Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cabo Masih Laris Manis di Kotamobagu

Menteri Perdagangan telah melarang penjualan pakaian bekas atau lebih dikenal dengan cabo.

Penulis: Handhika Dawangi | Editor:

Laporan wartawan Tribun Manado Handhika Dawangi

TRIBUNMANADO.CO.ID,KOTAMOBAGU -  Menteri Perdagangan telah melarang penjualan pakaian bekas atau lebih dikenal dengan cabo, namun hal tersebut tak berlaku di Kota Kotamobagu, penjual cabo tetap masih berjualan seperti biasanya, bahkan beberapa diantara mereka tak tau mengenai pelarangan tersebut.

"Saya tidak tau, tanya saja kepada yang penjual cabo lain," ujar Ani satu diantara penjual kepada Tribun Manado, belum lama ini.

Sementara itu masyarakat Kota Kotamobagu, juga mengaku tak setuju jika cabo dilarang penjualannya. "Kalau memang dilarang, sebaiknya pemerintah menyediakan pakaian yang murah, berkualitas dan jauh dari penyakit," ujar Indah warga Sinindian, Senin (9/2) Sore, saat berbincang dengan Tribun Manado di Rumah Kopi Jarod.

Lanjut Indah, pakaian bekas atau cabo ini sudah menjadi satu diantara yang disenangi masyarakat sejak beberapa tahun lalu, karena selain murah kualitasnya bagus. "Kalau kita tau memilih, pasti akan dapat yang bagus," ujarnya.

Mengenai penyakit, yang katanya menempel di cabo. Indah mengaku tidak takut. "Setelah dibeli, harus dicuci dahulu baru dipakai," ungkapnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kotamobagu, sampai saat ini belum ada laporan adanya penyakit dari luar. "Sampe sekarang belum ada, kalau kita biasanya dapat surat dari kemenkes kalau ada penyakit-penyakit dari luar negeri untuk kewaspadaan dini," ujar Kepala Dinkes Kotamobagu, dr Salmon Helweldery.

Lanjutnya, sampai saat ini dinkes belum melakukan tindakan pencegahan penyakit yang menempel di cabo. "Kita belum dapat surat resmi dari kemenkes mengenai cabo, nanti akan kami konfirmasikan," ujarnya.

Pemerintah Kota Kotamobagu, sejauh ini belum adanya tindakan melakukan operasi pelarangan penjualan cabo tersebut. "Diimbau baik, bagi penjual maupun pembeli, agar berhati-hati terhadap kemungkinan bahaya bakteri yang disinyalir menyertainya," ujar Wakil Wali Kota Kotamobagu, Jainuddin Damopolii.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved