Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Perkenalkan Standar Akuntansi BI Kepada Mahasiswa

Tujuan laporan keuangan Bank Indonesia (BI) adalah untuk menunjukkan pencapaian atau pertanggungjawaban BI dalam mencapai dan memelihara stabilitas.

Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/FIONALOIS WATANIA
Seminar Diseminasi Laporan Keuangan, Kebijakan Akuntansi, dan Operasi Moneter BI. 

Laporan wartawan Tribun Manado Fionalois Watania

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO  - Tujuan laporan keuangan Bank Indonesia (BI) adalah untuk menunjukkan pencapaian atau pertanggungjawaban BI dalam mencapai dan memelihara stabilitas nilai rupiah, yang meliputi informasi tentang dampak keuangan dari kebijakan BI terhadap posisi keuangan dan surplus defisit BI.

Hal itulah yang disampaikan oleh Sri H. R. Pahlevi selaku Asisten Direktur Analisis Keuangan Senior, Departemen Keuangan Intern - Departemen Pengelolaan Moneter BI Pusat dalam seminar Diseminasi Laporan Keuangan, Kebijakan Akuntansi dan Operasi Moneter Bank Indonesia kepada seluruh peserta seminar, baik dari kalangan mahasiswa, dosen, pihak perbankan, pimpinan OJK, dan beberapa pimpinan serta jajaran instansi lain pada Kamis, (19/03) sebagai pembawa materi terakhir dengan topik Laporan Keuangan BI.

"Landasan utama dari penyusunan laporan keuangan BI adalah agar nilai tukar rupiah dan inflasi tetap terjaga hal itulah yang membedakan BI sebagai bank central dengan bank komersial karena tidak mencerminkan kinerja institusi," jelasnya.

Lanjut sri karena fungsi tujuan BI dan bank komersial berbeda, sehigga BI melalukan perubahan kebijakan penyajian laporan keuangan.

"Sejak 2014, laporan keuangan BI berubah dengan mengimplementasikan standar akuntansi BI sebagai Bank Central yaitu Kebijakan Akuntansi Keuangan BI (KAKBI) . Dasar pemikiran perubahan penyajian laporan keuangan adalah untuk menunjukkan pencapaian atau pertanggungjawaban BI dalam mencapai dan memelihara stabilitas rupiah," katanya.

Penyusunan standar kebijakan ini dilakukan secara govern dan akuntabel oleh komite independen melalui due proses yang komprehensif.

Hal tersebut sudah dirumuska n sejak awak tahun 2012 dengan membentuk tujuan untuk mewujudkan visi BI menjadi bank sentral terbaik di kawasan regional.

Perbedaannya terlihat jelas pada komponen laporan keuangan.

Pada laporan keuangan sebelumnya memiliki laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Sedangkan dalam KAKBI tidak memiliki komponen tersebut.

Dia menambahkan laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan sudah tidak relevan bagi BI yang memiliki visi yang berbeda dengan bank komersial. "Kenapa laporan kas tidak relevan?

Hal ini karena kewenangan mengedarkan uang sama sekali tidak memiliki kendala dalam laporan arus kas. Oleh karena itu, hal tersebut dipandang tidak relevan lagi dalam penyajian laporan keuangan BI," ungkapnya.

Hadir pula Ahmad Hidayat, Direktur Kepala Grup Departemen Keuangan Intern - Departemen Pengelolaan Moneter BI Pusat, Pribadi Santoso, Deputi Direktur Kepala Devisi Departemen Keuangan Intern - Departemen Pengelolaan Moneter BI Pusat, Tonny Indarto, Asisten Direktur Analisis Keuangan Senior Departemen Keuangan Intern - Departemen Pengelolaan Moneter BI Pusat, dan Lisa Ekandari Manager Analisis Keuangan Departemen Keuangan Intern - Departemen Pengelolaan Moneter BI Pusat sebagai pembicara.

Vanessa Rurugala, mahasiswi Univesitas Delasal, Semester 6, Fakultas Ekonomi, Jurusan Management mengatakan ada banyak hal yang dia pelajari dalam seminar tersebut seputar dunia perbankan terlebih khusus perbedaan BI sebagai bank central dengan bank komersial.

"Seminar ini sangat baik. Menambah wawasan kami sebagai mahasiswa. Saya jadi termotivasi untuk bekerja di BI setelah lulus nanti," katanya lalu tersenyum.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved