Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jembatan Bailey di Dendal-Tikala Baru Dibongkar

Saat masih ada jembatan bailey, sangat dekat ke sekolah. Tapi sekarang saya jadi sering terlambat.

Penulis: Alexander_Pattyranie | Editor:
TRIBUNMANADO/ALEXANDER PATTYRANIE
Jembatan bailey yang menghubungkan Tikala Baru dan Dendengan Dalam dibongkar. 

Laporan wartawan Tribun Manado Alexander Pattyranie

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO - Warga Kelurahan Dendengan Dalam dan Tikala Baru tak lama lagi bisa menikmati jembatan yang dulunya dihantam banjir bandang lalu diganti dengan jembatan bailey.

Namun, itu menjadi hal yang sangat sulit bagi sebagian besar pelajar yang tinggal di Dendengan Dalam yang bersekolah di Tikala Baru, maupun sebaliknya.

Seperti yang diungkapkan beberapa dari mereka di seputaran lokasi pembuatan jembatan itu, Minggu (1/11).

"Saat masih ada jembatan bailey, sangat dekat ke sekolah. Tapi sekarang saya jadi sering terlambat," ungkap Christo Angow (15), warga Lingkungan V Kelurahan Dendengan Dalam Kecamatan Pall Dua Manado.

Setiap ke sekolah, Christo menggunakan sepeda motor. Biasnya tak pernah terlambat tiba di sekolah. Namun akhir-akhir ini setelah jembatan dibongkar, ia harus berkendara melewati Jalan Martadinata.

"Bila banyak polisi (lalu lintas), terpaksa saya harus lewat di Kelurahan Pall Empat. Sangat jauh," keluh Siswa Kelas II Jurusan IPS SMA Advent Klabat ini.

Ia mengaku sangat sulit harus mengubah waktu berangkatnya ke sekolah, karena sudah terbiasa dengan waktu berangkat ke sekolah saat masih ada jembatan. Pasalnya, jembatan itu baru dibongkar sekitar empat hari yang lalu.

Hal senada dikatakan Ripka Makawimbang (16), Siswi Kelas III Jurusan Akuntansi SMK Advent Klabat yang tinggal di Lingkungan V Kelurahan Dendengan Dalam.

"Biasanya ke sekolah sangat dekat. Malah sekarang harus keliling jauh," keluh dia.

Ia menambahkan, setiap ke sekolah ia dan teman-teman sebayanya harus berjalan melintasi jembatan darurat yang sering ditagih Rp 1.000 untuk pelajar dan Rp 2.000 untuk dewasa.

"Tarif itu tertulis pada kotak uang yang diletakkan di jembatan darurat itu. Padahal kalau jembatan ada, tak perlu mengeluarkan biaya," kesal Ripka.

Ia juga mengesalkan pihak sopir mikrolet menaikkan biaya transportasi dengan alasan harus berjalan lebih jauh untuk tiba di Dendengan Dalam.

"Dulunya tarif Rp 4.000 tapi sekarang akibat tak ada jembatan, tarifnya jadi Rp 5.000," keluh dia.

Mereka berharap, jembatan tersebut bisa secepatnya selesai atau pemerintah bisa mencarikan solusi supaya ada penyebrangan sementara tanpa memungut biaya kepada mereka.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved