Miris! Sawah Mengering, Padi Diganti Ketimun
"Ya, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, saya terpaksa tanami lahan sawah dengan ketimun."
Penulis: Alpen_Martinus | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Kurang tersedianya air lantaran musim panas dan angin kencang membuat petani di Kecamatan Tompaso, Minahasa memilih memanfaatkan sawah untuk tanaman lain.
Seperti yang dilakukan oleh Anton.
Setelah gagal panen, ia memilih untuk menanami sawahnya dengan tanaman lain, seperti ketimun dan sayuran lainnya. Itu juga terjadi dan dilakukan oleh beberapa petani lain.
"Saya tanam padi di lahan seluas 0,5 hektare, dan gagal panen lantaran kekeringan, tidak ada air, sehingga saya merugi sampai Rp 2,5 juta, ditambah dengan pengeluaran untuk pupuk yang mencapai Rp 800 ribu," katanya, Kamis (13/8).
Ia menambahkan, sebenarnya ia masih memiliki 1,9 hektare lahan sawah lagi, namun enggan untuk ditanaminya dengan padi lagi, dan memilih untuk menanaminya dengan tanaman lain untuk sementara waktu.
"Ya, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, saya terpaksa tanami lahan sawah dengan ketimun, dan saya berharap agar biaya kerugian gagal panen padi, bisa ditutupi dengan bercocok tanam ketimun ini, mau bagimana lagi," ujarnya.
Menurut kepala BP3K Tompaso, Nessy Watuseke, bahwa kerusakan tanaman padi yang diakibatkan cuaca panas dan berangin di Tompaso mencapai puluhan hektare. "Dari 597 hektare, ada 54 hektare yang sudah dipastikan gagal panen," jelasnya.
Dijelaskannya, bisa diprediksi angka kerugian yang diderita, para petani bisa mencapai Rp 324 juta.
"Untuk satu hektare, petani bisa mengalami kerugian rata-rata sekitar Rp 6 juta, kalikan saja dengan 54 hektare tersebut," ujar dia.
Namun menurutnya, jumlah yang gagal panen bisa saja bertambah, jika hujan tak kunjung turun selama beberapa waktu ke depan.
"Kalau berlanjut panas, jumlah gagal panen bisa saja mencapai seratus hektare," katanya.
Ia menambahkan, BP3K Tompaso akan berupaya membantu petani, dengan berusaha mengadakan pompa air.
"Kita coba cari pompa air, namun ada masalah lain, kami belum tahu mata air di mana yang mau dipompa ke sawah warga," jelasnya.
Berbanding terbalik di Tondano Selatan, yang justru beberapa petaninya baru mulai menanam padi.
"Belum ada laporan kerugian, malah baru ada petani yang mulai melakukan penanaman, bahkan mereka kami dorong untuk menanam, karena air masih tersedia cukup," kata Meidy, Kepala BP3K Tondano Selatan.
Memang nampak di beberapa kawasan sawah di Tondano Selatan, ada yang mulai membajak sawah, tapi masih ada juga yang membiarkan sawah, dengan sisa-sisa panen. (Tribun Manado/Alpen Martinus)