Mencekam! Rentetan Tembakan Tiada Henti, "Saya Hanya Ingin Selamat"
Lebih dari tujuh jam kami harus bersembuyi dari terjangan peluru.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Peristiwa penyerangan Mako Brimob Polda Kepri, Rabu (19/11/2014) malam menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Lebih dari tujuh jam kami harus bersembuyi dari terjangan peluru.
Kejadian bermula saat konferensi pers Wagub Kepri Soerya Respationo, Kasat Brimobda Kepri, Kombes Tory Kristianto dan Danrem 033/WP Brigjen TNI Eko Margiyono di Mako Brimob sekitar pukul 15.00.
Konferensi pers terkait perusakan barak teratai Brimbobda Kepri oleh anggota Yonif 134/Tuah Sakti (TS).
Belum selesai pertemuan, tiba-tiba Danrem 033/WP Brigjen TNI Eko Margiyono meninggalkan Mako Brimob.
Merasa penasaran, saya bersama teman wartawan lain, masing-masing Muhammad Bunga Ashab (Koran Sindo Batam), Dedi Manurung (Haluan Kepri) dan Gabriel P Sara (batamtoday.com), Argianto (fotografer Tribun Batam) dan Yofi Yuhendri (Batam Pos) mencoba mencari tahu apa permasalahan yang terjadi.
Informasi yang kami dapat, gudang senjata Yonif 134/TS dibobol dan 10 senjata api laras panjang hilang.
Tiba-tiba Kasi Ops Brimobda Kepri, Ipda Sugeng meminta wartawan beserta enam orang staf Pemprov Kepri untuk tidak keluar dari Mako Brimob. Kami berada di gedung Kompi A Pelopor.
Saya lihat Wagub Kepri Soerya Respationo keluar dan menaiki mobil menuju gedung Mako 1 yang berada di atas bukit.
Saya sempat melihat barisan truk marinir masuk ke Mako Brimob untuk mengantar anggota Brimob yang melakukan pengamanan demo buruh, sekitar pukul 17.00.
Selang lima menit anggota marinir keluar Mako Brimob, terdengar suara tembakan.
Saya dan tiga rekan wartawan lain (Ashab, Dedi, Gabriel) langsung masuk ruang belakang rumah dinas Kasat Brimob. Sedangkan Argi dan Yofi berhasil keluar sebelum penembakan.
Personel Brimob berlindung dalam parit. Senapan diarahkan ke bukit. "Tiarap-tiarap jangan ada yang berdiri. Rekan-rekan wartawan tiarap dan berlindung jangan ada yang keluar. Cari tempat berlindung, dan tunggu instruksi," teriak salah satu anggota Provost Brimobda Kepri saat itu.
Anak-anak dan ibu-ibu menangis histeris. Mereka langsung dievakuasi dengan mobil baracuda menuju ke gedung Mako 1. Sementara saya dan teman-teman masih bertahan di rumah dinas Kasat Brimob.
Menjelang azan Maghrib, suara tembakan pun berhenti. Istri Kasat Brimob meminta kami masuk mobil baracuda dan dievakuasi ke Mako I.
"Cepat lari dan membungkukkan badan. Cepat-cepat masuk dalam mobil. Lawan sudah lepaskan tembakan lagi. Abang wartawan jangan lihat belakang, terus lari aja masuk dalam mobil," teriak istri Kasat Brimob.
Suara tembakan kembali terdengar saat kami turun dari mobil. Kami tiarap dan disuruh masuk ke gedung.
"Tiarap, lari dan masuk gedung. Jangan lihat ke belakang masuk saja di lorong. Jangan nyalakan handphone (HP). Lampunya nanti jadi sasaran tembak," ujar anggota Brimobda Kepri itu sambil berteriak.
Di dalam gedung itu kami langsung bergabung dengan anggota Brimobda yang lain. Dengan suasana gelap gulita, kami dilarang menyalakan HP. Karena lampu dari HP bisa menjadi sasaran tembak.
Dan jika mau menghubungi atau menerima panggilan, harus dilindungi dengan baju atau jaket agar cahaya lampu dari HP itu tidak terlihat.
Kami bersembunyi bersama staf Pemprov Kepri. Sedangkan Wagub Kepri di ruang Kasat Brimob. Tembakan kembali terdengar sekitar lima menit kemudian. Kami tiarap.
Susana pun mulai mencekam. Rentetan senjata tidak henti-henti. Saya pun mencoba untuk mencari tahu keadaan Wagub Kepri. Saya pun nekat menyeberang lorong ke lorong tempat wagub Kepri berlindung.
Saya melihat Wagub Kepri dalam posisi tiarap di salah satu ruangan. Setelah mengetahui keberadaan Wagub Kepri, saya kembali ke lorong dan tiarap.
Pukul 22.00. Saya berhasrat buang air kecil. Di dalam toilet, saya dengar tembakan lagi. Serpihan atap berjatuhan mengenai saya.
"Pak tiarap, tiarap. Matikan HP, itu ada cahaya. Awas jadi sasaran tembak," kata anggota Brimob yang mengantar saya.
Setelah berhasil masuk ke ruang semula, saya dengar Kasat Brimob berkoordinasi menggunakan HT.
"Jangan terpancing dan jangan keluarkan tembakan balasan. Tetap waspada dan tunggu perintah," ujar Kombes Tory.
Rentan suara tembakan dari berbagai arah terus terdengar. Bahkan gedung tempat kami berlindung bersama wagub terus ditembak bertubi-tubi. Kaca pintu pecah, atap gedung berjatuhan. Sampai pukul 23.00 WIB rentetan tembakan terus menjadi-jadi.
Anggota Brimob mencoba untuk menenangkan. "Sabar saja dan bertahan dulu di sini. Semuanya sama perasaan pasti takut. Jangan panik dan waspada saja dulu," kata anggota itu.
Tidak lama terdengar suara imbauan tidak tahu dari mana arahnya. Suara imbauan yang saya dengar ke telinga samar-samar. Tidak lama, suara tembakan berhenti.
Melalui radio HT milik anggota Brimob saat itu terdengar warga mau masuk ke dalam Mako untuk menjemput Wagub dan empar wartawan yang terjebak. Hampir 10 menit kami mendengar infomasi dari radio HT itu. Tidak lama kami juga mendengar salah satu anggota Yonif 134/TS tertembak.
Wagub Kepri, Soerya Respationo pun keluar dari ruangan tempat dia berlindung. Saya dan tiga wartawan lain pun langsung mendekati Soerya itu.
Wagub naik mobil baracuda, sedangkan kami naik mobil lainnya. Kami turun dan melihat warga sudah berkerumun.
Sesampai di rumah, istri dan anak saya langsung memeluk. Waktu di dalam, saya tidak sempat mengangkat telepon dari istri, saya hanya mengirim pesan saat itu. (*)
Baca selengkapnya di Tribun Manado edisi cetak, Jumat (21/11/2014).
Update terus informasi terbaru di www.tribunmanado.co.id