Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Edisi Minggu Health

Hindari Makanan Instan, Perbanyak Sayuran

Masyarakat Indonesia yang sudah mengenyam pendidikan akan setuju bila dikatakan bahwa pola makan yang baik adalah pola makan dengan gizi seimbang.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel

Edisi Minggu: Health

Oleh Alexander Pattyranie

TRIBUNMANADO.CO.ID - Masyarakat Indonesia yang sudah mengenyam pendidikan akan setuju bila dikatakan bahwa pola makan yang baik adalah pola makan dengan gizi seimbang.

Selain makanan pokok, menurut dokter yang bertugas sebagai pemerhatikan kesehatan para atlet olahraga Sulawesi Utara (Sulut) dengan jabatan Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Komite Olahraga Nasional Indonesia KONI) Sulut, dr Joy AM Rattu MS PhD AIFO, saat ditemui di Sekretariat KONI Sulut, Sario, Manado, Jumat (22/8/2014), manusia juga perlu melengkapiya dengan buah dan sayur untuk mendapatkan gizi yang seimbang.

"Kebanyakan masyarakat berpandangan bahwa peran buah dan sayur hanya sebagai pelengkap, sehingga seringkali buah dan sayur tidak dikonsumsi secara teratur," ujar pria yang berdomisili di Kelurahan Batu Kota Lingkungan V, Kecamatan Malalayang, Manado.

Padahal, tambah dia, sayur dan buah mengandung vitamin dan mineral yakni vitamin A, C,E, asam folat, zinc, magnesium, kalsium, dan potasium. Selain itu, sayur dan buah juga mengandung anti oksidan, serat baik yang  larut dan tidak larut, zat-zat gizi dari tumbuhan, mineral, enzim pencernaan, dan air yang tidak dapat ditemukan di suplemen.

Sayur membantu kesehatan saluran cerna yang mampu menghindarkan sembelit atau konstipasi. Juga  menjaga kadar gula darah dan lemak darah agar tetap stabil. Vitamin dan mineral mampu mencegah kerusakan sel akibat proses oksidasi yang berasal dari kegiatan sehari-hari misalnya asap rokok, polusi, dan metabolisme tubuh sendiri.

"Penelitian mebuktikan bahwa konsumsi minimal dua porsi buah dan tiga porsi sayur setiap hari secara teratur, misalnya tiga porsi sayur setiap hari secara teratur mencegah berbagai penyakit degeneratif. Penyakit lain yang bisa dihindari adalah kencing manis, kanker, obesitas, dan penuaan dini. Juga memperlancar proses metabolisme, meningkatkan kesehatan saluran cerna, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mencegah kerusakan sel," terang dia.

Saat ditanya soal makanan instan, Mie instan sudah menjadi makanan yang umum di Indonesia, terutama bagi anak kos, cara masak yang mudah dan rasa yang nikmat membuat makanan cepat saji ini digemari banyak orang.

"Konsumsi mie instani jangan terlalu keseringan, karena ada bahaya kesehatan yang mengintai. Mie instan memang bisa meredam rasa lapar, tapi makanan cepat saji ini tidak bisa menggantikan nutrisi yang dibutuhkan tubuh," terang dia kemudian menambahkan, dengan bumbu buatan dan pengawer kimia, semakin membahayakan kesehatan tubuh.

Pasalnya mie instan antara lain mengandung MSG Monosodium Glutamate yang berfungsi sebagai peningkat rasa mie, dengan hal tersebut sekitar satu hingga dua persen dari populasi, alergi terhadap MSG. "Ketika orang-orang mengonsumsinya, maka dapat menyebabkan antara lain rasa terbakar, panas di dada, kemerahan pada wajah, atau nyeri serta sakit kepala," terang pria yang menamatkan studinya di luar negeri ini.

Ia menambahkan, mie instan juga mengandung jumlah natrium yang tinggi. Kelebihan mengonsumsi natrium, menurutnya bisa menyebabkan hipertensi, penyakit jantung, strok, dan kerusakan ginjal. "Jadi, hindari mengonsumsi mie instan yang berlebihan," tuturnya. (alexander pattyranie)

Biodata

Nama: dr. Joy A.M, Rattu, MS, PhD, AIFO
Alamat: Batu Kota Lingkungan V, Kecamatan Malalayang, Manado.
Pendidikan:
- Fakultas Kedokteran UNSRAT (Dokter Umum)
- Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.
- Department of Environment and Sport Sciences, Manchester Metropolitan University, Inggris.
- School of Human Sciences, Liverpool John Moores University, Inggris. (PhD)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved