Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Wagub Sulut Singgung Sindulang Paling Rawan Panah Wayer

Penandatanganan perjanjian damai antarkelompok warga dan pemuda di Sindulang beberapa waktu lalu ternoda.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Penandatanganan perjanjian damai antarkelompok warga dan pemuda di Sindulang beberapa waktu lalu ternoda. Minggu (24/8/2014) sekitar pukul 05.00 Wita, tawuran antarwarga kembali terjadi di tepi pantai Boulevard Dua, Kelurahan Sindulang, Kecamatan Tuminting, antara warga Lorong Lumba-lumba dan Kampung Sanger.

Pertikaian itu sampai juga ke telinga Wakil Gubernur Sulawesi Utara Djouhari Kansil. Saat mengikuti ibadah bersama Jemaat GMIM Sion Kelurahan Sindulang I, Kansil menyinggung peristiwa itu.

"Tadi subuh (minggu pagi) anak-anak Kampung Sanger dengan Lumba-lumba terjadi perkelahian dan saling serang satu dengan yang lain yang disertai panah wayer," ujarnya.
Ia menyebut Kelurahan Sindulang I dan II serta Karang Ria merupakan daerah yang masih rawan senjata berbahaya panah wayer. Itu merupakan Dari hasil pemetaan kriminal. "Terutama Kampung Sanger dan kompleks Lumba-lumba hampir setiap saat terjadi perkelahian antarkampung yang disertai panah wayer," katanya.

Daripada menggunakan panah wayer, lanjut Wagub, lebih baik mencoba Empat Wayer. Empat Wayer merupakan nama tarian etnis Nusa Utara.

"Lebih baik warga Sindulang dan Karang Ria terus budayakan tarian Empat Wayer yang merupakan warisan leluhur dari Nusa Utara, ketimbang main-main panah wayer yang pada akhirnya akan berurusan dengan aparat hukum," ujar pejabat yang juga pernah tinggal di Kelurahan Sindulang II ini.

Dari informasi yang dirangkung Tribun di lokasi pertikaian, perselisihan berawal beberapa hari sebelumnya. Satu di antara pihak terlebih dahulu melempar batu ke rumah pihak lainnya. Saat itu pelemparan tak ditanggapi.

Tak ada reaksi, pelemparan kembali terjadi pada Minggu subuh. Aksi itu pun langsung mendapatkan balasan. Saling lempar kedua kelompok berlangsung sekitar selama 30 menit, sebelum aparat keamanan gabungan dari TNI-Polri dan Satpol PP yang berada di lokasi langsung membubarkan massa dari kedua kubu.

Pantauan di lokasi Boulevard Dua, tepat di tengah-tengah antara dua kampung tersebut berserakan pecahan botol dan batu-batu. Hingga pukul 16.30 aparat Polsek Tuminting dan pemerintah setempat masih berjaga-jaga di lokasi.

"Kami mengimbau masyarakat kedua kubu menjaga keamanan, jangan sampai terpancing untuk melakukan aksi yang merugikan seperti saling lempar," ujar Kapolsek Tuminting Ajun Komisaris Matius Amiman di lokasi kejadian.(ryo/dik)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved