Bukan Cabai Biasa, Cabai HRsa Satu Pucuk Sekitar 15 Buah
Tanaman cabai rawit ini tidak biasa. Jika melihat sepintas saja, siapapun pasti akan tertarik ingin melihat lebih jelas tanaman cabai rawit ini.
Penulis: | Editor:
Lapora Wartawan Tribun Manado Herviansyah
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO-Tanaman cabai rawit ini tidak biasa. Jika melihat sepintas saja, siapapun pasti akan tertarik ingin melihat lebih jelas tanaman cabai rawit ini.
Bukan karena bentuk buahnya yang aneh, melainkan jumlah buah dalam satu pucuk daun yang memang berbeda dengan cabai rawit biasanya.
Sehingga dalam satu pohon, lebih banyak cabai rawitnya dibandingkan dengan daunnya. Warna hijau dan merah cabai rawit, semakin betah pengunjung untuk terus memandang dan mengamatinya.
"Bagus sekali cabai rawitnya, buahnya besar-besar dan banyak. Beda dengan cabai biasanya," ujar Manda seorang pengunjung Pameran Pembangunan Sulut.
Dia pun mengamati pohon Cabai Rawit tersebut mulai dari batang, daun dan buahnya. Sesekali tangannya memegang cabai rawit. Rasa ingin memetik pun timbul dalam dirinya, karena buahnya yang begitu banyak.
Pohon cabai rawit tersebut di pamerkan pada stan Pemda Sangihe. Ada sekitar 10 pohon cabai rawit yang ditanam dalam pot, bersebelahan dengan tanaman pala dan talas raja, yang merupakan komoditas unggulan kabupaten tersebut.
Staf Teknis Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Sangihe Frans Hiebert satu di antara yang menjaga stan mengungkapkan .Jika pohon cabai rawit biasa pada pucuknya hanya berbuah satu, namun pada HRsa sekitar 15 buah.
Menurutnya cabai rawit jenis baru ini merupakan persilangan antara cabai hibrida dan lokal di Sangihe, sehingga menghasilkan pohon cabai dengan kualitas unggul. Di antaranya tahan terhadap cuaca, penyakit dan berbuah banyak. "Dalam satu pohon bisa menghasilkan tiga kilogram cabai rawit," ungkapnya.
Untuk penanamannya pun cukup mudah biji cabai rawit sebelum ditanam, direndam dulu dengan air hangat selama delapan jam, kemudian setelah itu baru disemai. Hal ini dilakukan agar biji cabai bih cepat menjadi tunas. "Hanya butuh waktu empat hari untuk menjadi tunas, jika sudah direndam dengan air hangat," katanya.
Kalau tidak direndam, dari biji untuk tumbuh menjadi tunas membutuhkan waktu dua minggu. "Ini sudah saya buktikan," tuturnya.
Jika telah menjadi tunas, tunggu empat bulan untuk kemudian bisa memanen cabai rawit unggulan ini. "Jika ditanam di bawah pohon tidak masalah, cabai tumbuh dengan bagus," ungkapnya.
Dalam satu hektare yang terdiri dari 10.000 pohon bisa menghasilkan tiga ton cabai rawit yang siap dijual. Hal ini lebih banyak dibandingkan dengan cabai rawit biasa yang hanya menghasilkan dua ton cabai rawit. "Untuk itu di Sangihe saat ini sedang mengembangkan cabai rawit jenis ini," tuturnya.
Untuk pengembangan pihaknya bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) Sulut, yang dimulai pada akhir tahun lalu. Dengan jumlah 12 hektare. Terdiri dari 7 hektare dari Pemda dan bantuan BI 5 hektare. Bantuan tersebut langsung diserahkan kepada masyarakat, dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan cabai rawit di kabupaten kepulauan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/cabai-hrsa_20150928_125005.jpg)