Imigran Afganistan Lebih Banyak Memilih Tinggal di Manado, Ini Alasannya
Ya, di Kota Manado, sedikitnya 72 imigran pencari suaka ditampung di rumah penampungan Imigrasi Sulawesi Utara - Manado.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - "Selamat malam." Demikian sapa dua pria asing kepada Tribun Manado kala ingin mendatangi sebuah warung kopi, tak jauh dari rumah penampungan imigran di Jalan AA Maramis Manado, suatu malam.
Di waktu berbeda, masih tak jauh dari rumah penampungan itu, sejumlah pria asing duduk santai menikmati saraba dan aneka hidangan makanan ringan.
Setiap ada yang datang di warung tersebut, pria- pria asing itu menyapa dengan ramah menggunakan bahasa Indonesia dengan cengkok nada yang terdengar aneh.
Ya, di Kota Manado, sedikitnya 72 imigran pencari suaka ditampung di rumah penampungan Imigrasi Sulawesi Utara.
Kepala Sub Seksi Penindakan Kantor Imigrasi Kelas 1 Manado, Kiven Manus, Selasa (7/7/2015) mengatakan, Manado memang menjadi favorit tujuan para pencari suaka karena dikenal aman.
"Mereka pilih Manado karena orangnya ramah-ramah," ujarnya.
Manus mengambil kesimpulan demikian setelah mendengar kesaksian sejumlah imigran tentang kebaikan warga Manado.
Mereka, kata dia, menyebut orang Manado ramah serta suka membantu. Perlakuan berbeda mereka alami di kota lain, dimana warga setempat sama sekali tidak ramah. "Mereka merasa nyaman di sini," katanya.
Mungkin saking nyamannya sampai tersiar kabar ada imigran yang ikut menenggak minuman keras bersama warga.
Seorang imigran, Nahwi asal Afghanistan mengakui pernah mencicipi cap tikus bersama warga.
Menurut Nahwi, minum bersama warga sebagai bagian menghargai terhadap ajakan. Sepekan, bisa minum bareng hingga dua hingga tiga kali. Bahkan ada juga yang pacaran dengan warga.
"Saya sering keluar dan ikut minum dengan warga. Warga sangat baik," ujarnya.
Nahwi mengaku diberi keleluasaan untuk keluar, asal tidak jauh dari rumah penampungan.
"Kami tidak dilarang kalau keluarnya dekat-dekat, biasanya di pagi hari atau sore hari,"ujarnya.
Terhadap isu adanya imigran yang ikut pesta miras ini, Manus memilih tidak memberikan komentar. "Wah bukan wewenang saya menjawab itu," kata dia.
Menurut Manus, mereka ini memiliki kekebalan internasional karena memegang kartu khusus yang dikeluarkan badan dunia PBB.
Dalam kartu itu tertulis jelas mereka dilindungi Undang-Undang Internasional dan tidak bisa dihukum selama mereka tidak melakukan tindakan kriminal.
Sementara itu, untuk biaya hidup, ditanggung oleh International Organitation Migration (IOM).
Mereka tidak bisa makan nasi. Uang yang didapat, sehari-hari digunakan untuk belanja bahan roti dengan memasaknya sendiri. Atau keluar untuk membeli kue.
Manus membeber, kebanyakan imigran di Manado ini berasal dari Afganistan. Tujuan mereka sebenarnya adalah Australia.
Malaysia jadi check point, karena negara itu membebaskan pendatang asal Arab. "Dari sana mereka naik perahu menuju Sumatera kemudian menuju ke Jakarta, " kata dia.
Di Jakarta, ungkap dia, warga disodori pilihan hendak menjalani detensi di mana. Dan, banyak yang memilih ke Manado.
"Entah kenapa mereka memilih Manado, padahal Manado kan jauh dari Australia, tempat tujuan mereka," bebernya.
Manus menjelaskan, meningkatnya imigran merupakan dampak dari kebijakan pemerintah Australia yang menutup pintu bagi para imigran.
Akibatnya, para imigran menumpuk di Indonesia. Dikatakan Manus, Rudenim di Manado sejatinya sudah tak bisa menampung lagi para imigran.
Disebutnya, tidak sedikit imigran terpaksa tidur di lantai beralaskan tikar karena terbatasnya bilik. "Tapi bagaimana lagi, mereka datang terus," ujarnya.
Manus membeber, para imigran ini memiliki kekebalan internasional saat berada di wilayah Rudenim. Kecuali perkara kriminal. "Mereka memegang kartu internasional," ujarnya.
Beberapa waktu lalu, banyak imigran yang lari dari penampungan. Catatan Tribun Manado, pada 2012, tiga orang berkewarganegaraan Myanmar melarikan diri dari RS Advent.
Saat itu mereka sedang menjalani perawatan kesehatan. Namun, kata dia, kejadian tersebut tak akan terjadi lagi.
"Dulu mereka lari hendak ke Australia, tapi sekarang di sana ketat hingga jika lari mereka akan terlunta-lunta," kata dia.
Sebenarnya mereka ditawari untuk mencari suaka di Papua Nugini dan Kanada. Namun masih belum ada kejelasan tindak lanjutnya.
Para imigran ini juga tidak memiliki keahlian sehingga beberapa negara memilih menolak karena merasa rugi jika harus menampungnya. (tribunmanado/art/lix)
Berita ini dapat Anda ikuti juga selengkapnya di Tribun Manado edisi cetak terbit hari ini, Rabu (8/7/2015). Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado terkini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/imigran-asal-afganistan-di-rudenim-manado_20150708_091800.jpg)