Polisi Kejar Perekrut 81 WNA, Sindikat Cyber Crime Lintas Negara

81 di antaranya adalah Warga Negara Asing (WNA) asal Cina dan Taiwan, dan dua lainnya adalah Warga Negara Indonesia (WNI).

Polisi Kejar Perekrut 81 WNA,  Sindikat Cyber Crime Lintas Negara
TRIBUNMANADO GRAFIS/YUDIAWAN NUGRAHA
Grafis penangkapan sindikat judi online international. Grafis ini juga ditayangkan di edisi cetak Tribun Manado, Senin (21/9). 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Dari dua penangkapan pelaku cyber crime transnasional atau lintas negara pada waktu tempat yang berbeda oleh tim Resmob Manguni Polda Sulut, total ada 83 orang yang ditahan.

81 di antaranya adalah Warga Negara Asing (WNA) asal Cina dan Taiwan, dan dua lainnya adalah Warga Negara Indonesia (WNI). Dua WNI tersebut yakni RE alias Risal warga Tanjung Pinang dan Wahyudi warga Batam. Dari keduanya didapat informasi bahwa mereka hanyalah kurir pengantar kebutuhan para WNA tersebut.

"Kami hanya kurir. Kami mendapat pekerjaan dari seorang lelaki bernama Robby yang tinggal di Batam. Dia yang menyuruh kami mengantar semua keperluan pada WNA ini, termasuk menyediakan kebutuhan pokok mereka," ujar Risal.

Dari pekerjaan tersebut, mereka digaji Rp 5 juta per bulan oleh Robby. Baru sebulan belakangan ini mereka berada di Manado, dan keduanya mengaku tak mengetahui apa yang dilakukan para WNA tersebut. "Saya tidak tahu pekerjaan mereka dan tidak pernah bergabung dengan apa yang mereka lakukan. Kami hanya sebatas kurir," ucapnya.

Rabu (23/9) sore, 83 orang yang ditahan tersebut dikumpulkan di ruang Tribrata Mapolda Sulut. Kapolda Sulut Brigjen Pol Wilmar Marpaung didampingi Direskrimum Kombes Pol Pitra Ratulangi, bersama Interpol Taiwan yang diwakili Kombes Pol Jay li, AKBP Lin Jau Gwei, AKP Hsieh You Lin hadir untuk meninjau langsung perkembangan kasus tersebut.

Kapolda dalam keterangannya mengatakan, kasus ini merupakan yang pertama di Sulawesi Utara. Di beberapa tempat di Indonesia sebelumnya sudah banyak yang ditangkap. Para tersangka ditengarai merasa aman di Manado, sehingga memilih Manado untuk dijadikan markas.

"Untuk sementara korbannya tidak ada warga Indonesia, hanya di Cina dan Taiwan. Modus mereka yakni judi, game online serta penipuan dengan kedok meminta uang. Misalnya karena keluarganya sakit dan perlu dana, serta undian hadiah. Sejauh ini baru itu modus yang diketahui, kita masih terus kembangkan kasus ini," ujarnya.

Untuk sementara ini, kata Kapolda, kasus ini digunakan pasal tentang tindak pidana imigrasi. Dengan alasan para WNA ini masih banyak yang belum bisa menunjukan paspornya.

"Sementara ini dari 81 WNA, hanya 21 yang bisa menunjukan paspor. Menurut mereka, paspor mereka ditahan oleh seseorang yang saat ini masih menjadi buruan kita.Dan meskipun ditangkap di dua tempat berbeda, dipastikan mereka saling berkaitan dan direkrut oleh satu orang. Itu diperkuat oleh keterangan dua WNI yang sering menyuplai makanan kepada para sindikat ini," terangnya.

Halaman
12
Penulis: Finneke
Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved