Maut di Jalan AA Maramis Manado
Mobil Itu Baru Dua Pekan Dipakai
Remaja berusia 17 tahun itu terpelanting dan ditemukan terduduk di jok bagian belakang dengan posisi kaki menjulang ke atap mobil.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Jeffry Tumbel terlihat tegar. Padahal, pecahan kaca mobil melukai kepala, alis, telinga, leher dan tangan sopir Daihatsu Luxio DB 1911 AJ itu.
Darah segar pun mengalir pelan di tempat luka.
Meski menanggung banyak luka di tubuhnya, pria yang hendak mengantar pilot dan pramugari Lion Air dari Lion Hotel & Plaza Manado ke Bandara Sam Ratulangi, Selasa (15/9) itu tetap tenang saat mengisahkan detik- detik Honda Jazz merah DB 1490 LB yang dikemudikan Kevin Kevin Andrew Nasry menghantam mobilnya.
Ia menceritakan, saat itu sekitar pukul 15.17 Wita, kendaraan yang mengangkut satu pilot dan dua pramugari Lion Air berjalan dengan kecepatan sedang di Jalan AA Maramis Kairagi Manado.
Saat memasuki tikungan setelah simpang tiga Kairagi-Bitung dan Kairagi-Bandara, tiba-tiba sebuah mobil berwarna merah dari arah berlawanan melayang di udara, tepat menuju ke arah mobilnya.
"Pertama saya lihat rumput dan pasir melayang ke udara, itu saat mobil menabrak pembatas jalan dan melayang ke udara. Si pilot yang duduk di samping saya saja sampai berteriak keras, sangat keras karena kaget. Saat itu di pikiran saya hanya membanting stir ke kiri jalan menghindari mobil tersebut. Namun mobil masih menghantam bagian depan kanan, pas di depan saya. Hanya itu yang saya ingat, tahu- tahu saya sudah luka kena pecahan kaca, kepala saya agak pusing terbentur stir, " ujar Jefry bercerita kepada Tribun Manado saat perjalanan menuju rumah sakit.
Dijelaskan dia, setelah Honda Jazz menabrak bagian depan kendaraan dan merusak fungsi rem, kendaraannya tak bisa dikendalikan dan menabrak trotoar.
"Kalau saya tak langsung membuang ke kiri, mobil sudah menghantam kami semua. Ini mukjizat, saya bersyukur semua selamat," ujarnya.
Sementara sopir Honda Jazz, Kevin, menurut saksi mata sempat menjerit sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
Remaja berusia 17 tahun itu terpelanting dan ditemukan terduduk di jok bagian belakang dengan posisi kaki menjulang ke atap mobil.
Kevin mengalami luka parah di bagian kepala.
Sejumlah warga yang melihat peristiwa itu menyebutkan, mobil Kevin meluncur dari arah Bandara Sam Ratulangi menuju Pusat Kota, lalu menghantam pembatas jalan dan terbalik, kemudian terbang menghantam mobil rombongan kru Lion Air.
"Mobil merah melaju dari atas lalu menabrak pembatas jalan. Mobilnya oleng, terbalik, terbang terus menabrak mobil lain," ungkap seorang saksi mata.
Saksi lain menyebutkan, Kevin sempat mengerem mobil karena terdengar suara keras ban bergesekan dengan aspal, sebelum membentur mobil lain yang memantik dentuman keras.
Honda Jazz yang baru dipakai satu pekan sebagai hadiah ulang tahun itu remuk. Bagian depan dan atap hancur. Pun dengan kaca bagian belakang.
Tak kalah parah adalah kondisi Daihatsu Luxio yang bagian kanan depan remuk.
Juga bagian samping kanan dan kiri.
Sebuah sepeda motor milik warga yang diparkir di torotar pun juga mengalami kerusakan karena tergencet Luxio yang nyaris menabrak pejalan kaki di trotoar.
Korban kemudian dievakuasi ke RS TNI AU Lanud Sam Ratulangi Manado.
Kevin meninggal, sementara Jefry, dua pramugari Lion Air, Wulansari Rukman dan Isnaeni mendapat perawatan. Sedang seorang pilot Lion Air, tidak mengalami luka.
Melihat seluruh tubuh anaknya ditutup kain, ayahnya, Benny Nasry (38) pun meminta penutup itu dibuka.
"Kenapa ditutup, tolong periksa dulu," kata Benny yang tampak terpukul, sambil bersandar pada tembok samping jenazah putranya, Kevin Andrew Nasry.
Beberapa saat kemudian, kakek dan neneknya tiba, dan langsung masuk ke ruang unit gawat darurat (UGD) rumah sakit tersebut.
"Benny kenapa Kevin? Apa sudah meninggal?," tanya sang nenek kepada Benny, lirih.
Tangisnya semakin menjadi. "Ngana kwa pibeli oto (kamu kok beli mobil untuk dia)," keluhnya sembari menangis.
"Belum sto kasiang? Bakutabrak bagimana kasiang? (Mungkin belum meninggal, tabrakan bagaimana). Kalian tak jaga baik-baik anak ini," kesal sang nenek yang tersedu-sedu.
Lalu ibunda korban, Maureen Wangkar juga tiba, masih di dekat pintu, ia tampak lemas dan nyaris pingsan, lalu ditahan beberapa kerabat, mereka menguatkannya.
Ia pun dibawa ke ruang tunggu rumah sakit, beberapa saat kemudian, sang nenek menemaninya. "Mama, mana Kevin dank (mana Kevin)?" tanya Maureen.
Sang nenek mencoba bertanya kepada Maureen, namun Maureen syok. "Tunggu Ma, ini susah untuk bernapas," kata Maureen.
Tak lama kemudian, Benny datang menghampiri mereka, dan duduk di samping Maureen.
"Mana ada dia (Kevin) itu anaknya belum dewasa sudah diberi mobil," kata Maureen kepada suaminya. Mereka berdua pun menangis.
Kerabatnya yang duduk di belakang mereka, memberikan tisu. "Kan sudah saya bilang jangan dulu beri mobil ke dia," kesal Maureen. Benny pun hanya menerung.
Di luar rumah sakit, banyak teman yang ingin membesuk korban. Ada yang datang dari SMA Kristen Eben Haezar, SMA Negeri I Manado, dan dari Komunitas Coredor.
"Kevin itu teman yang paling baik, suka bergaul, lucu, pemalu, dan penyayang teman," tutur Ketua Coredor, Toar Palinggi (16), yang saat itu didampingi beberapa rekannya. (Tribun Manado/Charles Komaling/Alexander Pattyranie/Ribut Raharjo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/jazz-tabrakan-di-depan-kantor_20150915_152938.jpg)