Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Mahasiswa UDK Prihatin Masalah Asap

Mereka menggelar aksi damai, Selasa (27/10/2015) hampir tengah hari dengan berjalan dari Bundaran Paris sampai di Depan Kampus UDK.

Penulis: Handhika Dawangi | Editor:
NET
Singapura juga terkena dampak kabut asap. 

Laporan wartawan Tribun Manado Handhika Dawangi

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU -  Puluhan mahasiswa Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) bersama dengan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Manguni Green Community (MGC) prihatin dengan kondisi di Sumatera dan Kalimantan.

Mereka menggelar aksi damai, Selasa (27/10/2015) hampir tengah hari dengan berjalan dari Bundaran Paris sampai di Depan Kampus UDK, dengan membagikan selebaran kepada pejalan kaki maupun pengendara mobil dan sepeda motor.

Dalam selebaran mereka meminta pemerintah Kotamobagu dan seluruh masyarakat agar dapat melakukan tindakan positif mengurangi asap di dua daerah tadi dan mengantisipasi jangan sampai terjadi di Bolaang Mongondow Raya (BMR).

Selama satu jam para mahasiswa ini menggelar aksinya. Selain membagikan selebaran, mereka juga membawa spanduk karton yang bertulisan tuntutannya.

Satu diantaranya tertulis,"Bebaskan Indonesia dari kabut asap kebakaran hutan dan tindak tegas para pelaku pembakaran hutan.

Tak peduli panas matahari saat itu
menyengat kulit mereka. Aksi terus dilakukan hingga ke Depan Kampus mereka. Acungan jempol diberikan penerima selebaran kepada para mahasiswa ini, baik anak-anak, dewasa, sampai lanjut usia.

Kendaraan berpelat merah Kotamobagu pun tak luput dari aksi tersebut. Setelah dihentikan, selanjutnya mobil tersebut ditempeli spanduk karton bertulisan sindiran kepada Pemerintah Kotamobagu.

Lipu modarit lipu mosehat, asal dia popoyokan. "Maksudnya itu Kotamobagu ada slogan lipu modarit lipu mosehat, kampung bersih kampung sehat. Nah ditambah ada kabut asap, jadi popoyokan," ujar Atnan Ambaru, mahasiswa UDK yang terlibat aksi.

Dikatakan Atnan, alasannya terlibat dalam aksi solidaritas tersebut yakni turut prihatin dengan Sumatera dan Kalimantan karena sudah banyak korban berjatuhan.

"Itu karena mereka terkena kabut asap, terutama para bayi. Nah di BMR juga kebakaran hutan terutama di cagar alam Gunung Ambang mulai terjadi. Dengan adanya aksi ini kiranya pemerintah jangan hanya diam saja, segera selamatkan hutan kita," ungkapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved