Editorial Tribun Manado
Ekonomi Biru
Tak kalah fenomenal, peserta konvensi dari Sulawesi Utara (Sulut), Sinyo Harry Sarundajang atau SHS. Gubernur Sulut ini memukau panelis
Penulis: Lodie_Tombeg | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID - Konvensi calon presiden (capres) Partai Demokrat telah membawa angin segar bagi perkembangan demokrasi di tanah air. Capres yang biasanya dikuasai kalangan politikus, bekalangan ini, telah membuka ruang bagi siapa saja dan dari manapun asalnya untuk ikut bersaing memperebutkan jatah kursi capres partai politik (parpol) berlambang bintang mercy ini.
Tak kalah fenomenal, peserta konvensi dari Sulawesi Utara (Sulut), Sinyo Harry Sarundajang atau SHS. Gubernur Sulut ini memukau panelis dalam konvensi capres) Demokrat di Hotel Novotel Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (22/2/2014). SHS bersama 10 peserta lainnya memaparkan visi dan misi serta program kerja pada konvensi bertajuk "Debat Bernegara Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat". Debat bernegara kali ini mengambil topik utama tentang ekonomi dan hukum yang dikaitkan dengan pengelolaan sumber daya alam (SDA).
Pada sesi pertama tampil beberapa peserta konvensi, yaitu Pramono Edhie Wibowo, Dahlan Iskan, Irman Gusman, dan Anies Baswedan. SHS tampil bersama peserta lainnya seperti Ali Masykur Musa, Marzuki Alie, Gita Wirjawan, Dino Patti Djalal, Endriartono Sutarto, dan Hayono Isman.
Sarundajang tetap konsisten menyampaikan gagasannya tentang konsep blue economy (ekonomi biru), yaitu ekonomi dengan mengandalkan laut. Dia memberi contoh negara Cina yang mengandalkan jalur perdagangan melalui laut. "Mereka menjadikan laut sebagai fokus utama perdagangan. Karena mereka tahu siapa yang menguasai laut, menguasai perdagangan, dan menguasai dunia,"ujarnya.
Sarundajang mengatakan, siapapun yang akan dipilih sebagai presiden nanti, jika program pembangunannya mengembangkan dan mengandalkan potensi laut Indonesia yang maha luas ini diyakini akan mampu mendongkrak perekonomian dengan sendirinya akan menyejahterakan rakyat.
Setuju dengan pemikiran SHS. Logikanya sederhana. Wilayah Indonesia mencapai 5.193.252 Km2 yang terdiri atas 1.890.754 Km2 luas daratan dan 3.302.498 km2 luas lautan atau luas daratan hanya sekitar 1/3 (satu pertiga) dari luas seluruh Indonesia. Sedangkan 2/3 (dua pertiga) berupa lautan.
Kenyataannya, sampai saat ini, kita masih lebih mengandalkan sumber daya alam di darat ketimbang di laut. Pemikiran ekonomi biru yang lebih berkonsentrasi pada sektor perikanan dan kelautan sebenarnya sudah berkembang sejak era 1990-an, namun masih sebatas kajian akademis. Nah, SHS mencoba memeloporinya. Suatu konsep yang bertujuan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi dari sektor kelautan dan perikanan, sekaligus menjamin kelestarian sumber daya serta lingkungan pesisir dan lautan.
Model pendekatannya tidak lagi mengandalkan pembangunan ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan berlebihan. Konsep ekonomi biru dikembangkan untuk menjawab tantangan, bahwa sistem ekonomi dunia cenderung ekploitatif dan merusak lingkungan. Artinya, konsep ini merupakan penyempurnaan sekaligus perkayaan ekonomi hijau dengan semboyan "Blue Sky-Blue Ocean". Ekonomi tumbuh, rakyat sejahtera, langit dan laut tetap biru. Semoga! *