Ditemani Radio Kecil Yafet Tak Gentar, Meski Nyawa Jadi Taruhan
Ditemani radio kecil, Yafet (48) warga Karangria Tuminting, Manado, Sulawesi Utara ini setia menjalankan pekerjaannya.
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID - Menjadi penjaga rumpon tidak mudah, apalagi harus tinggal di atas laut sendirian. Banyak ancaman menanti, seperti gelombang laut tinggi, badai di laut, tali jangkar putus, diteror nelayan asing dan sebagainya.
Ditemani radio kecil, Yafet (48) warga Karangria Tuminting, Manado, Sulawesi Utara ini setia menjalankan pekerjaannya. Tak ada kata putus asa bagi bapak ini, yang ada semua dilakukan demi sang keluarga tercinta. Ia bertangung jawab atas seluruh ikan yang berdiam di bawah rumpon,dalam sebulan ia digaji Rp 2,5 juta oleh pemilik rumpon. Untuk berkomunikasi ia hanya menggunakan HT, namun kadang kala faktor cuaca menganggu proses komunikasi, Selasa (26/5/2015).
Matahari yang terbit pagi hari membuka cakrawala langit hari itu, namun kali ini ada yang beda ketika Yafet berada di atas rumpon. Tak ada suara ayam berkokok, tak ada burung berkicau, yang ada hanya nyala lampu samar-samar dari kejauhan pulau. Dengan mata yang masih mengantuk Yafet harus memadamkan lampu petromax yang mulai redup karena kehabisan minyak.
Yafet merupakan seorang penjaga rumpon yang dipercayakan oleh juragan kapal ikan kaya. Ia harus melakukan seluruh tugas dan kegiatan harian di atas rumpon, baik mandi, mencuci baju, makan, minum, tidur, bahkan buang air. "Saya memang melakukan pekerjaan ini sendirian sebab seluruh rumpon dan isinya menjadi tangging jawab saya. Kalau makan dan istirahat yah di sini sedangkan kalau mau buang air saya harus mendayung perahu yang bersandar di rumpon dengan jarak sekitar 50 meter. Hal ini saya lakukan untuk menjaga kebersihan rumpon,"ujarnya.
Menurut dia pekerjaannya hanya menjaga. "Saya hanya bertugas untuk menjaga rumpon di mana ikan di dalam menjadi tanggung jawab saya sampai kapal pajeko datang untuk mengangkutnya. Biasanya saya yang akan menghubungi pemilik jika ikan sudah banyak berlindung di bawah rumpon,"ujarnya.
Menurut dia setiap hari hanya dihibur radio. "Pesawat radio kecil milik saya memang menjadi hiburan tersendiri bagi saya, memang hanya ini hiburan satu-satunya. Di sini juga tidak bisa dipasang Tv sebab tidak punya sumber listrik, hanya aki kecil yang bisa menambah daya radio. Memang rasanya begitu membosankan apalagi saat ini hiburan di daratan semakin banyak,namun apa boleh buat inilah pilihan saya,"ujarnya.
Ia pun pernah mendapatkan masalah di laut. "Masalah yang saya hadapi bukan sedikit, pertama saya pernah diancam nelayan asing untuk dibunuh. Mereka meminta agar saya memberikan seluruh isi rumpon milik majikan saya. Namun hari itu saya beruntung sebab ada kapal ikan yang melintas di lokasi kejadian, kemudian para perampok laut ini meninggalkan rumpon ini. Selain itu masalah cuaca buruk, jika berangin saya tidak berdaya dan hanya bisa berdoa meminta Tuhan memberikan pertolongan. Saya takut nantinya jika tali rumpon putus sebab kalau itu terjadi maka saya akan hanyut entah kemana dan nyawa saya jadi taruhannya,"ujarnya.
Ia sendiri sering melihat ikan ukuran besar. "Namanya tempat ini tempat berkumpul ikan kecil maka sangat banyak ikan besar yang berdiam di bawah rumpon, seperti gorango bintang (shark well). Namun kalau tidak diganggu maka ikan ini tidak akan membahayakan manusia, namun yang menakutkan jika ia sedang makan, ikan teri hanya dilahap sekali dan bisa sampai beribu ekor. Selain itu ada juga hiu martil dan hiu putih yang memangsa ikan di bawah rumpon, sebab beberapa kali memancing ikan yang didapat tinggal kepalanya saja,"ujarnya.
"Saya pernah mengalami putusnya tali jangkar dan rumpon hanyut. Saya yang sudah tertidur tidak menyadari hal ini apalagi pengaruh angin dan hujan yang deras, gelombang laut yang tinggi, membuat saya sulit melihat lokasi di sekitar saya. Ketika pagi tiba saya sudah berada di belakang pulau Manado Tua, saya yang merasa hanyut langsung mencoba menghubungi pemilik dan teman lewat HT. Syukur panggilan saya langsung direspons dan saya selamat dari kejadian naas tersebut,"ujarnya.
"Saya tidak punya keahlian lain selain melaut, jadi inilah pilihan hidup untuk keluarga saya. Apalagi ada anak yang sedang sekolah, untuk hasil sebesar Rp 2,5 juta masih mencukupi kebutuhan sehari-hari di rumah,"ujarnya.
Menurut dia, nasib sebagai nelayan pasti sering meminum tiga air. "Tiga air memang tidak bisa terpisahkan dari kami para nelayan. Pertama air laut, kedua air hujan, dan ketiga air mata ketika pulang dan tidak mendapatkan apa-apa. Hasil di laut sering kali tidak menentu apalagi cuaca yang sering berubah-ubah,"ujarnya. (tribunmanado/felix tendeken)
Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado online.