Kamis, 4 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Suami Istri Usaha Atap Katu di Minut

Panas terik dan hujan tak menghalangi pasangan suami istri, Sandi Tingkai dan Dika Nelwan menekuti usaha mereka.

Tayang:
Penulis: Alexander_Pattyranie | Editor: Lodie_Tombeg

Panas terik dan hujan tak menghalangi pasangan suami istri, Sandi Tingkai dan Dika Nelwan menekuti usaha mereka sebagai pembuat dan penjual katu (penutup atap) berbahan daun sagu (rumbiak).

DITEMUI Tribun Manado di lokasi usahanya Jaga VII, Desa Maumbi, Kalawat, Minahasa Utara (Minut, pasangan suami istri berumur 47 tahun terihat sibuk dengan aktivitasnya. Keduanya sempat bercerita bagaimana membangun usaha demi menyekolahkan ketiga anak mereka.

Dika mengatakan, dengan usaha tersebut telah menamatkan pendidikan dua anak perempuannya. Sedangkan anak terakhirnya laki-laki sementara menimba ilmu di bangku kelas satu SMP.

Untuk mencari nafkah, mulai pukul 07.00 Wita, Dika sudah memulai bekerja menjahit katu di bawah pohon mangga yang berukuran besar tak mengiraukan panas atau hujan, ia bekerja hingga pukul 17.00 dan menyelesaikan 75 lembar atap katu atau biasa mereka sebut paras.

Sedangkan, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat katu antara lain, daun pohon sagu, bambu berukuran kecil yang biasa disebut bulu tui, dan bambu biasa. Sementara itu, untuk menyediakan bahan-bahan tersebut, sulit didapatkan.

"Yang paling susah itu, mencari daun katu," ungkap Sandi yang saat itu duduk berbincang bersama dalam ruang tamu rumah mereka, sembari mengangkat lengan kanannya menunjukkan beberapa lokasi yang pernah didatangi mereka.

Beberapa lokasi tersebut yang dikunjungi merekea hanya untuk mencari pohon sagu antara lain di Kelurahan Paal IV, Kecamatan Airmadidi, Kelurahan Kombos, Kelurahan Paniki, hingga ke Desa Talawaan. Sementara, jika menemukan pohon sagu, Sandi dan Dika harus bernegosiasi dengan harga daunnya. "Biasanya dipatok rata-rata Rp 5.000 per pules (daun pohon sagu yang dikumpulkan dan diikat menjadi satu berbentuk bulat)," beber Dika.

Hal yang menyulitkan, jika sampai di lokasi pengambilan daun sagu, namun harus masuk jalan tanah ukuran satu orang berjarak jauh untuk tiba di rumah pemiliknya. Selain itu, ia mengaku, setiap bahannya serba beli, seperti bambu dan bulu tui. "Semua serba beli," ujarnya.

Dika menjual katu dipatok Rp 3.000 per paras, sementara, untuk saat ini ia mampu menyediakan hingga 2.000 paras. Sedangkan para pelanggan yang datang kurang, padahal di tempat tersebut merupakan produksi yang berkulitas.

Namun, ia tetap bersyukur kepada Sang Pencipta. "Bersyukur kepada Tuhan, yang mana Tuhan selalu memberkati sehingga berhasil menyekolahkan anak," spontan Dika, bagi pelanggan yang ingin berlangganan, hubungi 085398752869 atau, bisa kunjungi langsung rumah mereka Jalan Leo, Desa Mamubi depan monumen Walanda Maramis atau biasa disebut tempat jual katu di bawah pohon mangga besar. *

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved