Jumat, 5 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Rohani Katolik

Kisah Bocah Minta Dibotaki Rambutnya di Perayaan Petrus dan Paulus

Kemarin, Minggu, (29/6/2014), Gereja Katolik merayakan Hari Raya Petrus dan Paulus.

Tayang:
Penulis: | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kemarin, Minggu, (29/6/2014), Gereja Katolik merayakan Hari Raya Petrus dan Paulus. Beberapa paroki seperti Santo Petrus Langowan dan Santo Paulus Lembean, merayakan pesta pelindungnya pada hari ini. Khusus untuk paroki Lembean, acara untuk itu sudah dibuat minggu lalu bersamaan dengan pemberian Sakramen Krisma oleh Uskup Manado, Mgr Josephus Suwatan MSC.

"Tidak ada acara di hari ini. Ini demi kesederhanaan," ujarnya.

Perayaan ini sendiri bukan hanya dirayakan oleh paroki, stasi. atau kelompk kategorial yang memakai nama orang kudus ini menjadi pelindungnya tapi juga dirayakan Gereja semesta. Di stasi Santo Fransiskus Xaverius Maumbi, Paroki Santa Ursula Watutumou, umat merayakannya dalam misa kudus yang dipimpin oleh Pastor Ventje Runtulalo, Rektor Seminari Pineleng.

Pastor Ventje memulai dengan cerita tentang seorang anak perempuan kecil berumur sepuluh tahun bernama Jein. Ia berambut hitam yang panjang.

"Suatu saat saat sedang makan dengan omanya Ruth, bersama ayah dan ibunya, Meis dan Robi ia meminta mereka untuk mengabulkan permintaannya," ujar dosen Kitab Suci lulusan Prancis itu.

Sebelum itu, mereka diminta berjanji untuk tidak menanyakan apapun soal permintaannya itu. Semua terkejut ketika ia meminta untuk membotaki rambutnya. Ibu dan neneknya tidak mengizinkan tapi ayahnya mengiyakan.

Sampai di gerbang sekolah bersama sang ayah, seorang anak dengan rupa kebotakan serupa ditemui mereka. Gadis kecil bernama Siska yang dihantar ayahnya John itu rupanya sakit dan harus botak karena itu.

"Anak anda berhati mulia," kata John kepada Robi.

Runtulalo kemudian menyebut pengenalan itu ternyata bernilai. Ada harga dari mengenal. Petrus yang juga mendengar bahwa Yesus disebut Yohanes Pembabtis, Elia, menyebut Yesus itu Mesias Anak Allah karena pengenalannya akan Yesus.

"Akhirnya Simon mendapatkan 3 pengakuan. Pertama Simon yang artinya "didengarkan" menjadi Petrus yang dalam bahasa Latin artinya batu karang. Di atas batu karang itu Yesus mendirikan Gereja-Nya," ujarnya.

Petrus, kata Pastor Ventje, bukan manusia hebat lalu dipilih Yesus. Tapi Yesus ingin menunjukkan penghargaan terhadap kemanusiaan.

"Kedua, seperti dikatakan Yesus, Gereja tidak akan dikalahkan oleh alam maut. Penganiayaan itu terjadi pada Gereja yang sudah berumur 2 ribu tahun ini, apalagi setelah jaman Yesus berkarya sampai tahun 315 Masehi. Banyak darah tertumpah tapi Gereja selalu menang," katanya.

Ketiga, Yesus memberikan Kerajaan Allah kepada Petrus. Kata Pastor Ventje, Yesus juga mengatakan bahwa apa yang dilepas di dunia akan terlepas di surga, begitu pula dengan ikatan.

"Karena itu dalam tradisi Gereja, imam bisa memberikan absolusi atau pengampunan atas nama Gereja. Di sini ada hubungan antara dunia dan surga," tuturnya.

Pastor Ventje kemudian lebih mengupas lebih dalam tentang penganiayaan yang tertulis dalam bacaan injil itu. Menurutnya, injil Matius ditulis oleh orang Kristen dari kalangan Yahudi.

"Jadi mereka disebut juga pembelot. Tapi mereka tetap berjuang untuk menunjukkan bahwa inilah jemaat yang benar, jemaat yang dikehendaki Yesus sendiri," ujarnya.

Dalam bacaan pertama, kata Pastor Ventje, Tuhan mau menunjukkan bahwa Yesus menyertai Gereja dalam penganiayaan. Isi cerita tentang keinginan untuk membunuh Yakobus, kepala jemaat di Yerusalem juga menceritakan penangkapan Petrus.

"Petrus dijaga empat regu dengan empat penjaga. Jadi seluruhnya 16 orang. Ia juga dijaga dua orang di samping kiri dan kanan," ujarnya.

Tapi Tuhan, ujar pastor Ventje yang ingin melindungi dasar Gereja ini, melalui malaikatnya membuka gembok dan memberi kelepasan.

"Petrus, sang wadas sungguh ingin dijaga. Dan keyakinan akan tuntunan Tuhan itu dimiliki rasul Paulus," katanya.

Dikatakannya, Paulus bukan pewarta yang tidak pernah salah. Tapi Paulus karena pertobatannya harus juga mengalami penderitaan.

"Kapalnya pernah karam dan penderitaan yang lain tapi Tuhan mendampingi. Bersama Petrus, Paulus menerima mahkota kemenangan karena ia telah meyakini selalu dijaga Tuhan," ujarnya.

Sebagai ilustrasi akhir, Pastor Ventje menceritakan tentang seorang pemain sirkus dalam wanana tali yang tingginya delapan meter dan panjangnya sepuluh meter. Pemain sirkus itu berhasil melewati tali itu di depan penonton.

"Ia menantang penonton akan berjalan mundur, penonton sangsi tapi ia berhasil melakukannya. Begitu juga ketika akan melompat-lompat," katanya.

Sang pemain sirkus kemudian menantang penonton untuk naik ke punggungnya sambil ia berjalan di atas tali. Tapi tak ada yang bersedia.

"Lalu ada anak yang langsung naik ke punggung sang bapak. Dengan anak itu di punggung, bapak itu kembali berhasil melakukan semuanya," ujarnya.

Jawaban dari keberhasilan itu menurut pastor Ventje ialah anak itu merupakan anak kandung sang pemain sirkus. Pengenalan sang anak sama dengan pengenalan manusia terhadap Allah.

"Banyak hambatan yang akan kita alami tapi Tuhan menjaga kita Gereja yang didasarkan oleh para rasul ini. Karena itu jadilah pembawa keadilan, dan pewarta iman," katanya. (david manewus)

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved