Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ini Kisah Suhari dan 'Spiderman' di Kotamobagu

Di Kotamobagu banyak masyarakat asal luar daerah yang datang untuk mencari nafkah, alasannya pun berbeda-beda. Ini Kisah Suhari dan Spiderman.

Penulis: Handhika Dawangi | Editor:

Mencari nafkah tidak melihat dimana kita tinggal, baik di daerah asal ataupun bukan daerah asal. Di Kotamobagu banyak masyarakat asal luar daerah yang datang untuk mencari nafkah, alasannya pun berbeda-beda ada yang karena ikut teman, bahkan ada yang karena mendapat istri di Kotamobagu.

SUHARI satu diantaranya. Pria asal Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah ini, sudah sejak tahun 1998 menetap di Kotamobagu. "Waktu itu saya menikah dengan seorang perempuan asal Kotamobagu," ujarnya Kepada Tribun Manado, Minggu (14/12/2014) Siang.

Pekerjaanlah yang mempertemukan antara wong Jowo dengan Bobai Kotamobagu. "Dulu saya bekerja di satu perusahaan vanili, kemudian kami panen di sini dan bertemulah saya dengan istri saya," ungkap pria berusia 50 tahun ini.

Selama satu tahun menikah, pasangan Jawa dan Kotamobagu ini dikaruniai seorang anak perempuan, dan itu membuat semua orang bahagia termasuk mereka. Saat istrinya melahirkan Hari berharap akan terlaksana dengan baik, istri maupun anaknya bisa diberikan keselamatan, namun Tuhan bemaksud lain, ia dan istrinya dipisahkan oleh maut pada 1999, istrinya yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi, meninggal saat melahirkan. "Saya sangat sedih waktu itu, tapi itu sudah terjadi," ujarnya, tampak matanya berkaca-kaca ia tak bisa menyembunyikan kepedihannya.

Kehilangan orang yang menjadikannya orang Kotamobagu, tak membuatnya patah semangat menjalani kehidupan bersama anaknya. Kini ia menghidupi anak satu-satunya dengan menjual topeng Spiderman. "Dengan jualan topeng, saya bisa membiayai anak saya sekolah, kini ia sudah duduk di kelas tiga SMP," ujarnya yang kini tinggal di satu rumah kontrakan di Mongkonai.

Penghasilannya setiap hari saat menjual topeng tak menentu, kadang ada, sering tidak. "Penghasilan saya setiap hari tak bisa dihitung, karena tak menentu, untuk makan, ya apa adanya," ujarnya.

Selain menjual topeng, Hari sapaannya yang setiap hari berjualan di Pinggir Jalan Adampe Dolot Mogolaing, depan Hotel Wijaya, ia juga menjajakan buah lemon. "Kalau yang besar, per kilo gramnya Rp 20 ribu, kalau kecil Rp 15 ribu," ujarnya.

Tak ada kata putus asa, Hari akan tetap berjuang membiayai hidupnya dengan berjualan kepala (topeng) spiderman. "Saya akan tetap terus berjualan," ujarnya.(tribunmanado/handhika dawangi)

Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado terkini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved