudah seperti ini bakalan bangkrut usaha kami,"jelas Nia lagi dengan mata berkaca - kaca. ( Tribun Manado/Felix Tendeken)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/jalur-searah-membingungkan_20160208_152235.jpg)