Temukan Ketenangan di Pantai Kambahu Minahasa Utara
Memilih pantai sebagai lokasi ibadah wisata dikarenakan suasana tepi laut membuat suasana hati tenang dan tentram.
Penulis: Christian_Wayongkere | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Memilih pantai sebagai lokasi ibadah wisata dikarenakan suasana tepi laut membuat suasana hati tenang dan tentram.
Keindahan dan panorama Pantai Kambahu di antara Kelurahan Kasawari dan Makawidey, Kecamatan Aertembaga, dimanfaatkan warga untuk melepaskan kepenatan. Saat tanggal merah Selasa (27/5/2014), ratusan pengunjung dari dan luar kota Bitung mengunjungi pantai ini.
"Kami dari Tomohon mau ibadah wisata di Pantai," ujar Iwo kepada Tribun Manado.
Menurutnya, memilih pantai sebagai lokasi ibadah wisata lebih dikarenakan suasana tepi laut membuat suasana hati tenang dan tentram. "Selain itu kami sebagai orang Tomohon jarang sekali mandi di pantai," katanya lalu tersenyum.
Bersama dengan puluhan rekannya yang menggunakan bus rombongan dari kota Bunga ini, setibanya di lokasi Pantai Kambahu mereka langsung menempatkan pemondokan yang telah disiapkan.
"Kami juga setiap ibadah wisata ke pantai seperti ini selalu membawa bekal berupa makanan dan minuman, jadi selesai ibadah bisa santai makan baru mandi pantai," tukasnya.
Pantauan Tribun Manado, puluhan kendaraan roda dua dan empat berjejeran terparkir di sekitar Pantai Kambahu, sementara pengunjung memadati pondok-pondok yang tepat berada di tepi pantai. Banyak di antara pengunjung yang mandi, beribadah wisata hingga bermain-main di tepi pantai. Sound sistem yang digunakan pengunjung melantunkan lagu-lagu membuat suasana semakin ramai, selain itu penggunaan sound sistem dipergunakan pengunjung untuk melaksanakan ibadah.
Jhon Lahinda (48), mandor di Pantai Kambahu menuturkan, jika hari libur tiba pihaknya harus bekerja ekstra untuk mempersiapkan tempat dan lainnya.
"Di sini kami menyiapkan ada 15 unit pondok yang bisa digunakan pengunjung disertai dengan fasilitas listrik. Selain itu ada permainan banana boat yang bisa digunakan pengunjung," kata Jhon ketika diwawancarai Tribun Manado.
Dijelaskannya setiap pondok disewakan kepada pengunjung dengan harga Rp 250 ribu berlaku untuk hari libur dan hari-hari biasanya. "Selama hari libur di bulan Mei ini yang paling banyak pengunjungnya waktu libur kemarin, hampir semua pondok dan pesisir pantai dipenuhi pengunjung," kata dia sembari menambahkan omset yang diterimanya jika hari libur tergantung banyak tidaknya pengungjung yang datang.
"Untuk pendapatan yang saya terima dari pengunjung yang datang kemari mencapai Rp 2 juta. Hasil tersebut diperoleh dari biaya sewa pondok dan biaya masuk untuk roda dua Rp 5 ribu dan mobil Rp 20 ribu," urainya.
Lanjutnya, jumlah Rp 2 juta yang diterimanya masih akan dipotong lagi untuk kebersihan pascapengunjung pulang. "Selain saya sebagai mandor, ada dua orang yang mengurus pantai ini. Sehingga penghasilan bersih yang diperoleh hanya Rp 600 ribu," katanya.
Sebagai pengelola Pantai Kambahu dirinya sering diperhadapkan dengan kondisi sampah yang beraneka ragam jenisnya. "Paling susah itu bersihkan sampah," tambahnya.
Warga Kelurahan Pateten III yang belum lama menjadi mandor penjaga pantai ini, memulai aktifitasnya sejak pukul 08.00 pagi hingga senja.
"Kadang kalau waktu hari libur dan banyak pengunjung harus keluar dari rumah pagi-pagi sekali dan kembali pukul 18.00 wita setelah selesai beres-beres. Pantai ini sendiri dibuka untuk umum setiap hari, kalau hari Minggu buka setelah selesai gereja pagi," tukasnya.