Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pastor Marsel: Jadilah Martir dari Hal Kecil

Lokakarya fungsionaris komisi hubungan antar-agama (HAK) dan kepercayaan se-regio Manado, Amboina, dan Makassar (MAM) resmi dibuka di Hotel Travello.

Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/DAVID MANEWUS
Misa pembukaan yang juga misa peringatan wajib Santo Andreas Dung Lac, dan kawan-kawan, Imam dan Martir di Vietnam sesuai kalender liturgi Gereja Kristen Katolik Roma yang dipakai di seluruh dunia. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO -  Lokakarya fungsionaris komisi hubungan antar-agama (HAK) dan kepercayaan se-regio Manado, Amboina, dan Makassar (MAM) resmi dibuka di Hotel Travello, Selasa (24/11).

Pembukaan dimulai dengan misa yang juga misa peringatan wajib Santo Andreas Dung Lac, dan kawan-kawan, Imam dan Martir di Vietnam sesuai kalender liturgi Gereja Kristen Katolik Roma yang dipakai di seluruh dunia.

Misa dipimpin oleh Pastor Marsel Lintong sebagai Ketua Komisi Hubungan Antar-Agama dan Kepercayaan se-regio MAM sebagai selebran (pelayan) utama, Pastor Marsel Lolo Tandung, mantan komisi yang sama di keuskupan Makassar dan Pastor Paul Titirloloby, ketua komisi yang sama keuskupan Ambon sebagai conselebran (pelayan pembantu).

Kemartiran Santo Andreas Dung Lac kemudian menjadi inspirasi renungan pastor Marsel Lintong. Setiap agama katanya mempunyai cerita tentang martir.

"Kita harus tahu dan menyadari bahwa Gereja Kristen Katolik Roma dibangun atas darah marah martir. Karena itu ada adagium 'sanguis martyrum, semen Chistianorum' (darah para martir, benih kekristenan)," katanya.

Menurut Pastor Marsel Lintong, banyak umat Kristen Katolik di awal-awal kekristenan diberi makan singa, dibakar seperti lilin, dipancung dan dibunuh secara sadis yang lain. Itu semua sungguh menjadi penting dalam sejarah Gereja Kristen Katolik seperti kemartiran Santo Andreas Dung Lac.

Pertemuan lokakarya ini, kata Pastor Marsel merupakan pertemuan persaudaraan. Pertemuan itu untuk melihat kembali apa yang sudah dan sedang dilakukan Gereja untuk berupaya membangun pintu dialog agama. "Paus Fransiskus juga telah memberikan semangat dan spiritualitas Katolik," ujarnya.

Pastor juga menjelaskan pertemuan itu untuk lima puluh tahun dektrit nostra aetate. Dokumen itu dokumen penting Konsili Vatikan II tentang dialog antar umat beragama.

"Ketika menjadi imam, saya juga belajar menjadi martir. Tahbisan itu biasa tapi mempertahankan imamat itu menurut pendapat saya itu berat. Menjadi imam dipestakan dan pesta berhari-hari dengan biaya besar tapi setelah itu pengorbanan besar harus dilakukan," ujarnya.

Pastor Marsel kemudian kembali menyebut menjadi martir bisa dimulai dari hal-hal kecil termasuk di dalamnya mendoakan musuh. Menjadi martir juga katanya lebih banyak yang tidak diakui.

Sinode keluarga di Roma, kata Pastor Marsel juga menyebut kemartiran sebagai orang Katolik. Karena itu ia minta semua berkorban sungguh-sunguh. (dma)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved