Jimran Tetap Melaut Melawan Kerasnya Hidup
Kerasnya menjalani hidup, Jimran Pakaya, pria berusia 35 tahun tetap berusaha demi tiga orang anak dan istrinya.
Penulis: Alexander_Pattyranie | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kerasnya menjalani hidup, Jimran Pakaya, pria berusia 35 tahun tetap berusaha demi tiga orang anak dan istrinya menjadi korban penggusuran di Kampung Bobo Kelurahan Maasing Kecamatan Tuminting Manado.
Saat ditemui, Minggu (27/9), ia sedang berbincang bersama beberapa warga lainnya yang berstatus sama di depan masjid di eks-Kampung Bobo itu.
"Saat ini saya bersama istri dan anak tinggal di kosan di Kelurahan Bailang," ungkap Jimran yang saat itu menunggu sore untuk melaut.
Ia mengaku, sejak berusia delapan tahun, ikut bersama orangtua dan tinggal di lahan itu. Pada usia itu ia kemudian masuk sekolah dasar kelas satu di dekat kampung itu.
Orangtua pun banting tulang untuk membiayai keperluan sehari-hari dia bersama empat saudara lainnya, hingga duduk menginjak bangku pendidikan sekolah menengah pertama, ia memutuskan untuk bekerja karena orangtua yang berprofesi sebagai nelayan, tak mampu lagi membiayai sekolahnya.
Ia pun mengikuti jejak ayahnya menjadi nelayan hingga memiliki istri dan tiga orang anak, dengan penghasilannya mereka tetap tinggal di rumah orangtua.
Setiap siang hari, ia bersama seorang temannya mulai melaut, menggunakan perahu katinting mereka pergi ke tengah laut untuk mengambil jala yang telah ditinggalkan hari sebelumnya.
Namun, jumlah ikan yang mereka dapatkan tak menentu. "Tergantung, kadang hanya 150 ekor atau paling banyak 200 ekor ikan," beber Jimran.
Menurutnya, jumlah tersebut bila dijual mendapatkan uang sekitar Rp 150 ribu, namun jumlah tersebut harus dipotong beberapa liter bensin untuk mesin katinting, kemudian sisanya dibagi tiga.
"Bagi tiga, saya, teman saya dan pemilik perahu," terang dia kemudian tersenyum.
Namun, untuk mendapatkan sejumlah uang itu, mereka harus berjuang melawan tingginya ombak dengan fenomena alam ini, atau cuaca panas di atas perahu tanpa penutup itu.
"Terkadang, jala yang kami tinggalkan, hingga kami datang, masih kosong," keluh Jimran meratapi nasib.
Penghasilan per hari yang ia dapatkan itu, cuma untuk membeli beras, minyak goreng, membiayai sekolah anaknya, dan membayar kosan mereka.
Untuk sementara, mereka masih berharap pada proses hukum yang berlanjut, warga lainnya juga mengaku mengesalkan tindakan pemerintah yang menggusur mereka yang notabene warga Kota Manado, sedangkan pengungsi dari luar pulau diterima, diberi tempat tinggal, dan dibiayai hidupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/rata-tanah_20150805_124602.jpg)