Ada 16 Kue Tamo di Pesta Adat Tulude Masyarakat Likupang
Desa Likupang II Kecamatan Likupang II, Sabtu (31/1) menggelar pesta adat Tulude. Tulude ini dimaksudkan untuk menolak bala di tahun baru.
Penulis: Maickel Karundeng | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Maickel Karundeng
TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Desa Likupang II Kecamatan Likupang II, Sabtu (31/1) menggelar pesta adat Tulude. Tulude ini dimaksudkan untuk menolak bala di tahun baru, sekaligus juga menerima tahun baru dengan doa dan ucapan syukur.
Acara ini diawali dengan penjemputan ‘Raja dan Ratu’ yang adalah Hukum Tua Desa Likupang II, Sarjan Maramis bersama isteri. Mereka dijemput di rumah kediamannnya. Raja dan Ratu bersama Camat Likupang Timur Stevy Watupongoh SIP dijemput secara adat dengan tarian perang serta tarian syukur yang diperagakan oleh putra-putri terbaik Desa Likupang II. Tarian ini di iringi dua alat musik tambor dengan irama yang menghentak-hentak.
Bupati Minahasa Utara Drs Sompie Singal, MBA dalam sambutan yang dibacakan oleh Camat Likupang Timur, sangat berterima kasih kepada masyarakat Desa Likupang II yang sudah turut andil dalam melestarikan budaya yang ada di Minut. Tulude bukan saja hanya menjadi milik warga Nusa Utara tapi telah menjadi milik masyarakat Minut. Ini juga bukan hanya untuk satu golongan agama saja tapi untuk semua golongan agama. “Hendaknya Tulude ini dapat dijadikan agenda tahunan karena didalamnya terdapat kearifan lokal yang perlu dilestarikan," harap Watupongoh.
Acara puncak Tulude yaitu ‘Menahulending’ atau pemotongan kue Tamo dipimpin oleh kepala adat. Sebelumnya dijelaskan makna yang terkandung dalam prosesi ini. Dimana acara ini digelar utamanya untuk meluruskan yang bengkok, memperjelas yang tidak kelihatan sambil menyampaikan pujian, permohonan, syukur dan doa.
Tampak 16 kue Tamo yang telah dihias berbagai ornamen dipotong secara bergiliran oleh 16 orang tetua adat yang telah ditunjuk khusus. Menurut Sarjan Maramis ke-16 orang pemotong kue Tamo ini datang dari desa tetangga dari seberang pulau.
Pemotongan kue Tamo ini diiringi musik tradisional tambor yang dipukul beberapa pria kekar. Selama kurang lebih satu setengah jam para pria pemukul tambor ini tidak berhenti melaksanakan tugas mereka. Warga larut bersama dalam kegembiraan, mereka bernyanyi melompat-lompat sambil menyaksikan pemotongan kue.
Bahkan ada tiga orang ibu yang sempat kerasukan tak sadarkan diri terbawa oleh suasana supranatural musik tambor yang menghentak-hentak.
Selesai pemotongan kue Tamo ‘Raja dan Ratu’ diarak keliling kampung oleh warga, untuk mensyukuri kebesaran Tuhan