Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bencana di Sulut

Sona dan Wani Jadi Pemulung Dadakan

Dua warga terlihat mengais tumpukan sampah, Senin (24/2/2014) siang, tetes hujan yang makin lama semakin deras mulai membasahi

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pascabanjir bandang yang menerpa Manado, berbagai macam sampah yang dibuang di pinggir sepanjang Jalan Ringroad masih menumpuk hingga awal pekan ini.

Dua warga terlihat mengais tumpukan sampah, Senin (24/2/2014) siang, tetes hujan yang makin lama semakin deras mulai membasahi tubuh, kendaraan yang tak dihiraukan oleh pemulung.

Mereka serius menarik tumpukan-tumpukan sampah yang terdiri dari rerumputan, kaleng-kaleng bekas minuman bersoda,  perabotan rumah seperti sapu lantai yang sudah tak utuh lagi, gelas-gelas yang sudah pecah dan banyak lagi yang sudah tak jelas bentuknya karena dipenuhi lumpur kering.

Perempuan itu mengenakan kerudung biru, kaus tangan pendek biru dilapisi jaket hijau, celana panjang biru serta sendal jepit putih, tangan kanan memegang sekaligus dua tas hitam dan abu- abu.

Tas hitam berisi sweater abu-abu yang basah dengan lumpur, tas abu-abu berisi kaos cokelat yang juga basah dengan lumpur, tangan kirinya memegang penutup ember merah.

Sementara yang pria mengenakan baju hijau, kaus tangan pendek kuning, celana panjang merah tua, serta sendal jepit merah hitam, memegang setangkai bambu di tangan kanannya.

Mereka adalah dua pasangan suami istri, ibu Sona Haji (34) dan bapak Wani Abuna (46), yang tinggal di lingkungan 6 Kelurahan Paal IV Kecamatan Tikala. Mereka mencari barang- barang yang masih bisa terpakai. Barang-barang yang didapat dibawa pulang ke rumah dibersihkan lalu dipakai lagi.

Pekerjaan mereka setiap harinya adalah membuat batu tela. Tiap minggu bisa menghasilkan 2.500 buah, dengan harga per buah Rp 600. Jika dikalikan penghasilan per bulannya sebesar Rp 6 juta itupun kalau cuaca panas, jika hujan tidak ada penghasilan.

Sekarang mereka tidak bisa menghasilkan batu tela karena rumahnya dekat dengan penampungan maka tertutup lumpur. Mereka juga merupakan korban banjir, untuk makan seharinya masih menggunakan bahan-bahan bantuan seperti mie instan dan beras.

Mereka berharap pemerintah bisa memperhatikan tempat usaha sekaligus rumah mereka yang tertutup lumpur." Kami harap pemerintah bisa membersihkan rumah kami dari lumpur secepatnya," ujarnya. (handika dawangi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved