Pemadaman Listrik

Pemadaman Listrik di Sulut Akan Terus Terjadi

Warga dan kalangan usaha masih akan menikmati krisis listrik di Sulawesi Utara.

Pemadaman Listrik di Sulut  Akan Terus Terjadi
IST
Ilustrasi pemadaman listrik. 

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO - Warga dan kalangan usaha masih akan menikmati krisis listrik di Sulawesi Utara. Sumber daya listrik yang tersedia saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan semua pihak.

Kepada Tribun Manado, Selasa (28/10), Kepala Dinas Pertambangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Sulut, Marly Gumalag mengatakan, pemerintah sudah lama menyadari kondisi kelistrikan di Bumi Nyiur Melambai. Daya tersedia saat ini belum cukup memenuhi kebutuhan listrik yang makin meningkat seiring pertambahan perumahan dan perkembangan usaha. Belum lagi rasio masyarakat Sulut yang menikmati listrik baru mencapai 72 persen.

Kata Gumalag, wajar masyarakat saat ini protes karena 94 persen kapasitas listrik di Sulut digunakan langsung masyarakat. "Sisanya 6 persen untuk kebutuhan industri," katanya.

Pemadaman yang terjadi saat ini, lanjut dia, harus dimengerti karena kerusakan pembangkit listrik di Amurang, Minahasa Selatan, dan turunnya debit air sungai DAS Tondano untuk pembangkit listrik di Tanggari, Minahasa.

Pemerintah, kata dia, tak akan bertahan dengan kondisi ini terus-menerus. Jalan yang ditempuh tentu dengan penambahan daya lewat sumber yang baru. Upaya penambahan daya bukan hal baru. Sejak 2008 proses membangun pembangkit listrik sudah dilakukan.
Dari banyak rencana pembangunan pembangkit listrik, sedikitnya ada dua pembangkit listrik yang sementara berproses untuk menambah daya memenuhi kebutuhan listrik Sulut. Keduanya yakni pembangkit listrik tenaga uap di Kema, Minahasa Utara, dan pembangkit listrik Poigar II.

"(Keduanya) sementara jalan, ada beberapa sudah dirintis. Ada yang Amdal-nya sudah selesai tahun 2008. Berharap nanti dalam waktu tidak terlalu lama sudah siap digunakan," ujar Gumalag tanpa memastikan waktunya.

Penambahan daya listrik, kata Gumalag, memang sudah mendesak. Apalagi tantangan ke depan akan dibukanya Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Merah, Bitung, yang sudah tentu memerlukan tenaga listrik baru. "Selain itu tantangan lain persoalan birokrasi perizinan," kata dia.

Ia mengungkapkan, paling awal menyangkut izin lokasi dan izin prinsip yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota. "Harus welcome, biasanya kalau sudah dapat izin lanjut ke izin yang berikut," katanya.

Semisal pembangkit listrik di Poigar sempat terhambat di izin pemanfaatan hutan. Bila mengurus izin pinjam sudah selesai, berlanjut ke urus pinjam pakai hutan. "Kita berharap dukungan semua pihak ke depan," ujar dia.

* Darurat listrik
Selasa kemarin Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulut menggelar upacara bendera Hari Sumpah Pemuda di halaman Sekretariat KNPI Sulut, Kompleks KONI, Sario. Dalam sambutannya Ketua KNPI Sulut Jackson Kumaat menyentil persoalan listrik yang saat ini dihadapi warga dan kalangan usaha di Sulut.
"Melihat kondisi kelistrikan kita beberapa bulan terakhir ini, saya mau tegaskan bahwa Manado dan sekitarnya sekarang ini bukan saja krisis, tapi sudah tergolong darurat listrik. Bagaimana tidak, setiap hari warga disuguhi dengan pemadaman listrik hingga berjam-jam oleh pihak PLN," tegasnya.
Persoalan kelistrikan menjadi sorotannya dalam peringatan hari Sumpah Pemuda itu karena disadari akibat dari kondisi itu, tidak sedikit kerugian yang dialami oleh pelanggan, karena alat elektroniknya banyak rusak akibat pemadaman.
"Tak hanya itu, akibat kondisi yang seperti ini, investor jadi enggan berinfestasi di daerah ini, sehingga akibat dari krisis listrik peningkatan pembangunan di daerah jadi terhambat," tandasnya.
Seusai menggelar upacara, KNPI berunjuk rasa di kantor PT PLN Suluttenggo di Jalan Bethesda. Bastian, Pelaksana Harian General Manajer PLN Suluttenggo mengungkapkan, krisis listrik yang terjadi di Suluttenggo karena saat ini terjadi defisit.
PLTU Lahendong, Tomohon, kata dia, mengalami defisit 45 Kilo Watt karena uap gasnya banyak mengandung asam, sehingga tidak banyak yang dipakai. Selain itu PLTA Tanggari, kekurangan debit air. Demikian juga pembangkit di Minsel yang masih dalam perbaikan. "Harapannya tentu debit air bisa bertambah untuk pembangkit Tanggari dan perbaikan di Minsel bisa segera selesai. Kita ikut berdoa semoga masalah ini bisa cepat selesai," ungkap Bastian.(ryo/tos)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved