Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Teman 'Makan' Teman Dialami Abraham Samad

Buka-bukaan ala PLT Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto terkait sepak terjang Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, menjadi bola panas

Editor: Fransiska_Noel

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Buka-bukaan ala Pelaksana tugas Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto terkait sepak terjang Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, menjadi bola panas.

Pengakuan Hasto yang menyatakan pernah menggelar pertemuan khusus dengan Abraham Samad di sebuah apartemen di Jakarta mendapat 'anggukan kepala' dari pemilik apartemen, Supriansa.

Samad sendiri telah membantah adanya pertemuan itu dan menyebut cerita pertemuan antara dirinya dan elite DPIP itu sebagai fitnah.

Supriansa adalah teman Samad di Makassar. Keduanya dulu aktif sebagai aktivis di Sulawesi Selatan.

Dan saat diperiksa di Bareskrim Mabes Polri, Jumat (29/1/2015), Supriansah 'bernyanyi' membeber adanya pertemuan elite PDIP dan Abraham Samad.

Supriansa yang merupakan pemilik unit apartemen di The Capital Residence, Kawasan Niaga Terpadu Sudirman, Jakarta Selatan itu mengamini pertemuan Abraham Samad dengan Hasto Kristiyanto.

Bahkan, Anca -sapaan Supriansa- mengatakan, Abraham Samad sebagai inisiator persamuhan yang diduga melanggar Pasal 36 juncto Pasal 65 Undang-Undang RI Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.

"Saya jawab dengan apa adanya, memang ada pertemuan. Ya sudah," ujar Anca di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (30/1).

Ancak menjelaskan, Abraham Samad mengenakan masker dan topi saat bertemu dengan para petinggi PDIP. Hal itu serupa dengan pengakuan Hasto. "Beliau (Abraham Samad) pakai masker, lalu dilepas saat pertemuan," tuturnya.

Ancak mengaku, dirinya tak banyak bertanya mengapa Abraham mengenakan penutup wajah seperti itu. Saat itu, ia menganggap hal tersebut wajar.

Anca pun tidak menyangka menjadi saksi dalam kasus yang membelit Abraham Samad. Menurutnya, ia hanya meminjamkan sebuah unit di apartemen The Capital Residence untuk Abraham Samad. "Panggilan ini membuat banyak kegiatan saya terbengkalai," katanya.

Ia menyebut, pertemuan dengan tim sukses calon presiden dari PDIP, Joko Widodo medio Maret 2014 itu berlangsung setelah Abraham Samad mendatangi unit apartemennya.

Sebagai seseorang yang telah dikenal sejak tahun 2000 di lembaga swadaya masyarakat antikorupsi di Makassar, Anca pun tidak mampu menolak permintaan Abraham Samad.

"Dengan sopan, beliau (Abraham) sampaikan kepada saya, 'Apakah keberatan jika saya bertemu teman-teman di sini?' Saya bilang, tak ada masalah. Saya berniat baik. Lagi pula saya tidak punya hubungan kerja dengan beliau," ungkapnya.

Tidak lama kemudian, Abraham mengabari Ancak bahwa sejumlah rekannya datang di apartemen.

Anca diminta untuk menjemput. Saat itu, Ancak belum mengetahui bila teman-teman Abraham Samad adalah Hasto Kristiyanto. Ia baru mengetahui Hasto melalui pemberitaan di media telivisi.

Anca juga menambahkan, dirinya tidak terlibat dalam persamuhan itu. Pasalnya, ia tidak memiliki agenda khusus dengan Abraham. Ia hanya mengetahui, pertemuan berlangsung dua kali. Tiap pertemuan berlangsung 30 hingga 45 menit.

"Saya lupa kapan saja pertemuan itu. Maret-kah? April-kah?" lanjut Ancak seraya menyebut, mantan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo turut hadir dalam pertemuan lobi politik antara Abraham Samad dan Hasto Kristiyanto.

"Dalam pertemuan itu, ada AS (Abraham Samad), Hasto, dan kalau tidak salah ada Pak Tjahjo Kumolo," ujarnya.

Kasus dugaan pelanggaran terhadap Abraham ini dilaporkan Direktur Eksekutif KPK Watch M Yusuf Sahide ke Bareskrim Mabes Polri Senin (26/1/2015) lalu.

Abraham dilaporkan telah membahas kesepakatan mengenai proses hukum yang melibatkan politisi PDIP Emir Moeis. Kesepakatan itu terkait keinginan Samad menjadi calon wakil presiden bagi Jokowi dan keringanan hukum bagi Emir Moeis.

Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi telah menjatuhkan vonis tiga tahun penjara terhadap Emir Moeis, yang dijerat dalam kasus suap proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Tarahan, Lampung, tahun 2004.

Sementara itu, barang bukti yang digunakan adalah satu bundel print dokumen dari situs Kompasiana dengan judul "Rumah Kaca Abraham Samad" tanggal 17 Januari 2015.

Sebelumnya, Hasto sudah mengungkap adanya lobi politik Abraham kepada dirinya untuk dapat mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden. Saat itu, pada awal 2014, Hasto mendapat tugas dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk bertemu Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Namun, tak berapa lama kemudian, pria berinisial D menghubungi Hasto. Ia menawarkan Hasto bertemu dengan Abraham Samad. "Di situ kami hanya dibilang, membahas hal-hal yang strategis," ujar Hasto.

Hasto tertarik atas tawaran itu. Menurutnya, bertemu pimpinan KPK merupakan momen yang langka. Hasto lalu datang ke apartemen Capital di kawasan SCBD. Dia masuk melalui lobi depan. D rupanya sudah menunggu di lobi. Keduanya lalu naik ke salah satu lantai di apartemen mewah itu.

Di salah satu ruangan apartemen, Abraham telah menunggu. Menggunakan masker hijau dan topi hitam, Abraham duduk di kursi yang meja di depannya terdapat aneka buah. Hasto, Abraham dan D pun berbincang terkait hal strategis itu.

"Di depan Abraham, dia (D) memohon Bapak Abraham Samad bisa mengikuti proses jadi calon wakil presidennya Pak Jokowi," ujar Hasto.

Hasto mengaku, saat itu tidak dapat menjanjikan apa-apa karena pemilihan presiden masih jauh dan Megawati Soekarnoputri belum memutuskan siapa pasangan yang diusung PDI Perjuangan. Meski demikian, komunikasi dengan Abraham, tetap dijaga.

Oleh sebab itu, pertemuan kedua, ketiga hingga keenam dilaksanakan Hasto dengan Abraham di tempat yang berbeda-beda. Selain D, ada pria berinisial D lain yang mendorong Abraham menjadi cawapres Jokowi. D yang kedua ini, sebut Hasto, adalah sahabat karib Abraham.

Hasto menyebut, saking 'ngebetnya' Abraham ingin menjadi cawapres Jokowi, dia membuat skenario pertemuan dengan Jokowi di ruang VVIP Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.

Sejak saat itu, lobi politik Abraham kian kencang. Abraham juga merancang agenda pertemuan dengan tim sukses Jokowi lain, yakni Hendropriyono dan sejumlah nama yang kini menjadi menteri kabinet kerja.

Namun, akhirnya Jokowi memilih Jusuf Kalla menjadi cawapresnya. Pertimbangannya, Kalla punya pengalaman dan dukungan politik yang jauh lebih kuat daripada bakal cawapres lainnya.

Tanggal 19 Mei 2015, satu hari sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) menutup pendaftaran calon presiden dan wakil presiden, Hasto mengaku ditugaskan Jokowi menyampaikan ke Abraham soal keputusan cawapres itu. Pukul 00.30 WIB, Hasto bertemu Samad yang masih mengenakan masker dan topi.

"Setelah saya ceritakan bahwa yang jadi cawapres adalah JK, Abraham bilang, 'Ya saya tahu, saya sudah melakukan penyadapan'. Dia juga bilang, 'Saya tahu yang menggagalkan saya menjadi calon wakil presiden adalah Pak Budi Gunawan'," ujar Hasto.

Hasto menangkap nada kecewa dari pernyataan Abraham. Dia tak menyangkal tudingan Abraham soal Budi Gunawan.

Abraham Samad belum berbicara perihal tudingan Hasto tentang adanya transaksi politik antara Abraham dan partai politik pendukung Joko Widodo pada masa Pemilu Presiden 2014.
Melalui Deputi Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi Johan Budi, Abraham menyebut pernyataan Hasto sebagai fitnah.

Johan mengatakan, jajaran struktural KPK meminta penjelasan dari Abraham tentang tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepada Abraham. "Bahwa semua yang disampaikan itu adalah fitnah belaka. Pak Abraham membantah dengan keras apa yang dituduhkan oleh Pak Hasto cs," kata Johan Budi. (tribunnews/kps/rik)

Dari Gedung KPK
Hasyim Temui Mega

ANGGOTA Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Hasyim Muzadi menyambangi Komisi Pemberantasan Korupsi. Hasyim menemui Ketua KPK Abraham Samad untuk meredakan ketegangan KPK dan Polri.

"Saya minta kepada Samad agar secara makro suasana ini diredakan," katanya di Kantor KPK, Jakarta Jumat (30/1).

Hasyim berharap agar kemelut di Indonesia pelan pelan bisa mereda. Bila tidak, ia khawatir isu yang sedang melanda negeri ini bisa menyebar ke berbagai arah.

"Nanti bukan hanya masalah Polri-KPK, tapi masalah tata negara. Suasana kenegaraan kita bisa kacau balau," katanya.

Bila masalah ini tidak diredakan, ia juga takut ada pihak yang membesarkan isu nasional ini. "Apalagi kalau ada pihak yang menggoreng masalah ini," katanya.

Ia pun mengingatkan Samad bahwa koruptor di Indonesia masih punya kekuatan untuk memperbesar masalah ini. "Koruptur di Indonesia masih cukup kekuatan untuk menggerakkan jaring-jaring pelaksana negara," katanya.

Setelah bertemu Abraham Samad, Hasyim mengaku akan bertemu dengan Ketua Umum PDIP Megawati. "Mudah-mudahan pendekatan kultural lebih tepat daripada perdebatan-perdebatan politik yang sarat dengan muatan kepentingan," katanya.

Namun Hasyim menolak menjelaskan secara spesifik apa yang hendak disampaikannya kepada putri Mantan Presiden Soekarno itu. "Ya nantilah. Moso saya belum ngomong tapi saya sampaikan ke sampean," katanya.

Namun secara umum, Hasyim mengaku ingin bersilaturahmi dengan Megawati. "Saya ingin bersilaturahmi dan menghadap beliau. Saya belum tahu diterima atau tidak. Mudah-mudahan diterima," katanya.

Selain Hasyim, kemarin, Gedung KPK kedatangan tamu puluhan perempuan cantik yang menamakan dirinya 'Putri Indonesia' datang, dengan mengenakan pakaian yang didominasi warna merah.

Di antara mereka datang dengan membawa bingkai foto bergambar Ketua KPK Abraham Samad. Dalam foto tersebut tertulis SAVE KPK dan SAVE YAYANK BEPPHH. Perempuan cantik yang dimaksud itu mengaku berprofesi sebagai petugas operator telepon.

Kalimat SAVE YAYANK BEPPHH adalah kalimat sindiran yang dilontarkan mengenai sikap Abraham Samad yang dinilai cengeng.

Rahmat Latuconsina, Koordinator Masyarakat Bersama Antikorupsi, yang mendatangkan perempuan-perempuan cantik itu mengatakan, Samad tidak perlu meneteskan air mata terkait permasalahan yang mendera KPK.

"Itu merupakan sindiran bahwasanya kita ingin mengatakan bahwa kalau memang lembaga KPK harus diselamatkan oke kita sepakat kita selamatkan. Tapi tidak komisionernya yang bermasalah," ujar Rahmat di KPK.

Rahmat mengatakan perempuan itu sengaja dicitrakan 'Putri Indonesia' lantaran beredarnya foto rekayasa mirip Abraham Samad bersama Putri Indonesia.

Selain itu, 'Putri Indonesia' itu juga membagi-bagikan tisu kepada siapa saja yang berada di KPK termasuk aparat kepolisian.

"Mereka secara simbolis membagi-bagikan tisu itu adalah gerakan sindiran bahwa Abraham Samad harus hapus airmatanya. Tidak ada pemimpin yang seperti itu, tidak ada pemimpin yang cengeng dan KPK tidak butuh pemimpin yang cengeng," ungkap Rahmat.

Menurut Rahmat, mereka sepakat untuk terlibat lantaran memiliki hubungan emosional dan mereka tertarik ikut lantaran bisa mendongkrak popularitas mereka mengingat isu KPK kini cukup menyita perhatian.

"Mereka itu model. Aku datangi mereka tadi malam ngobrol-ngobrol, aku minta bantuan. Mereka itu perlu eksis. Isu ini menarik. Kita nggak pake bayaran," aku Rahmat.

Ikuti terus informasi terbaru setiap hari di www.tribunmanado.co.id yang selalu menghadirkan berita nasional, olahraga, selebritis, gaya hidup, dan seputar berita Manado terkini

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved