Satpol PP Suruh Pedagang Asongan Manado Istirahat saat Wali Kota Lewat
Teriknya Sinar matahari tidak mengendurkan langkah kaki seorang lelaki asal Gorontalo untuk berjualan asongan.
Teriknya Sinar matahari tidak mengendurkan langkah kaki seorang lelaki asal Gorontalo untuk berjualan asongan.
BOBY Hamzah (29), menjajakan jualan sejak pagi hingga sore di belakang swalayan Jumbo dan sekitar Polresta Manado. Sudah 14 tahun pria yang berdomisili di Kelurahan Ketang Baru, Lingkungan III, Kecamatan Singkil, ini berjualan asongan.
Mulanya ia hanya berjualan korek api. "Kita jualan asongan ini sejak tahun 2000. Awalnya setelah kita pe orangtua meninggal, kita jualan tas kecil, kemudian kita jualan korek api dari kayu. Kemudian kita jualan asongan ini," kata Bobby saat ditemui Tribun Manado, Selasa (19/8).
Boby yang hanya berpendidikan sekolah dasar ini mengaku hasil jualan asongannya tak menentu setiap harinya. Walaupun demikian, pendapatan tersebut sudah cukup memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.
"Pendapatan kalau setiap hari tak menentu. Kalau lagi ramai biasa dapat sekitar Rp 100 ribu, tapi kalau lagi sepi biasa dapat sekitar Rp 70 ribu atau Rp 80 ribu. Kalau untuk pribadi," ujarnya.
Bobby menjajakan berbagai rokok batangan, air mineral, hingga makanan kecil seperti kacang goreng dan permen. Ia mengatakan, modal awal diberikan bantuan dari temannya dan akan dikembalikan secara menyicil. "Kita tiap hari bayar setoran ke bos Rp 20 ribu. Tapi kalau rokok kita sudah punya uang sendiri. Jualan begini, sukanya tiap hari kita senang kalau ada yang beli dagangan," tutur Boby.
Kadangkala pedagang asongan sering mendapat razia dari Satpol PP. Namun Boby mengaku, selama ini ia tak pernah kena razia. Namun ia sering mendapatkan penertiban dari anggota Satpol PP untuk satu atau dua jam.
"Kita pernah ditertibkan, kalau ada pejabat yang mau lewat seperti pejabat negara atau wali kota, kita diberitahu sama anggota satpol PP untuk istirahat jangan jualan di pinggir jalan selama satu atau dua jam," ucapnya. (deffriatnoneke)