Kamis, 9 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Lipsus Pencari Suaka

20 Imigran Dipindah ke Surabaya, Omid Takkan Lupakan Manado

Suasana haru mewarnai keberangkatan 20 imigran asal Negara Afganistan, Somalia dan Timur Tengah di Rumah Detensi Imigrasi Manado, Jumat (26/9).

Penulis: | Editor:

Suasana haru mewarnai keberangkatan 20 imigran asal Negara Afganistan, Somalia dan Timur Tengah di Rumah Detensi Imigrasi Manado, Jumat (26/9).

PARA imigran saling berjabat tangan melepas rindu sebelum berpisah. Satu di antaranya Zaki (22). Ia sudah berada di Manado kurang lebih satu bulan. Zaki dan ratusan warga Afganistan menempati Rudenim Manado. Ia awalnya ditampung di Jakarta kemudian pindah ke Manado. "Manado it's beautyfull country, and perfect people," ujarnya saat mengucapkan bahasa Inggris dengan Tribun Manado, Jumat (26/9).

Zaki kemudian diberangkatkan bersama 19 warga afganistan ke Surabaya, tampak warga negara asing itu melepas rindu berjabat tangan karena akan meninggalkan Kota Manado dan Menuju Rudenim Surabaya.

Pantauan Tribun Manado, di dalam ruangan yang seperti rumah itu terdapat delapan bilik yang ditempati pencari suaka. Meskipun bersesak-sesakan di rumah itu, para imigran nampaknya nyaman beristirahat di rumah kecil itu. Saat masuk ke ruangan, di sisi kiri dan kanan beberapa di antara dari mereka sedang tidur hanya beralaskan tikar.

Saat memasuki dapur, beberapa di antaranya sedang sibuk, ada yang memasak dan mencuci pakaian. Memang mereka diawasi dan dijaga pihak Imigrasi. Mereka beramai-ramai mengolah makanan seperti nasi goreng, mie ceplok, telur dadar dan sebagainya.

Qais Omid, warga Afganistan yang sudah hampir satu tahun berada di Manado mengatakan karena sudah lumayan lama di Manado sehingga Omid sudah lancar berbahasa Indonesia dan logat Manado.

Omid menceritakan asal-usulnya kenapa sampai bisa ke Indonesia dan hingga sampai ke Manado. Dengan berbahasa Indonesia diapun mengatakan selama di Afganistan suasana sudah tidak aman. "Karena di sana saya tidak bisa tinggal, dari Taliban mencari saya! Karena saya bantu polisi," katanya dengan fasih berbahasa Indonesia.

Karena dia mengetahui keberadaan Taliban sehingga dia memberitahukan kepada polisi tempat yang ditinggali para Taliban tersebut.
Omid dibantu oleh pamannya Habibula mencari tempat aman karena dia sedang dicari Taliban. Melewati transportasi udara dan laut sehingga dia bisa sampai di Indonesia Manado dengan aman. Dia naik pesawat dari Afganistan - India. India - Malaysia, dan Malaysia ke Indonesia naik kapal laut.

"Sebenarnya saya tidak mau lagi ke Afganistan, karena tidak aman, tapi itu warga negara saya, jadi kalau sudah aman barulah saya akan balik ke negara saya," tutur Omid.

Lanjutnya, selama di Indonesia, kontak dengan keluarga di Afganistan baik-baik saja. "Saudara di sana semua baik, sehat dan aman," tuturnya. Omid merupakan pemuda yang bisa dikatakan gaed (penerjemah) teman-teman Afganistan, karena hanya dialah yang tahu berbahasa Indonesia.

Omid pada hari ini (kemarin) diberangkatkan ke Surabaya. Raut wajah tampak sedih ketika beberapa teman mereka berpisah dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya. "Kota Manado saya tidak akan lupakan, karena situasi di sini aman, nyaman dan tidak seperti di daerah saya, saya berharap daerah saya Afganistan bisa kembali aman seperti di sini, saya terima kasih buat Imigrasi Manado yang sudah menampung saya," tuturnya saat menaiki bus Imigrasi menuju Bandara Sam Ratulangi.

Dikatakan Nainggolan, Kasie Wasdakim Pengawasan Orang Asing, Imigrasi Manado, para imigran selama berada di Manado ditangani oleh Intenational Organization of Migration (IOM). "Saat orang asing keluar masuk ke Manado, semuanya diperiksa agar mengantisipati hal yang tidak diinginkan terjadi," tuturnya kepada Tribun Manado.

Lanjutnya, kemarin telah diberangkatkan 20 WNA ke Surabaya. "Permintaan Rudenim Surabaya yang berusia mudah-mudah semua, mereka menggunakan pesawat Lion Air," katanya.

Pemberangkatan selanjutnya menurut Nainggolan semuanya bertahap. "Mereka di sini pencari suaka, jadi mereka hanya sebentar di Manado, kami berkoordinasi dengan Rudenim lain, kalau ada yang kosong kami kirim sebagian kesana." imbuhnya. Semua warga Afganistan bermodalkan kartu dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). (ferdinand ranti)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved