Kenaikan Harga BBM
Kenaikan Harga BBM, BI Prediksi Inflasi 1,96 Persen
TPID akan segera rapat untuk menyusun langkah-langkah antisipasi, khususnya agar barang-barang kebutuhan masyarakat distribusinya lancar dan tersedia.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - BANK Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara (Sulut) memperkirakan dampak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) Subsidi Rp 2.000 yang telah diberlakukan oleh pemerintah akan meningkatkan inflasi 1,96 persen.
"Perkiraan kita dampak BBM total akan meningkatkan inflasi 1,96 persen," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Luctor Tapiheru.
Luctor mengatakan, sejak kenaikan harga BBM yang berlaku mulai pukul 00.00 Wita, dia bersama dengan Wakil Wali Kota Manado, Harley Mangindaan melakukan sidak pasar. Dari sidak yang dilakukan beberapa barang naik sejak empat hari lalu.
Untuk itu TPID akan segera rapat untuk menyusun langkah-langkah antisipasi, khususnya agar barang-barang kebutuhan masyarakat distribusinya lancar dan tersedia di pasar.
Hal ini karena pengendalian tekanan inflasi yang berasal dari non-BBM juga perlu terus dilakukan antara lain melalui peningkatan produksi, memperlancar distribusi, mengelola pasokan pangan dan membangun kerjasama antar daerah dalam penyediaan pangan strategis.
Sidak yang digelar juga diketahui cabe rawit sudah naik sejak minggu lalu dari Rp 40 ribu menjadi Rp 70 ribu per kilogram. Sedangkan telur ayam dari Rp 1.200 per butir menjadi Rp 1.400 per butir.
Sementara itu beberapa pengamat ekonomi Sulut juga memprediksi inflasi akan terjadi di daerah ini pasca kenaikan BBM bersubsidi. " Ini karena berkaitan dengan biaya pengiriman yang memerlukan BBM," ujar Pengamat Ekonomi Toni Agus Poputra.
Kenaikan harga BBM diperkirakan inflasi akan berada pada kisaran 2-2,5 persen. Untuk itu, dia berharap angkutan antar kota dalam provinsi secepatnya mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tarif baru.
Inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat dan memukul terutama pada masyarakat yang berpendapatan tetap. Guna mengurangi dampak ini pemerintah perlu secepatnya mengatur sistem logistik nasional dan pembangunan infrastruktur perhubungan agar dapat menekan biaya transportasi yang disebabkan sistem logistik yang buruk.
Diperkirakan biaya transportasi menyumbang 20 persen harga barang di Indonesia. Kalau ini bisa ditekan maka harga barang di daerah kepulauan dan Papua justru bisa mengalami penurunan.
Sembako naik
Terpantau juga sejumlah harga kebutuhan pokok di Manado mulai bergerak naik, seperti yang terpantau di Pasar Pinasungkulan Karombasan, Selasa (18/11).
Di situ, kenaikan harga terjadi pada beras yang cukup signifikan."Harga beras sudah naik sejak beberapa minggu lalu, karena memang stoknya berkurang, dan ada kemungkinan naik lagi setelah BBM naik," jelas Selfy pedagang beras pasar Karombasan.
Seperti jenis beras Superwin misalnya, awalnya berharga Rp 9 ribu per kilogram naik Rp 9500, dan ada kemungkinan naik lagi karena pengaruh BBM, menjadi Rp 10 ribu atau 11 ribu per kilogram.
Sedangkan harga beras Tompaso, Memramo dan Sarayu Rp 9500, dan kemungkinan naik hingga Rp 10 ribu per kilogram.
Namun yang saat ini harganya naik drastis adalah cabai kini sudah menginjak harga Rp 40 ribu per liter, padahal sebelumnya harga Rp 14 ribu.
"Kami siasati saja penjualan dengan ukuran seperempat kilo Rp 20 ribu, yang lalu Rp 10 ribu, sebab kalau per liter tidak ada yang mau beli," jelas Haris pedagang cabai. Ia menambahkan, kenaikan harga cabai sejak minggu lalu.
"Cabai ini dari Gorontalo, dan harganya naik lantaran cuaca kurang bagus, dan ada kemungkinan bisa naik lagi lantaran BBM naik, kan dibawa kemari menggunakan mobil, '' ujarnya.
Pedagang cabai lain, Umar mengatakan, saat ini harga jual cabai per kilo sudah mencapai Rp 70 ribu dari yang sebelumnya Rp 24 ribu."Kalau per liter sudah Rp 26 ribu dari Rp 10 ribu, sudah seminggu lalu naiknya," ujarnya.
Selain itu, ada bumbu dapur lain yang ikut naik harganya yaitu, lemon ikan sudah menyentuh harga Rp 26 per kilo, padahal awalnya hanya Rp 12 per kilo.
Susye Lumanow, ibu rumah tangga mengatakan, kenaikan harga BBM yang berdampak pada kenaikan harga bahan pokok, dinilainya sangat menyiksa.
"Jelas kami tersiksa, kalau lalu belanja untuk makan sehari hanya Rp 50 ribu, sekarang harus Rp 100 ribu, belum lagi biaya anak sekolah, ongkos angkutan umum," ujarnya.(herviansyah/alpenmartinus)