Selasa, 9 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kenaikan Harga BBM

BBM Naik Rp 2 Ribu, Tarif Tondano-Tomohon Juga Naik Rp 2 Ribu

Meski suda ada tarif yang ditetapkan pemerintah, tapi para sopir tetap saja memberlakukan tarif sesuai keinginan mereka.

Tayang:
Penulis: Finneke | Editor:

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO- Meski pemerintah Provinsi Sulawesi Utara maupun Kabupaten Minahasa telah mengeluarkan kebijakan tarif baru angkutan umum, Selasa (18/11) pekan lalu, para sopir angkot tetap memberlakukan tarif sesuai keinginan mereka. Warga pengguna angkot pun mengeluhkan tindakan sepihak para sopir tersebut. (baca:Tarif Resmi Tondano - Tomohon Rp 5.900 - Tribun Manado )

Semisal angkot jurusan Tondano Tomohon. Para sopir tetap memberlakukan tarif Rp 7.000. Padahal dalam Pergub SH Sarundajang, tarif untuk masyarakat umum hanya Rp 6.900. Sejumlah sopir yang ditemui mengaku kenaikan tersebut tak sesuai dengan kenaikan biaya perawatan kendaraan.

"Kanvas rem, ganti oli dan suku cadang lainnya naik tinggi - tinggi. Ganti oli biasanya hanya Rp 120 ribu, ini jadi Rp 200 ribu lebih. Kalau hanya naik seribu, atau sebesar 20 persen, itu tak sesuai kebutuhan kami," ujar Rocky Mawikere, mantan Ketua Asosiasi Sopir Tondano (Aston) tahun 2013 silam, Jumat pekan lalu.

Tarif yang ideal menurutnya adalah kenaikan sebesar Rp 30 - 40 persen atau setara dengan Rp 7.000, seperti yang diberlakukan semua sopir. Ia mewakili para sopir lainnya meminta Dinas Perhubungan Provinsi untuk meninjau kembali kebijakan yang diambil tersebut. "Jika permintaan kami tak diindahkan, kami akan kembali turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi kami sopir - sopir Aston," pungkasnya.

Senada terjadi para angkot jurusan Tondano - Eris. Sesuai Perbup, untuk tarif penumpang kategori umum Rp 5.100 dan untuk pelajar atau mahasiswa Rp 4.400. Tapi pada kenyataannya, para sopir memasang tarif umum Rp 7.000 dan pelajar atau mahasiswa Rp 6.000. Tak hanya di jurusan tersebut, beberapa jurusan lainnya di wilayah Minahasa juga dikenakan tarif di atas kebijakan pemerintah.

Tindakan sepihak para sopir tersebut mengundang reaksi keras masyarakat pengguna angkot. Mereka menilai, para sopir terlalu mengambil untung dalam kenaikan BBM ini. Tarif sepihak yang rata - rata sebesar Rp 2.000, dinilai warga terlalu berlebihan.

"BBM naik 2.000, masa angkot naik Rp 2.000 juga. Tondano Tomohon misalnya. Itu sama saja para sopir membebani kenaikan itu pada masyarakat. Sangat tak ideal. Sopir angkot jurusan Tondano Eris malah menuliskan sendiri tarif di mobil, seperti mobil dengan nomor plat DB 4640 CA," ujar Fresly M, salah seorang mahasiswa.

Menurutnya, kebijakan pemerintah terkait tarif sudah melewati banyak kajian, yang sudah pasti tak akan merugikan pihak lain. Sikap para sopir yang tetap berkeras pada tarif yang sesuai keinginan mereka mencerminkan sikap tak terpuji.

"Bicara soal kebutuhan, memangnya hanya para sopit yang punya kebutuhan. Semua terkena dampak dari kenaikan BBM ini. Namun jangan mengambil untung. Kalau begini, lebih tinggi BBM naik, para sopir akan semakin untung," ujar Fresly ketus.

Hal hampir sama juga terjadi pada jurusan kampus Unima. Dalam Perbup hanya ada jurusan Tondano - Kampus Unima yang dikenakan biaya Rp 5.100 untuk umum dan Rp 4.400 untuk pelajar atau mahasiswa. Namun realitas di lapangan, angkot menuju Kampus Unima berjurusan Tataaran - Kampus. Sebelumnya tarif dikenakan Rp 3.000. Namun saat ini, para sopir meminta Rp 4.500.

"Kalau bayar Rp 5.000, tak ada uang receh, sopir semakin untung. Padahal jaraknya hanya dekat. Memang tak ada jurusan Tataaran Kampus, makanya tak ada landasan bagi para mahasiswa untuk protes," ujar Gabriella L, salah seorang mahasiswa.

Dari berbagai kasus tersebut, masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengetasi kisruh tarif angkot antara para sopir dan masyarakat pengguna angkot. Agar tak ada pihak yang dirugikan.

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved