Ngaku Bayar 800 Ribu Tiket Hercules, "Ada Bukti Dikomersilkan, Pecat!"
Biaya naik Hercules yang akhirnya jatuh adalah Rp 800 ribu per orang.
TRIBUNMANADO.CO.ID, MALANG - Pesawat Hercules C-130 yang dikemudikan Kapten Sandy mengalami kecelakaan di Medan, Rabu (30/6) siang.
Pesawat yang membawa 12 kru dan lebih dari 100 penumpang itu jatuh setelah dua menit lepas landas dari Lanud Soewondo.
Rencananya pesawat yang bermarkas di Lanud Abdulrachman Saleh itu hendak terbang ke Tanjungpinang, Rani (Natuna), dan Pontianak.
Kapten Sandy meninggalkan istri dan dua anak. Kedua anak Kapten yaitu Zahra Anindya Putri Permana (4,5) dan Zahira Maulidina Putri Permana (2,5).
Sementara itu, seorang warga Pematangsiantar, Oloan Pardamean Sinaga, keluarga korban jatuhnya pesawat Hercules menceritakan ikhwal lima keluarganya menaiki pesawat militer itu.
Menurutnya, abangnya, Pendeta Sahat Sinaga, naik pesawat tersebut karena kekurangan uang.
"Kurasa kekurangan uang abang itu makanya berangkat naik pesawat itu. Soalnya waktu saya tambahi uang untuk ongkos abang itu, abang itu senang," ujarnya, kemarin.
Ia menuturkan, bahwa abangnya memesan tiket pesawat dari seorang jemaat GPdI di Natuna yang juga seorang anggota TNI.
"Abang itu memesan tiketnya dari jemaatnya di Natuna. Kata abang itu, jemaatnya ini anggota TNI di Natuna bermarga Nababan," ujarnya.
Ia menuturkan bahwa abangnya awalnya memesan tiket untuk sembilan anggota keluarga.
Namun, akhirnya ia hanya memesan lima tiket karena empat orang tidak jadi pergi karena dilarang keluarga.
Beberapa keluarga korban yang dijumpai di RSUP Adam Malik ada yang mengatakan, biaya naik Hercules yang akhirnya jatuh adalah Rp 800 ribu per orang.
Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Agus Supriatna saat dikonfirmasi tentang hal ini membantah bahwa Hercules milik TNI AU dikomersilkan.
"Jika ada bukti dikomersialkan, kita akan pecat oknum yang terlibat," tegasnya.
Sementara terkait tudingan over capacity, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna membantahnya. Ia memastikan, pesawat angkut tersebut mampu membawa penumpang dan barang dengan total keseluruhan hingga 135 ton.
"Kalau melebihi kapasitas, tidak boleh diberangkatkan," ujarnya di sela-sela persemayaman jenazah korban pesawat Hercules C-130 di hanggar Lanud Soewondo, Medan, Rabu (1/7) kemarin
Dirinya memastikan kembali, kecelakaan tersebut bukan karena beban melebihi kapasitas. Kondisi itu dapat terlihat dari permintaan pilot Kapten Pnb Sandy Permana yang mengajukan permintaan untuk kembali ke landasan (return to base). "Tidak ada masalah dalam kapasitas, ini jelas musibah," KSAU menegaskan kembali.
Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin meragukan jika ada penumpang yang membayar di dalam pesawat Hercules milik TNI AU yang nahas tersebut.
Menurut logika Hasanuddin, banyak yang tidak mau untuk bayar lebih mahal daripada biaya tiket pesawat komersial pada umumnya
"Saya sangsi kalau ada yang membayar semahal itu, padahal duduknya berjejer. Kalau ke Medan cukup Rp 500 ribu atau Rp 600 ribu sudah nikmat pakai Lion Air," kata Hasanuddin.
Purnawiranan TNI yang terakhir menjabat Mayjen itu mengaku telah mendapat informasi terkait adanya penumpang yang membayar hampir Rp 900 ribu untuk menumpang pesawat itu.
Oleh sebabnya, saat ini Komisi I tengah melakukan penelitian mendalam mengenai kebenaran informasi tersebut. Lebih jauh, ia mengatakan, pesawat Hercules biasanya digunakan untuk mengangkut logistik, bantuan pergeseran pasukan maupun bantuan tempur.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menganggap wajar banyak warga sipil yang ada di dalam pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Medan tersebut.
Menurutnya, warga sipil sudah sejak dulu boleh ikut menumpang di pesawat militer. "Dari dulu juga ada yang ikut. Boleh, biar dekat dengan rakyat," ujar Ryamizard. (surya/tribunnews/kps)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/kobaran-api-melalap-badan-pesawat-hercules_20150630_145528.jpg)