Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kompol Brammy Rayakan HUT ke-29 Perkawinan Beda Agama

Kami ibarat asam di gunung, garam di laut, ketemunya di kuali

Penulis: David_Kusuma | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID - Perbedaan suku, budaya, dan agama dalam hidup perkawinan ternyata tidak membuat mahligai rumah tangga komisaris polisi (kompol) Brammy Tamalihis, Kepala Sepolisian Sektor (kapolsek) Urban Bolaang Uki berantakan. Brammy yang berdarah Nusa Utara-Minahasa itu bisa bersanding selama 29 tahun dengan sang istri yang berdarah Bugis. Brammy yang beragama Kristen Protestan (Gereja Pantekosta di Indonesia/GPdi) dan istri yang beragama Islam merayakan ulang tahun perkawinannya tepat di hari pahlawan, 10 November.

Persatuan kedua insan itu terjadi pada tahun 1986. Brammy yang bertugas sebagai polisi lalu lintas (polantas) di kepolisian Resort (polres) Kendari, Sulawesi Tenggara. Ia yang sering berjaga malam bertemu dengan sang istrinya, seorang bidan yang juga sering berjaga malam.

"Karena rumah sakit dekat, dan tidak ada taruna (kejadian perkara), ya sering bertamu ke rumah sakit. Kan sama-sama jaga malam," katanya dengan senyum semringah.

Tinggal 14 tahun di Sulawesi Tenggara, Brammy sangat mengenal sang istri juga dengan latar belakang budayanya. Pengenalan itu yang membuat mereka tetap bersatu walau ia sudah pindah Manado di tahun 2001 sedangkan sang istri nanti mengikutinya di tahun 2006.

"Ia masih lanjutkan cari gelar D3," katanya. Pemahaman, pengertian dan penerimaan latar belakang budaya baginya merupakan kunci dari semua itu. Dengan begitu katanya rumah tangga bisa menjadi langgeng.

"Saat pertemuan tokoh-tokoh agama beberapa waktu lalu, saya mengatakan saya selama setahun merayakan empat kali hari raya (Paskah, Natal, Idul Fitri, Idul Adha). Ratusan orang saya katakan yang datang dan para tokoh-tokoh agama dari berbagai agama itu tertawa," ujarnya.

Semua perbedaan itu, tidak membuat ketiga anaknya kekurangan kasih sayang. Dua anaknya kini sementara kuliah.

"Anak laki-laki pertama di Kotambagu sementara kuliah umurnya 25 tahun. Anak kedua sudah meninggal, ia laki-laki berumur 23 tahun. Yang ketiga perempuan 20 tahun yang kuliah di Kotamobagu," ujarnya.

Intinya, kata Brammy, suami istri itu harus saling melengkapi. Mereka harus sering berkomunikasi untuk mengerti dan memahami. Bahkan kata Brammy, suka orangnya berarti suka keluarganya. "Kami ibarat asam di gunung, garam di laut, ketemunya di kuali," ujarnya berkelakar. (david manewus)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved