Selasa, 9 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kenaikan Harga BBM

Unjuk Rasa BBM, Kapolri: Indonesia Siaga Satu

Kapolri Jenderal Polisi Sutarman memastikan seluruh wilayah Indonesia, masih dalam status siaga satu.

Tayang:
Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA -Sehari pascapemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, berbagai kalangan langsung memberikan tanggapan beragam.

Sementara Kapolri Jenderal Polisi Sutarman memastikan seluruh wilayah Indonesia, masih dalam status siaga satu. Kapolri Jenderal Sutarman juga memastikan, situasi keamanan pascakenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi masih dalam kategori kondusif.
"Sampai dengan saat ini kondisi masih sangat kondusif. Aman," ujar Sutarman usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (18/11/2014) kemarin.

Sutarman menjelaskan kembali, setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan, pihaknya langsung bergerak mengamankan sejumlah stasiun pengisian Bahan Bakar Minyak Umum (SPBU) di sejumlah titik. "Sejak tadi malam lakukan pengamanan mulai dari pom bensin sampai dengan sekarang. Sampai saat ini situasi masih dalam keadaan kondusif," Sutarman memastikan.

Pascakenaikan harga BBM bersubsidi diumumkan, sejumlah masyarakat mulai bereaksi, dengan menggelar aksi unjukrasa, diantaranya di Jakarta dan di Makassar. Sutarman kemudian memastikan, situasi keamanan masih bertahan relatif aman, meski masih kategori siaga Satu

"Siaga satu, saya perintahkan dari kemarin. Duapertiga kekuatan kami siap, stand by (berjaga) pada satuan masing-masing yang ada di pom bensin," ujarnya

Tidak hanya di stasiun pengisian BBM Umum (SPBU) saja, Sutarman mengatakan pihaknya juga menyiagakan aparatnya di titik-titik yang menjadi tempat distribusi. Termasuk, pengiriman bahan bakar dari depo maupun ke SPBU yang ada di Indonesia. "Jadi seluruh Indonesia cukup besar jumlahnya sampai dengan 50 ribu lebih yang kami siagakan," ujarnya.

Cuci piring

Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Suryo Bambang Sulisto mengibaratkan Presiden Joko Widodo sedang 'cuci piring' pemerintahan sebelumnya ketika menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi."Menurut hemat saya sebenarnya itu kenaikan dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Sekarang, ibaratnya seperti kena cuci piring kotor saja, yang pesta orang lain," ujar Suryo kemarin.
Suryo menambahkan, kenaikan harga BBM bersubsidi sudah diantisipasi lama, sejak Susilo Bambang Yudhoyono masih menjabat Presiden, sehingga Jokowi hanya mendapatkan 'warisan' dari pemerintahan sebelumnya. "Ini kan istilahnya oleh pemerintah lalu diwariskan, masalah ini kan sebetulnya pemerintah lalu," ucap Suryo.

Langkah yang diambil pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla ia memastikan, sebuah langkah tepat. Tidak mengulur-ulur waktu menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp2.000. "Sekarang ini okelah sudah naik Rp2.000 per liter. Menurut hemat kami, ngapain sakitnya harus sekali dua kali, kenapa ga sekaligus saja. Ini kan sudah diantisipasi lama, bukan suatu yang mengejutkan, enggak perlu berlama-lama," kata Suryo.

Kemarin, di Jakarta Hiizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar aksi unjuk rasa sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Presiden Joko Widodo menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Aksi digelar di depan Istana Negara, Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 13.30 WIB ini, dan mendapat pengawalan dari petugas. Dalam aksinya massa membawa bendera bertuliskan tulisan Arab dan beberapa spanduk penolakan. Massa terus menyuarakan untuk menolak kenaikan harga BBM. "Tolak kenaikan harga BBM," ujar orator. "Tolak,"jawab pendemo.

Pantauan Tribunnews.com terdapat beberapa spanduk sebagai bentuk penolakan. Diantaranya bertuliskan BBM Naik, Rakyat Sengsara, Asing Gembira, Tolak Kenaikan Harga BBM, Tolak Liberalisasi Migas, Naikkan Harga BBM: Kebijakan Bohong, Zhalim, dan Khianat.(tribun/why/nic/fer)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved