Sejarah Paskah, Berawal dari Tradisi Yahudi
Paskah bagi orang Kristiani memang berpusat pada peristiwa kebangkitan Yesus Kristus setelah disalib dan wafat selama tiga hari.
Penulis: | Editor:
Acara terakhir dalam Perjamuan Paskah adalah menyanyikan kidung pujian. ( Matius 26:30 dan Markus 14:26),
Dari penelusuran mengenai tradisi Perjamuan Paskah orang Yahudi ini, dapat sangat dirasakan khasanah yang khas kekeluargaan dan keharmonisan dalam keluarga. Kepala keluarga bertindak sebagai kepala atau pemimpin Perjamuan berupaya membawa semua peserta dalam keadaan barokhah atau mendapat berkat. Satu persatu diperhatikan dan dilayani sedemikian rupa dan adil serta sejahtera. Tidak ada yang terlewatkan.
Paskah Yesus Kristus
Yesus Kristus hidup dan menghidupi tradisi nenek moyang orang Yahudi. Maka salah satu tanda untuk menumbuhkan rasa ke-Yahudi-anNya, Dia berupaya menghidupi tradisi Yahudi dan ikut terlibat di dalamnya. Tentunya dengan cara dan konteks tertentu Yesus berupaya untuk memaknai secara baru Perjamuan Paskah-Nya.
Dalam Injil Matius 26:17-25 (juga dalam Mrk 14:12-21, Lk 22:7-14;21-23 dan Yoh 13:21-30), dikisahkan bagai mana Yesus menghendaki ingin merayakan Perjamuan Paskah bersama murid-muridNya., "waktuKu hampir tiba; di dalam rumahmulah, Aku mau merayakan Paskah bersama dengan murid-muridKu." Dari kisah ini jelaslah bahwa Yesus sangat
tertarik untuk melakukan Perjamuan bersama dengan murid-muridNya. Maka terjadilah perjamuan " Malam bersama" murid-muridNya. Yang kemudian terkenal dengan istilah,
Perjamuan Malam Terakhir bersama para murid. Mengapa demikian, karena setelah itu Yesus tidak lagi makan bersama dengan murid-muridnya. Dalam perjamuan Malam terakhir
itu, Yesus melakukan apa yang dilakukan oleh Kepala Keluarga Yahudi ketika memimpin Perjamuan Paskah. Persis seperti itu semua dilakukan oleh Yesus, hanya perbedaannya adalah; Yesus mengubah rumusan doa berkat atas roti dan anggur dengan kata-kataNya sendiri. Atas roti Yesus berdoa, " Ambilah, makanlah, Inilah Tubuhku." Dan atas
anggur Yesus berdoa; " Minumlah kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa." (Mat
26;26-28). Inilah yang dilakukan oleh Yesus Kristus ketika menetapkan Perjamuan Malam terakhir bersama muridNya. Ada kekhasan yang nampak dalam Perjamuan Yesus itu, yaitu dari awalnya Perjamuan Paska Yahudi menjadi Perjamuan Malam terakhir Yesus. Yesus melakukan suatu pemugaran dalam segi tertentu namun tidak mengubah esensinya.
Yesus mengganti doa berkat roti dan anggur dengan doa berkatNya sendiri. Suatu aliran pewarisan tradisi yang telah mengalami suatu pemugaran dengan makna baru yaitu dari perjanjian lama (Yahwe bersama Israel) ke dalam berjanjian baru (Yesus pokok perjanjian itu sendiri dengan umatNya = murid-muridNya).
Perjamuan Malam terakhir dan Penetapan Ekaristi
Para muridlah yang pertama menjadi peserta Perjamuan Malam terakhir bersama dengan Yesus Kristus. Perjamuan malam terakhir ini dipahami para murid sebagai perjamuan
Paskah seperti halnya orang-orang Yahudi pada saat itu. Di sinilah ada kesalahpahaman pengertian antara maksud para murid dengan Yesus sendiri. Para murid tidak mengerti. Namun dengan rentetan-rentetan peristiwa berkaitan dengan Yesus dan salibNya, maka lambat laun para murid menjadi mengerti. Suatu proses "untuk mengerti" harus melalui peristiwa hidup yang mungkin cukup tragis. Demikian juga yang dialami oleh Yesus.
Yesus bermaksud dengan perjamuan malam terakhir ini mau mengantisipasikan peristiwa yang akan menimpaNya. Itulah peristiwa salib, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.
Kata-kata Yesus dalam Perjamuan terakhir berupaya memberikan pengertian bagi murid bahwa, Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk dalam kemuliaanNya? (Lukas 24:26). Kata-kata dan doa Yesus Kristus dalam perjamuan terakhir ini adalah menggambarkan diri-Nya yang akan menjadi peristiwa salib. Yesus Kristuslah yang sebenarnya
menjadi Kurban pepulih dosa manusia. Jadi, melalui perjamuan malam terakhir inilah Yesus memberikan warisan yang takkan pernah pudar bagi para murid Kristus dulu dan