Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Angka Kemiskinan Boltim Meningkat

Angka kemiskinan di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) meningkat sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS).

Penulis: Aldi Ponge | Editor:

Laporan wartawan Tribun Manado Aldi Ponge

TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Angka kemiskinan di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) meningkat sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Boltim, Mat Sunardi mengakui meningkatnya angka kemiskinan di Kabupaten Boltim.

"Sesuai data BPS angka kemiskinan pada 2013 sebanyak 4.600 jiwa naik pada 2014 menjadi 6.600. Tahun ini sementara diolah, mungkin akan dipublikasikan akhir bulan ini," jelasnya, pada Rabu (4/11)

Dia beralasan naiknya angka kemiskinan disebabkan gejolak ekonomi dan kenaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dua tahun terakhir. "BBM berapa kali naik, namun pendapatan relatif. Harga barang juga naik," tuturnya.

Dia mengatakan Pemda melalui Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TPKD) terus berkoordinasi dengan 10 satuan kerja yang menjadi mitra seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, Dinas Pertanian, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Catatan Sipil, dan Ketahanan Pangan, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa, dan Badan Pemberdayaan Perempuan, KB dan Perlindungan anak.

"Kita terus melakukan upaya penanggulangan kemiskinan dalam pencapaian target Milinium Developments Goals (MDGs) melakukan singkronisasi program dengan sepuluh satuan kerja yang bersentuhan langsung dengan masyarakat," jelasnya.

Dia menambahkan terjadi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengalami penurunan menjadi 63,12 pada 2014 dari 73,75 dari tahun sebelumnya.

"Penurunan IPM dan kenaikkan angka kemiskinan disebabkan karena dasar pembagian pada 2010. Kalau tahun sebelumnya menggunakkan pembagian tahun 2000. Untuk IPM juga disebabkan angka usia melek umur huruf dari 7 tahun menjadi 25 tahun," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala seksi perencanaan dan evaluasi Bappeda Propinsi Sulawesi Utara, Shalom Korompis mengatakan sesuai rilis BPS menyebutkan IPM Boltim berada diperingkat terakhir dari 15 Kabupaten Kota di Sulut.

"Boltim paling terkahir hanya karena BPS menggunakkan metode baru. Hal inilah yang menyebabkan juga IPM Sulut yang sebelumnya rangking dua secara nasional. Justru turun menjadi rangking tujuh nasional," bebernya

BPS sudah mengadopsi metode baru dengan tak menghitung lagi angka melek huruf masuk dalam indikator penilaian IPM. Penilaian justru pada harapan lama sekolah.

"Boltim menjadi menarik dengan angka kemiskinan hanya 6,9 persen dibawah Aulut yang masih 8,6 persen. Tapi kualitas IPM Boltim paling rendah. Jadi warga Boltim sudah kaya tapi pendidikan masih rendah. Rata-rata lama sekolah warga Boltim hanya 7,13 atau setara kelas satu SMP. Namun yang disurvei adalah warga diatas umur 25 tahun," bebernya.

Sesuai data terdapat 14 variabel kemiskinan non moneter seperti luas lantai per satuan keluarga, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, jamban, sumber air minum, penerangan yang digunakan, bahan bakar, frekuensi makan dalam sehari, kemampuan membeli daging dan susu dalam seminggu, kemampuan membeli pakaian baru, kemampuan berobat, lapangan pekerjaan kepala rumah tanggan, pendidikan kepala rumah tangga dan kepemilikan aset minimal Rp 500 ribu.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved