Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tou Kawanua Dialog Bahas Masalah Kebudayaan Minahasa Kekinian

Tou Kawanua menggelar Dialog Budaya bahas problem solving masalah-masalah kebudayaan Minahasa Kekinian di caffe 178.

Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/FELIX TENDEKEN
Tou Kawanua menggelar Dialog Budaya bahas problem solving masalah-masalah kebudayaan Minahasa Kekinian di caffe 178 

Laporan wartawan Tribun Manado Felix Tendeken

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO -  Tou Kawanua menggelar Dialog Budaya bahas problem solving masalah-masalah kebudayaan Minahasa Kekinian di caffe 178 jalan 17 Agustus Manado, Jumat (19/6).

Acara yang dilaksanakan pada pukul 15.00 ini disponsori oleh Mawale Movement,Waraneny Wuaya,The 178 food and drink,Stiepar Manado,Aliansi Masyarakat Adat Nusantara,Mawale Cultural Center Advokasi,dan Komunitas budaya Tiong hoa Minahasa.

DR Ivan Kaunang M Hum Sejahrawan Sulut menyampaikan masalah yang berkaitan dengan perkembangan kemajuan kebudayaan Minahasa. Dalam acara ini ia menyinggung tetang permasalahan situs peninggalan nenek moyang Minhasa yang mulai punah akibat terjangan era modern. Kemudian ia pun berharap agar semboyan kerukunan seperti baku beking pande jangan di makan zaman.

Menurut dia semboyan baku beking pande sudah mulai menghilang dimana pengaruh pemerintah dalam mengawasi kebudayaan tersebut. "Ketika era reformasi ada banyak perubahan dimana pusat tidak mampu mengontrol kebudayaan daerah.Dalam acara temporer biasanya kebudayaan menjadi santapan awal untuk acara-acara tersebut. Semboyan baku beking pande sudah tidak ada lagi sudah mulai menghilang,dimana pengaruh pemerintah dalam mengawasi,"ujarnya.

Mengenai visi misi kebudayaan menjadi alat pemerintah untuk menarik nilai politik. " Kami juga sangat menyesali dimana saat ini banyak situs-situs yang di gali atau dirusak. Lemahnya sejarah daerah dibandingkan daerah lain masih sangat kecil,banyak situs peninggalan Minahasa yang mulai hilang artinya dimata masyarakat. Kemudian visi misi kebudayaan hanya menjadi alat untuk berpolitik,"ujarnya.

Ia pun mengatakan saat ini terjadi perang intelektual. "Kemudian saat ini menjadi perang intelektual dimana banyak penulis orang Minahasa namun sulitnya pengembangan dimana tidak ada tempat dan sponsor percetakan. Kemudian di bidang agama dan budaya menjadi bentrokan dimana orang masih memandang pesimis dengan budaya. Masalah tanah dimana tanah budaya dianggap tanah pemerintah dimana jika ada situs sejarah bebas saja dihancurkan,"ujarnya.

Menurut dia kehadiran situs ini juga membawa nama Sulut. "Pastinya kehadiran situs ini jika diperkenalkan akan membawa banyak dampak positif untuk pembangunan daerah Sulut. Di beberapa tempat budaya mereka kental dan begitu dikenal oleh dunia,oleh sebab itu kita juga butuh dukungan pemerintah untuk pengembangannya. Bayangkan saja di negara Belanda suku Minahasa begitu di kenal dan yang menulis adalah orabg Belanda. Saya berharap agar kebudayaan kita jangan hanya menjadi alat untuk berpolitik," ujarnya.

Kegiatan sosialisasi ini pun berakhir dengan baik dimana mendapat dukungan dari berbagai penyelamat situs Minahasa seperti,Mawale Movement,Waraneny Wuaya,The 178 food and drink,Stiepar Manado,Aliansi Masyarakat Adat Nusantara,Mawale Cultural Center Advokasi,dan Komunitas budaya Tiong hoa Minahasa

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved