Editorial Tribun Manado

Kisruh Faked

Dia juga mengaku mendapat telepon dari orangtua mahasiswa yang berharap tak ada demonstrasi lagi.

TRIBUNMANADO/MAICKEL KARUNDENG
Ratusan alumnus dan mahasiswa saat melakukan unjuk rasa menolak Dekan Faked Unsrat. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Perasaan campur aduk mungkin lagi dialami mahasiswa, dosen, dan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Faked Unsrat). Puncaknya, Kamis (27/2/2014), mahasiswa, alumni, dan dosen kembali berunjuk rasa. Sayangnya, demonstrasi kali ini berujung bentrok massa dan satpam kampus. Massa sejak pagi sudah berkumpul di Aula Faked menuntut Rektor Prof Dr Donald Rumokoy dan Dekan Fakultas Kedokteran Prof Dr Ralp Kairupan mundur dari jabatannya. Satu per satu demonstran bergantian melakukan orasi.

"Intinya memang fenomenanya terjadi seperti ini. Saya tetap akan memimpin Faked. Mengenai demo, asalkan tidak mengganggu perkuliahan," ujar Kairupan seraya menambahkan, dirinya hanya menjalankan amanah. "Selama saya sudah ditunjuk oleh Rektor, tetap jalan. Kalau ada hal-hal yang dianggap mereka ilegal, dibuktikan di jalur PTUN atau jalur hukum. Jangan ada kegiatan demontrasi lagi yang mengganggu akademik." katanya.

Dia juga mengaku mendapat telepon dari orangtua mahasiswa yang berharap tak ada demonstrasi lagi. "Pasti semuanya akan berakhir dan indah pada waktunya," tandasnya.

Mahasiswa, alumni dan dosen tak hanya menggelar unjuk rasa di kampus. Mereka juga mendatangi kantor Gubernur Sulawesi Utara dan DPRD Sulawesi Utara. Menanggapi aksi mereka, Ketua Komisi IV DPRD Sulut, Rasky Mokodompit pun berjanji akan menyampaikan aspirasi mereka ke pemerintah pusat.

Masalah di Faked seharusnya tak rumit jika semua pihak mau berbicara dengan "kepala dingin". Hentikan segala macam sikap arogansi, sok paling berkuasa, apalagi sudah disusupi kepentingan politik kelompok tertentu. Kita harus sepakat dulu, segala upaya yang dilakukan demi satu tujuan, yakni memajukan pendidikan khususnya dunia kedokteran. Suksesi kepemimpinan di Faked harusnya dilakukan dengan cara lebih demokratis sesuai dengan aturan yang berlaku.

Sikap arogansi, sok kuasa, dan paling hemat sudah tak sesuai zaman. Ingat tren kepemimpinan dewasa ini telah beralih dan menjadi semakin aspiratif. Lihat saja kepemimpinan ala Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi atau sekelas Presiden AS, Barack Obama yang dikenal sangat familiar di hadapan masyarakatnya. Tak salahnya Pak Rektor lebih membangun sikap komunikasi dengan mahasiswa, alumni, dan para dosen untuk mendengarkan aspirasi mereka serta mencarikan solusi secara bersama.

Ingat kita telah memilih sistem demokrasi untuk berbangsa dan bernegara. Seyogyahnya sikap demokratif lebih ditonjolkan untuk proses penyelesaian masalah Faked. Sungguh memalukan, bila kampus sebagai tempat menggali kebenaran ilmu pengetahuan harus mengabaikan nilai-nilai ajaran demokrasi yang telah dianut secara universal. Kita berharap seluruh stake holder di Faked Unsrat lebih berbesar hati dan berjiwa negarawan untuk penyelesaian masalah ini. Semoga!

Penulis: Lodie_Tombeg
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved