Kenaikan Harga BBM
Bawa Tronton ke DPRD, Buruh dan Sopir Bitung Minta Naik Upah
"Aspirasi kami kepada DPRD Bitung mengenai upah, yang tidak disesuaikan apalagi adanya kenaikan BBM".
Penulis: Christian_Wayongkere | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Christian Wayongkere
TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Ruas Jalan Marthadinata tepatnya depan Kantor DPRD Bitung dan persimpangan jalan SH Sarundajang mendadak dipadati puluhan kendaraan berukuran besar atau truk tronton lengkap dengan muatannya ratusan sak semen. Para sopir truk tronton angkut seman tersebut memarkir kendaraan mereka untuk menyampaikan aspirasi kepada DPRD Bitung untuk ditindak lanjuti dengan pelaksanaan rapat dengar pendapat atau hearing.
"Aspirasi kami kepada DPRD Bitung mengenai upah, yang tidak disesuaikan apalagi adanya kenaikan BBM. Selama 20 tahun kerja sebagai sopir truk tronton angkut semen hanya dihargai Rp.75.000 per pulang pergi (PP) untuk sekali ke tempat penyaluran Semen," tutur Umar, Kamis (20/11) kemarin. Bahkan dirinya mengancam jika upah tidak dinaikan akan melakukan mogok angkut seman untuk dibawa ke lokasi penjualan di luar kota Bitung. "Bukan hanya para sopir sampai buruh angkut semen juga akan melakukan hal yang sama, kami ingin dinaikkan dari Rp 75.000 menjadi Rp 100 ribu," tukasnya.
Sementara itu Sufran dari pihak buruh yang bertugas menurunkan semen dari atas truk mengaku kedatangannya membawa aspirasi ke DPRD untuk menyampaikan mengenai upah yang ingin dinaikkan. "Cuma 1 tuntutan, kse nae akang torang pe bayaran dari Rp 500 perak ke Rp 1.000 per satu sak seman," kata Sufran. Menurut pria yang sering membongkar semen dari PT Sulut Wahana Karya Manado, meminta agar upahnya dinaikkan karena faktor kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang beRpengaruh pada harga kebutuhan pokok. "Samua barang-barang so baku iko nae, jadi kalo torang pe pendapatan leh nda kase nae bagimana mo penuhi tu torang pe kebutuhan (Semua harga barang-barang sudah saling naik kalau penghasilan kami tidak dikasih naik, bagaimana penuhi kebutuhan kami)," ujarnya.
Di tempat teRpisah pihak DPRD Bitung yang menerima aspirasi mereka langsung mengagendakan surat permintaan rapat dengar pendapat atau hearing kepada pimpinan DPRD Bitung, dan langsung di sepakati untuk menggelar hearing bersama dengan lintas komisi yaitu komisi A dan B DPRD Bitung. "Hari pelaksanaan hearing belum ditentukan yang utama aspirasi sudah kami terima dan ketua DPRD Bitung sudah sepakati untuk melakukan hearing," tutur Dance Lengkong Kasubag Aspiras sekretariat DPRD Bitung.
Adapun tuntutan para buruh dan sopir truk angkut semen itu dilayangkan kepada perusahan Sulut Wahana Karya Manado, Epa Bitung dan Sinar Karya Pembangunan Bitung. PT Epa sendiri setelah dilakukan penelusuran ternyata sudah tidak ada perusahan dengan nama tersebut dan bergerak di bidang distributor Semen. Ditempat teRpisah seorang pelaku usaha distributor Semen Tonasa di perusahan Bintang Sukses mengaku apa yang dilakukan sejumlah sopir dan buruh semen membawa aspirasi ke DPRD Bitung sedikit berimbas pada proses pengiriman Semen ke Manado.
"Yang saya sesalkan mereka sempat sandra kendaraan kami di patung Kuda Manembo-nembo saat hendak membawa Semen ke Manado," keluh pria ini dihadapan sejumlah awak media. Pria yang meminta identitasnya dirahasiakan sempat terkejut atas informasi ada beberapa sopir dan buruh yang melakukan mogok untuk bersama-sama membawa aspirasi mereka ke DPRD Bitung.
"Kalau memang mereka mau naik gaji silakan, namun kalau kami tidak sanggup kan tidak bisa di paksakan. Harusnya kalau pun mereka ingin biaya bongkar semen tarifnya satu sak semen Rp 10 ribu atau Rp 100 ribu kami tidak masalah asalkan ada regulasi atau aturan yang jelas kami akan turuti dan regulasi itu akan kami jadikan dasar untuk menaikan harga jual semen ke konsumen," urainya.
Dijelaskannya jika ingin mengikuti kenaikan gaji atau upah dari para sopir dan buruh pascakenaikan harga BBM harus disesuaikan kenaikan di pusat yaitu 10 persen, sehingga idealnya untuk kenaikan upah buruh yang terhitung Rp 500 perak per satu sak Semen bisa menjadi Rp 550 perak atau naik 10 persen. "Coba hitung, gaji para buruh ini sekali bongkar semen di atas satu kendaraan bisa ratusan sak semen sehingga minimal mereka dapat Rp 100 ribu. Belum lagi jika mereka berpindah ke mobil yang lain dengan jumlah bongkaran ratusan dalam sehari mereka sudah punya Rp 100 ribu dikalikan 6 sudah Rp 600 ribu dalam seminggu dikalikan empat minggu dalam sebulah gaji mereka mencapai Rp 2,4 juta," kata dia.
PT Bintang Sukses sendiri saat ini memiliki 6 unit armada angkut semen jenis truk tronton 10 roda, dimana untuk pembayaran buruh Rp 500 per sak. "Itu di luar makan kalau mereka bawa ke Tomohon, Tondano, Kotamobagu sementara kalau ke Manado tidak dapat makan," tukasnya.(*)