Pakar Bicara soal 'Kekurangan' Minahasa di Umur 586 Tahun
Saya kira di HUT ke 586 ini, Minahasa harus berbenah ke depannya," ujar Tangka
Penulis: Finneke | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Hingga menapaki umur ke 586 tahun,banyak potensi di Minahasa sebagai Kabupaten yang belum digarap oleh pemerintah. Padahal jika potensi - potensi itu dimaksimalkan, Minahasa akan menjadi Kabupaten maju. Tokoh masyarakat Minahasa pun menyentil soal itu.
Seperti yang diutarakan Meidy Y Tinangon, Ketua OKP Gerakan Minahasa Muda. Menurutnya, Minahasa kaya akan budaya-budaya unggul baik dari segi artefak budaya maupun budaya nilai dan sikap hidup serta adat istiadat masyarakat. Kesemuanya dinilainya merupakan berkat bagi tou Minahasa yang bisa dikreasikan dan direproduksi menjadi sumber pendapatan daerah.
"Namun sayangnya potensi-potensi tersebut, selama ini belum digarap secara profesional untuk menghasilkan tambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sektor budaya masih cenderung menjadi sektor yang besar pengeluaran daripada pendapatan," ujarnya Selasa (4/11/2014).
Dikatakannya, memang Minahasa sering melakukan kegiatan festival seni budaya maengket, kabasaran, kolintang dan lain sebagainya. Yang memang digelar untuk mempertahankan kreasi budaya lokal. "Namun jika kita telusuri, kegiatan yang sifatnya festival kesenian lebih banyak menimbulkan pengeluaran anggaran yang besar dibanding menjadi sarana pendapatan asli daerah," jelas Tinangon yang juga Ketua KPU Minahasa ini.
Lanjutnya, Minahasa sering melakukan promosi budaya. Tim kesenian Minahasa sering diutus ke luar negeri. Namun, kata dia, ketika budaya itu terpromosi dan menimbulkan minat wisatawan mancanegara berkunjung ke Minahasa, dimana dan kapan mereka pastinya bisa menikmati kekayaan seni budaya Minahasa.
"Kabupaten Minahasa belum punya momentum budaya khusus yang terjadwal. Mungkin menunggu selesainya monumen Benteng Moraya ? Itu tak bisa jadi alasan. Kita punya Bukit Kasih, Watu Pinawetengan dan lokasi Fesbudaton di Paleleoan, Loji Tondano, bahkan situs-situs budaya lain yang tak termanfaatkan. Belum lagi Danau Tondano," ujarnya menyayangkan.
Seyogyanyalah, ujar Tinangon, potensi situs-situs budaya tersebut bisa digabungkan dengan potensi seni budaya dan adat istiadat, serta perayaan momentum-momentum historis Minahasa. Itu dikemas menjadi event wisata momentum historis kultural.
"Jika pengelolaan bisa lebih profesional, termasuk aspek promosinya, maka saya yakin kita bisa mendapatkan penghasilan daerah yang besar. Belum lagi kalau kita mengoptimalkan momentum lainnya. Hal itu juga dapat dimanfaatkan sebagai momen wisata-seni budaya dan sumber PAD," pungkasnya.
Beranjak dari potensi wisata budaya, di bidang pertanian, Pieter Tangka Konsultan pertanian angkat bicara. Menurutnya, potensi pertanian di Minahasa sangat besar. Namun sayangnya pemerintah belum menggarapnya. "Tanah Minahasa subur dan luas, namun sayang tak dimanfaatkan. Belum lagi dengan tenaga - tenaga pertanian yang masih minim pengetahuan," ujarnya.
Ke depan, menurutnya, potensi pertanian Minahasa harus digerakkan dengan sistem terpadu. Semua stakeholder jalan bersama - sama, dan tak ada yang jalan sendiri. "Jika itu jadi, itu bisa jadi kawasan Agrowisata yang tentu akan menunjang sektor lainnya. Saya kira di HUT ke 586 ini, Minahasa harus berbenah ke depannya," ujar Tangka yang juga perwakilan tim transisi Jokowi - JK dari Indonesia Timur.