Senin, 1 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Rumah Adat Minahasa Miliki Compact Building Design

Dunia arsitektur sangat luas. Bukan hanya dilihat dari segi ilmu, arsitek juga bisa menjadi sebuah karya seni.

Tayang:
Penulis: | Editor:
NET
Ilustrasi rumah adat minahasa 

Laporan wartawan Tribun Manado Muhammad Cahya Pratama

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO  – Dunia arsitektur  sangat luas. Bukan hanya dilihat dari segi ilmu, arsitek juga bisa menjadi sebuah karya seni. Prinsip-prinsip keindahan yang juga merupakan kaidah dasar di dalam bidang seni lainnya seperti kesatuan, keseimbangan, keserasian, irama, juga dipergunakan sebagai kaidah dasar di dalam arsitektur.

Dan dalam dunia arsitektur, tak bisa dilepaskan dari bagaimana merancang sesuatu atau biasa disebut design, hingga menjadi sebuah karya. Yang pada dasarnya memiliki nilai fungsi sesuai dengan jenisnya, hingga pada sebuah karya yang dinilai dari segi keindahannya.

Hal ini seperti terungkap dalam acara “Open Talk Architecture : Compact Building Design “,yang diselenggarakan Rupawana Kreasindo bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia, Jumat (10/4). Bertempat di Lantai 2 Hotel Aston Manado, acara dikemas dengan konsep diskusi interaktif, dengan tiga orang pembicara yang memiliki pengalaman luas dibidangya. Tiga pembicara yakni Praktisi Aristek Kalson Sagala, Perwakilan dari Ikatan Aristek Indonesia Derby dan Dosen Unsrat Manado Alvin Tinangon.

Alvin Tinangon yang membawakan materi pertama mengartikan compact building design sebagai langkah awal dari manifestasi. Dimana keinginan maksimum akan disesuaikan dengan wadah atau lahan minimum. Kondisi ini menurut Alvin, karena desain bangunan dengan compact building design lebih mengutamakan pemanfaatan luas bangunan dengan maksimal, sehingga tidak memerlukan luas bangunan ekstra.

“Pada dasarnya, compact adalah pendekatan kuantitas. Sedangkan dimensi arsitektur menghendaki compact menjelma menjadi compactization yang lebih mengutamakan kualitas,” katanya.

Ditambahan Alvin, compactization sendiri dalam dunia arsitektur menjelma menjadi mode dan slogan. Munculnya slogan ini menurut Alvin sesuai dengan manifestasi arsitektur yang ada.

“Compactization juga adalah strategi. Seperti interpenetrasi, interlocking, interclosing dan interordering. Bagi saya, keempat design ini akan muncul, dan tidak bisa diprediksi. Ini akan muncul saat kita memikirkan desain seperti apa yang nanti akan kita rancang,” katanya.

Lebih lanjut diutarakan Alvim, compact building design merupakan sebuah karya aristektur yang sudah cukup terkenal di Eropa dan beberapa Negara Asia seperti Jepang. Namun, di Indonesia sendiri, compact building design masih belum dikenal oleh masyarakat.

“Sebenarnya, jika melihat dari desain yang ada, beberapa rumah adat Minahasa sudah tergolong bangunan dengan compact building design. Namun, sedikit berbeda dengan yang ada di Eropa dan Asia. Ini menunjukan konsep compact building design sebenarnya sudah ada,” tuturnya.

Pemateri selanjutnya yakni Praktisi Aristek Kalson Sagala dalam pemaparannya menunjukan beberapa compact building design hasil karyanya, seperti saat mendesain gedung hotel hingga ruang terbuka hijau. Sagala menjelaskan, konsep compact adalah bagaimana memanfaatkan lahan yang ada, tanpa meninggalkan fungsi utamanya.

“Seperti saat membuat bangunan hotel, kita bisa membuat kamar dengan konsep compact, namun untuk koridor dan ruang tunggu kita bisa gunakan konsep lainnya. Karena tidak semua bangunan bisa kita terapkan compact desain, melainkan harus disesuaikan dengan kebutuhan, dan tak lupa lahan yang disediakan,” katanya.

Bagi Sagala, merancang bangunan dengan compact building design tidaklah rumit, bahkan sama dengan ketika merancang bangunan dengan konsep pada umumnya.

“Compact building design mungkin masih asing terdengar di telinga arsitek tanah air, namun sebenarnya tidaklah berbeda jauh dengan desain yang ada. Namun, tentu ada perbedaan-perbedaan, yang dapat kita pelajari dari konsep compact building design, yang bisa kita terapkan dalam ide dan kreatifitas dalam membuat karya-karya aristektur,” ujarnya.

Briantara Ajibadi, Co-Founder Rupawarna sekaligus event organizer mengaku senang dengan antusiasme praktisi dan mahasiswa yang hadir dalam event kali ini. Diungkapkan Brian, setelah beberapa kali menggelar event di beberapa kota yang ada, menurutnya peserta dari Kota Manado memiliki tingkat antusiasme tertinggi, dilihat dari banyaknya peserta yang berperan serta, baik yang hadir maupun ikut berdiskusi.

“Sangat senang dan bangga, karena acara ini mendapat respon yang luar biasa dari praktisi dan mahasiswa dari Kota Manado. Saya berharap dengan adanya acara ini, dan acara-acara selanjutnya, akan muncul ide-ide kreatif aristek-aristek Manado dalam membuat dan menghasilkan karya yang luar biasa, yang bahkan bisa dikenal hingga ke mancanegara,” tandasnya.

Tags
Minahasa
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved