Renungan Minggu
Terobosan Iman
Terobosan juga merupakan sebuah sikap untuk mendobrak penghalang.
Oleh: Pdt Christian W Lasut STh MTh, Dosen STT Kalvari Manado
(Markus 5:24-43)
TEROBOSAN merupakan tindakan nyata atau riil. Terobosan juga merupakan sebuah sikap untuk mendobrak penghalang. Seperti seorang olahragawan pelari rintangan, atlet tersebut harus berlari dan melompati rintangan atau halangan. Dalam kitab Ibrani pasal 11 dijelaskan tentang dasar dan bukti dari iman. Dalam kitab itu ada 20 kali dijelaskan tentang iman dan ini merupakan penegasan atau pesan yang hendak disampaikan.
Iman yang menyelamatkan hanyalah iman yang benar-benar bergantung kepada Yesus Kristus. Keselamatan adalah kasih karunia Allah terhadap manusia, akan tetapi bukan berarti manusia mengabaikan perbuatan kasih. Sebab iman kepada Allah harus teraplikasi melalu perbuatan kasih terhadap sesama.
Ada empat pengertian iman dalam Perjanjian Baru, yakni Iman berarti percaya sungguh-sungguh Yesus Kristus yang telah disalibkan, bangkit kemudian naik ke surga. Dalam bahasa Yunani Phobos; percaya sepenuh hati. Dengan kata lain percaya kepada Kristus harus sepenuhnya. Pada bagian lain dijelaskan bahwa orang benar harus hidup oleh iman (Rom 1:17, 3:27;28, 5:1).
Iman meliputi pertobatan. Bertobat berarti berbalik dari dosa dengan penyesalan yang dalam. Jangan menjadi orang yang bebal, melainkan orang yang taat dan mau ikhlas dibentuk oleh Tuhan Yesus ( Yak 2:20;22). Pertobatan bukanlah sekadar janji tertulis atau spontanitas ataupun ungkapan lisan. Pertobatan harus disertai dengan perbuatan yang nyata, dengan tidak masuk pada "kubangan lumpur dosa" karena sudah disucikan oleh Allah. Methanoia pertobatan 180 derajat, artinya pertobatan yang sepenuhnya dan tidak berbuat dosa lagi.
Iman meliputi ketaatan kepada Firman-Nya. Kasih dan ketaatan tidak bisa dilepaspisahkan. Jika kita melakukan kasih maka kita harus mengerjakan ketaatan juga (Yoh 14:15,21,23). Iman meliputi pengabdian pribadi secara mutlak dan sepenuh hati (Mat 22:37). Kita mengasihi beriman dan mengasihi Tuhan harus sepenuh hati, sepenuh jiwa dan akal budi. Sepenuh hati merupakan refleksi dari iman kita yaitu dengan menjaga kekudusan dan kemurnian hati. Mengasihi dengan sepenuh jiwa berarti dengan karakter hidup kita, cara hidup kita kepada Tuhan Yesus. Sedangkan dengan akal budi berarti kita mengasihi Tuhan dengan pengetahuan dan hikmat yang Tuhan percayakan, baik pengalaman dengan Tuhan secara empiris ataupun melalui akademik.
Dalam kitab Markus 5:24-43, ada dua kisah nyata yang terjadi dalam perjalanan Yesus. Kisah yang pertama adalah anak Yairus seorang kepala rumah ibadat, sakit dan hampir mati (ayat 35). Dan yang kedua seorang perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun. Kedua kisah ini ada kesamaan yaitu anak Yairus berumur 12 tahun dan penderitaan yang dialami seorang perempuan selama 12 tahun. Jika kita memperhatikan pada ayat 35 di jelaskan bahwa anak itu sudah mati. Jadi dalam ayat 23 ditulis hampir mati, sedangkan ayat 35 sudah mati. Tapi cara pandang manusia dan Yesus sangatlah berbeda jauh. Ayat ini memperlihatkan kekawatiran dari keluarga Yairus, bahkan sebagian orang berusaha menghalangi untuk tidak menyusahkan Yesus.
Dan ayat 36 memperlihatkan sikap yang optimis, sikap tanpa ragu, Yesus mengatakan percaya saja dan jangan menghiraukan perkataan orang lain. Sebuah kalimat yang pasti dari Yesus dan pernyataan ini merupakan (bahasa Yunani; Polus plaguos; artinya Yesus menunjukkan sikap sangat berbelas kasihan). Kepala rumah ibadah ini melakukan sebuah terobosan yang tidak mudah. Dia harus berdesak-desakan untuk sampai kepada Yesus guna menyampaikan keluhannya. Kondisi yang tidaklah mudah, namun iman yang besar dari seorang kepala rumah ibadah memberikan perubahan dan mendapatkan jawaban dari Yesus. Demikian halnya kita, jika kita dalam kesulitan dan berbeban berat, carilah Yesus. Teroboslah semua rintangan dan pasti menemukan jawaban. Baik anak Yairus ataupun perempuan yang mengalami pendarahan, keduanya sama-sama membutuhkan pertolongan Tuhan. Terobosan iman tidak mudah karena ada banyak tantangan dan pengorbanan. Tetapi jika kita "mau" maka Tuhan pasti memampukan kita.
Apa hasil dari terobosan iman? Harapan baru. Mari kita perhatikan apa yang dilakukan perempuan ini. Ternyata selama 12 tahun berulang kali diobati oleh berbagai tabib, semua hartanya habis tetapi tidak ada faedahnya.
Yesus adalah tabib yang ajaib, perempuan ini tidak perlu mengeluarkan uang dan mentahbiskan hartanya, dia hanya perlu bertindak melakukan terobosan iman untuk bertemu Yesus (Yer 17:7). Perempuan ini menjadi yakin bahwa Yesus memiliki energi supranatural, kuasa ilahi yang tidak terbatas.
Tahan Uji (Yak 1:2-4). Menjadi anak Tuhan yang tahan uji. Sebab pekerjaan dan iman kita seyogianya diuji oleh Tuhan. Dan ujian dari Tuhan selalu memberikan progresivitas iman. Iman semakin bertumbuh hari lepas hari. Pengenalan akan Tuhan semakin nyata. Menjadi anak Tuhan yang sungguh, ketika kita mengalami ujian dan bisa keluar menjadi lebih dari pemenang, maka nilai kita tidak akan berkurang, kita tetap disebut anak Allah.
Hasil terobosan iman yang terakhir adalah kemenangan iman ( I Tim 6:12, 2 Tim 2:5). Kita mengatakan anak Tuhan yang lebih dari pada pemenang, akan tetapi banyak di antara kita yang tetap kalah dari hari ke hari. Kalah dengan dosa, kalah dengan masalah ekonomi, keluarga, pelayanan dan pekerjaan. Kita menjadi pasrah dengan keadaan. Seharusnya kita tidak perlu terpengaruh dengan keadaan yang tidak menguntungkan sekalipun. Perempuan ini dan Yairus mengalami kemengan iman. Kitapun sama dengan mereka yang bisa juga mengalami kemenangan iman. Jangan ragu dengan Tuhan. Amin. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua. (*)
Renungan Minggu ini dapat Anda simak di Tribun Manado edisi cetak terbit hari ini, Minggu (16/2/2014).