Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cara BPBD Boltim Siap-siap Hadapi Erupsi Gunung Api Ambang

Julius Pelealu mengatakan kegiatan tersebut digelar dengan bekerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis III BPBD Sulawesi Utara.

Penulis: Aldi Ponge | Editor:

Laporan wartawan Tribun Manado Aldi Ponge

TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bolaang Mongondow Timur (Boltim) menggelar sosialisasi kesiap-siagakan erupsi Gunung Api Ambang kepada masyarakat di dua kecamatan di Modayag Bersatu.

Kepala BPBD Boltim, Julius Pelealu mengatakan kegiatan tersebut digelar dengan bekerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis III BPBD Sulawesi Utara. Kegiatan menghadirkan masyarakat dan aparat desa di Kecamatan Modayag dan Modayag Barat yang diprediksi merasakan dampak jika gunung tersebut meletus.

Katanya, berbagai cara antisipasi disosialisasikan dalam acara tersebut kepada warga yang hadir. "Bahaya erupsi harus menjadi bahan penting agar warga terselamatkan dengan kejadian bencana alam, yang memang kita tidak menginginkannya. Namun tak bisa kita bendung kejadiannya," katanya, akhir pekan ini.

Dia berharap dengan sosialisasi tersebut masyarakat mengetahui kondisi dan bahaya erupsi gunung ambang. "Diberitahukan kepada mereka menyangkut jalur-jalur aman evakuasi jika terjadi erupsi besar," katanya.

Kepala UPT wilayah III BPBD Sulut, Yance Lakoy mengatakan status gunung berapi tersebut harus terus diwaspadai oleh seluruh warga sekitar, "Harus diseriusi bersama, karena jika gunung api mengalami peristiwa hembusan atau yang secara teknis dinamakan erupsi ini sudah tanda awas dan sudah patut diwaspadai," tegasnya.

Sebab dalam erupsi ini seperti menyemburkan material vulkanik dalam wujud kerikil, pasir dan debu bersama dengan gas-gas vulkanik ke udara hingga ketinggian tertentu, "Ini penting dalam agar masyarakat tetap dalam posisi kesiap-siagaan," kata dia.

Sehingga dia mengharapkan pemerintah daerah untuk memberi perhatian khusus terhadap penanggulangan jika terjadi bencana erupsi Gunung Ambang.

"Pemerintah harus memiliki rencana penanganan bencana gunung api, mulai dari latihan evakuasi, dan yang juga penting yaitu jalur evakuasi," tegasnya.

Katanya, dengan sosialisasi tersebut masyarakat dapat lebih mengetahui situasi dan kondisi status gunung berapi. Terlebih untuk jalur evakuasi warga dengan memberikan penandaan jalur dengan tanda panah di daerah rawan bencana. "Evakuasi sebaiknya dilakukan tanpa membuat panik masyarakat, ini nantinya yang akan dilakukan tim jika memang terjadi letusan erupsi," kata dia.

Sebelumnya, pada 3 Juli lalu, status Gunung Api Ambang sempat naik status ke waspada level II, padahal selama statusnya normal. Hal ini sempat menggemparkan warga, karena gunung ini lama berstatus normal. Guncangan disebabkan adanya pergerakan magma yang terekam yakni adanya puluhan kali gempa vulkanik dangkal dan vulkanik dalam.

Warga pun sempat dilarang mendaki gunung dan beraktiviktas di radius 1,5 kilometer dari kawah gunung api setinggi 1.689 meter di atas laut ini. Status waspada ini bertahan hingga 7 Agustus setelah pihak Badan Geologi Bandung menurunkan kembali statusnya menjadi normal.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved