Angkot Jadul ST 20 Sebagian Jadi Besi Tua dan Dijual Kiloan
Banyak pemilik mobil ST 20 memilih menjadikan kendaraan ini besi tua dan menjual kiloan.
Penulis: | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Felix Tendeken
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Banyak pemilik mobil ST 20 memilih menjadikan kendaraan ini besi tua dan menjual kiloan. Pilihan ini terpaksa dilakukan, karena sulitnya memperoleh suku cadang dan sparepart.
HINGGA tahun 2005-an masih banyak mobil ST 20 yang mangkal di Terminal Karombasan, Terminal 'bayangan' Dolog, kompleks Pasar Bahu dan beberapa lokasi yang tak dilalui angkutan kota jenis mikrolet.
Namun, seiring dengan kian ramainya Ojek (Ompreng) yang melayani warga kota hingga masuk ke dalam lorong ikut mempengaruhi penumpang yang sebelumnya setia naik ST 20.
Misalnya di Terminal Karombasan dulunya ada ST 20 yang melayani hingga Kampung Jawa, Pakowa (eks SMA Negeri 5 Manado) dan beberapa perkampungan sekitar. Kini yang tersisa tinggal yang melayani Jambore Bawah, Winangun dan Jalan Siswa.
Begitu juga jalur yang melayani Jalan Sea, Dolog dan beberapa areal perumahan di kawasan Malalayang kini tak ada lagi.
Yosua yang dulunya sopir ST 20 mengatakan, berangsur hilangnya mobil jenis ST 20 disebabkan kebanyakan telah dimakan usia. Kerangka mobilnya telah berkarat. ''Memang sebagian masih bisa beroperasi, tapi kelengkapan suratnya sudah tak memenuhi syarat. Termasuk izin trayeknya yang tidak diurus lagi, '' ujar Yosua.
Usia mobil ini yang tidak mudah lagi membuat pemilik kesulitan merawat. Apalagi onderdil dan suku cadang semakin sulit ditemukan. Hal ini ikut mempercepat angkutan umum jenis ST 20.
Menurut Yosua, khusus di bagian Malalayang ada juga ST 20 yang telah diubah menjadi mobil pribadi.''Kebanyakan diubah menjadi mobil pick up. Tak lagi dipakai untuk memuat penumpang, '' ujarnya sambil menambahkan ada yang tinggal dipakai ke kebun dekat Kota Manado.
Sedangkan Denny Tuege, Sopir Angkot lainnya mengatakan, memang saat ini banyak mobil ST 20 yang telah beralih fungsi menjadi plat hitam dan dijadikan mobil pribadi. ''Kalau mobil pribadi kan pemakaiannya kurang, sehingga sparepart mobil tidak selalu diganti. Berbeda kalau dipakai mancari (angkot), suku cadangnya lebih cepat aus, '' ujar Tuege.
Dia mengaku secara ekonomis tak efektif lagi mobil ini dijadikan angkot.''Mungkin biaya perawatannya tak akan menutup hasil yang diperoleh sebulan,'' ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/angkot-st-20_20150505_095520.jpg)