Kenaikan Harga BBM
Waduh! Tarif Angkot Siswa dan Umum di Tondano Sama, Sopir Naikkan Sepihak
Sopir angkutan umum di Minahasa langsung bereaksi dengan menaikkan tarif angkutan secara sepihak.
Penulis: Finneke | Editor: Fransiska_Noel
Laporan Wartawan Tribun Manado, Finneke Wolajan
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Sehari setelah pengumunan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi Premium menjadi Rp 8.500 dan Solar menjadi Rp. 7.500, sopir angkutan umum di Minahasa langsung bereaksi dengan menaikkan tarif angkutan secara sepihak. Hal itu pun membuat warga resah dan pemerintah segera tetapkan tarif angkutan.
"Pengalaman beberapa kali BBM naik, para sopir tak melaksanakan peraturan yang ada. Seperti pembulatan tarif angkutan. Misalnya hanya Rp 3.500, karena alasan tak ada uang kembalian, sehingga harus bayar Rp 4 ribu," ujar Randy Paat, salah seorang mahasiswa Unima, Selasa (18/11/2014).
Selain itu pula, sejumlah sopir menerapkan tarif yang sama pada siswa dan mahasiswa, dengan masyarakat umum. Menurutnya, sesuai aturan seharusnya para pelajar punya tarif lebih murah dibanding masyarakat umum.
"Kami sangat berharap, ke depan pemerintah bisa melaksanakan fungsi kontrol untuk melihat kondisi di lapangan. Masyarakat juga jangan membiasakan bayar lebih, bayarlah dengan uang pas. Dan untuk para sopir agar jangan membulatkan tarif angkutan," harapnya.
Naiknya tarif angkutan juga dikeluhkan warga lainnya, Gaby Luntungan, mahasiswa Unima. Angkutan jurusan Kampus yang biasanya Rp 3.000, naik menjadi Rp 4.000. Hal itu dinilainya cukup memberatkan. Namun apa boleh buat, menerima kebijakan tersebut adalah pilihan satu - satunya.
"Naik seribu itu banyak, apalagi untuk mahasiswa. Belum lagi dampak ke bahan - bahan lainnya. Pasti naik semua. Ongkos sewa kos, makan dan kebutuhan lainnya. Hal ini akan tertangan jika jajan juga naik. Semoga jajan juga naik," ujarnya semringah.
Sementara itu, sopir angkutan jurusan Tondano - Tomohon, Paath Karwur mengatakan meski belum ada aturan resmi, tarif sudah harus naik agar tak rugi. "Tondano - Tomohon naik Rp 7.000. Sebenarnya tak sampai begitu, hanya sekitar Rp 6.900an atau berapa. Sulit uang receh, jadi dibulatkan saja. Kalau tarif tak dinaikkan, kami yang rugi," ujarnya.
Terpisah, Ketua Organisasi Sopir Langowan Kawangkoan dan Tompaso (Langkatop), Joutje Pandeiroth merasa serba salah. Ia mengatakan BBM sudah naik, otomatis pengeluaran juga meningkat. "Nah, apa yang harus kami lakukan, apakah tetap bertahan dengan tarif lama tapi rugi, atau menaikkan tarif sepihak tapi juga ilegal," ujarnya penuh tanya.
Ia pun berharap Dishubkominfo Minahasa dapat secepatnya menyesuaikan tarif angkutan umum dengan kenaikkan BBM ini. "Hal ini agar tidak ada konflik yang terjadi baik pengguna jasa maupun sopir angkutan umum. Karena mau tidak mau kami harus menaikkan tarif. Untuk itu kami meminta pihak Dishubkominfo Minahasa segera mengambil sikap secepatnya," harapnya.
Kepala Dishubkominfo Minahasa, Royke Kaloh saat dikonfirmasi melalui Kepala Bidang Perhubungan Darat, Arnold M Siby, Selasa (18/11/2014), mengatakan pihaknya masih sementara melakukan kajian untuk penyesuaian tarif angkutan umum dengan kenaikkan BBM tersebut.
"Masih sementara melakukan kajian tarif dan koordinasi dengan pihak provinsi dan pusat. Karena Dishubkminfo harus menyesuaikan kenaikkan ini dengan perhitungan faktor jarak, sosial, ekonomi dan sejumlah faktor lain di masyarakat. Prinsipnya, penyesuaian tarif nanti tidak akan merugikan atau menguntungkan siapa pun," ujarnya sembari mengimbau agar sopir angkutan umum di Minahasa belum menaikkan tarif sepihak. (fin)
Baca selengkapnya di Tribun Manado edisi cetak, Kamis besok (19/11/2014).
Update terus informasi terbaru di www.tribunmanado.co.id