TAJUK TAMU: 2015, Tahun yang Berat Bagi Ekonomi dan Sosial Sulut
Tahun 2015 yang sebentar akan ditinggalkan merupakan tahun yang berat bagi kehidupan ekonomi dan sosial di Sulawesi Utara (Sulut) .
Penulis: | Editor:
REFLEKSI DI PENGHUJUNG TAHUN 2015
Oleh :
DR. Agus Tony Poputra
Ekonom BNI 46 Wilayah Manado
TRIBUNMANADO.CO.ID - Tahun 2015 yang sebentar akan ditinggalkan merupakan tahun yang berat bagi kehidupan ekonomi dan sosial di Sulawesi Utara (Sulut) dimana telah terjadi peningkatan angka pengangguran dan kemiskinan.
Kondisi yang kurang menguntungkan ini disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari krisis ekonomi global, melemahnya perekonomian nasional, menurunnya nilai tukar Rupiah, transisi pemerintah nasional, lambatnya realisasi belanja pemerintah, larangan alih muatan di tengah laut oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta berbagai faktor lainnya.
Meskipun merupakan tahun yang berat, data Badan Pusat Statistik memperlihatkan pertumbuhan ekonomi Sulut selama 3 triwulan pertama tahun 2015 cukup baik. Berdasarkan angka pertumbuhan 3 triwulan tersebut ditambah prediksi pertumbuhan ekonomi Triwulan 4, maka diperkirakan hingga akhir tahun 2015, ekonomi Sulut dapat tumbuh pada kisaran 6,35-6,55 persen dimana lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2014 (6,31%).
Memasuki tahun 2016, perekonomian Indonesia memperlihatkan tanda-tanda membaik. Salah satunya adalah menguatnya Rupiah terhadap USD serta capaian penerimaan pajak di atas Rp 1.000 triliun sehingga dapat mengurangi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Di tahun 2016, perekonomian Indonesia diperkirakan akan membaik jika komitmen Presiden Jokowi untuk memulai belanja infrastruktur pada akhir Januari 2016 dipatuhi oleh jajaran pemerintah pusat maupun daerah serta beroperasinya Tol Laut sebagaimana diharapkan. Ini semua akan berdampak positif bagi Sulut.
Belanja infrastruktur di Sulut tidak sekedar menciptakan lapangan kerja baru di saat konstruksi serta memperkuat multiplier effect dari belanja pemerintah, namun lebih daripada itu keberadaan infrastruktur baru terutama listrik akan memperbesar peluang munculnya bisnis-bisnis serta lapangan kerja baru yang berkelanjutan di provinsi ini. Diperkirakan ekonomi Sulut pada tahun 2016 dapat tumbuh pada kisaran 6,8-7,2 persen dengan catatan tidak ada gangguan politik dan keamanan yang signifikan serta terkendalinya suplai bahan pokok.
Terkait dengan pembangunan infrastruktur serta memperbesarnya kue ekonomi Sulut, muncul pertanyaan yang menggelitik, yaitu siapa yang akan menikmati kue pembangunan tersebut? Apakah pengusaha dan masyarakat lokal ataukah pendatang dari daerah lain, bahkan dari negara lain sehubungan dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)?
Sepanjang pengusaha lokal dan tenaga kerja di Sulut melakukan kegiatan dan usaha seperti apa adanya, maka kue tersebut akan dinikmati pihak lain. Pemerintah sulit untuk melarang masyarakat dari daerah lain atau dari negara-negara Asean untuk berusaha dan bekerja di Sulut karena Sulut adalah bagian dari NKRI dan juga telah menandatangani kesepakatan MEA. Pemerintah bisa saja memperkuat Balai Latihan yang memprioritaskan pada peningkatan kualitas tenaga kerja lokal, namun upaya itu akan sia-sia tanpa adanya kesadaran tenaga kerja lokal untuk mengubah mentalitasnya.
Pada dasarnya, kualitas dasar sumber daya manusia Sulut berada di atas rata-rata nasional karena kebanyakan sejak kecil mendapat asupan gizi yang umumnya lebih baik. Namun, keunggulan tersebut tidak dikembangkan lebih lanjut menjadi kualitas kerja yang tinggi oleh sebagian besar sumber daya manusia Sulut karena dimanjakan oleh kondisi alam yang dimiliki serta rendahnya persaingan. Kenikmatan yang diberikan alam ini tidak berlangsung terus di masa mendatang seiring degradasi sumber daya alam serta meningkatnya iklim persaingan.
Dalam dunia kerja, muncul banyak keluhan terkait dengan kualitas tenaga kerja Sulut yang mencakup etos kerja, dedikasi, dan integritas. Ini telah mendorong banyak pengusaha menggunakan tenaga kerja dari luar Sulut. Secara kasat mata peralihan tenaga kerja ini dapat terlihat. Oleh sebab itu, dibutuhkan perubahan paradigma pada sumber daya manusia di daerah ini sebelum semuanya menjadi terlambat. Dan akhir tahun 2015 ini sebaiknya “perubahan paradigm” dijadikan resolusi bagi tahun yang baru sehingga sumber daya Sulut berjaya di daerah sendiri dan di daerah lain, bahkan di manca negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Sulut secara berkelanjutan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/proyek-besar-di-sulut_20150923_224337.jpg)